
Semua acara selesai juga, banyak sekali ucapan selamat dan do'a untuk baby Kayra. Yara merasa bahagia ketika dia bisa melihat bagaimana banyak orang yang ikut senang dengan kelahiran anaknya ini.
"Sayang, istirahat gih. Kamu pasti lelah sekali seharian ini" ucap Fadil, dia mengelus kepala istrinya dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Kamu juga pasti sangat lelah sekarang, istirahat juga Sayang. Lihat tuh bawah mata kamu sudah menghitam, pasti karena kurang tidur" ucap Yara, mengelus lembut pipi suaminya.
Fadil hanya tersenyum mendengar itu, dia memegang tangan Yara yang berada di pipinya. "Aku ada pekerjaan sebentar, jadi kamu tidur duluan saja"
Yara langsung cemberut mendengar itu, dia mengelus bagian bawah mata Fadil dengan jempolnya. "Kan, pasti selalu pekerjaan. Kamu juga harus jaga kesehatan Sayang. Habis capek menyiapkan acara ini, masih harus menyelesaikan pekerjaan. Apa tidak bisa besok saja?"
"Tidak bisa Sayang, aku harus menyelesaikannya malam ini" ucap Fadil.
Yara mneghela nafas pelan, jelas dia khawatir dengan keadaan suaminya yang terlalu kecapean dan kurang tidur. Apalagi dia selalu membantu Yara untuk menangani Kayra jika dia kebangun malam hari. Sementara paginya langsung bekerja.
"Sayang, jangan terlalu difoirsir tubuhnya. Kalau kamu sakit, aku bagaimana nanti? Apalagi Kayra juga masih bayi" ucap Yara, sudah memikirkan kesulitannya jika Fadil sampai sakit.
Fadil tersenyum mendengar itu, dia mengelus pipi Yara dengan lembut. "Aku akan baik-baik saja, aku selalu minum obat dan vitamin. Jadi kamu tenang saja"
Akhirnya Yara juga tidak bisa melarang suaminya untuk tidak menyelesaikan pekerjaannya malam ini. Jadi Yara menyiapkan minuman hangat untuk suaminya, dia tidak ingin sampai suaminya sakit.
"Sayang, aku buatkan teh jahe untuk kamu. Diminum ya agar badan kamu lebih nyaman"
Fadil tersenyum saat istrinya datang dengan membawa minuman untuknya. Fadil menatap secangkir teh yang disimpan Yara di atas meja. Lalu dia menatap istrinya dengan lembut, meraih tangannya dan mengecupnya.
"Terima kasih Sayang"
__ADS_1
Yara mengangguk, dia menarik kursi dekat meja kerja suaminya dan segera duduk disana. "Masih banyak pekerjaannya?"
"Sebentar lagi selesai, kamu tidur saja duluan" ucap Fadil.
"Cepat selesaikan dan segera tidur. Kamu besok juga harus bekerja. Harus jaga kesehatan dan pola tidur, tidak papa kalau Kayra bangun, biarkan aku saja yang bangun. Kamu tidak perlu ikut bangun" ucap Yara.
"Sayang, kita harus banyak kerjasama dalam merawat Kayra. Lagian aku tidak papa, kamu tenang saja"
Yara menghela nafas pelan, memang suaminya selalu saja seperti itu. Meski sebenarnya pasti dia sangat lelah sekarang. Tapi Fadil selalu berusaha untuk membantu Yara di malam hari jika Kayra tiba-tiba terbangun di malam hari.
"Kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu Sayang"
"Iya Sayang, iya. Sudah sana kamu tidur saja duluan. Aku akan segera menyusul nanti" ucap Fadil.
Ketika Yara terbangun malam ini ketika mendengar tangisan Kayra. Dia memangku Kayra di atas sofa sambil menysuinya. Sudah menjadi rutinitasnya ketika dia bangun malam dan harus menyusui Kayra yang sering terbangun di malam hari. Meski sedikit lelah, namun Yara menikmati masa-masa ini. Dia bahagia karena bisa merasakan sebuah proses menjadi seorang Ibu.
"Kasihan Ayah, pasti dia kelelahan sekali. Jam segini masih belum selesai bekerja" ucap Yara pelan.
Setelah bayinya kembali tidur, Yara segera melihat suaminya di ruang kerja. Dia sangat khawatir kalau sampai Fadil tidak tidur semalaman sementara besok pagi dia harus bekerja. Belum lagi dua hari ini dia juga dibuat sibuk dengan acara syukuran atas kelahiran Kayra.
"Sayang, kamu kenapa belum tidur juga?"
Fadil mendongak dan menatap istrinya yang melongokan wajahnya di balik pintu. Fadil melepas kacamata baca dan memijat pelipisnya pelan, terasa pening karena terus menatap layar komputer sejak tadi.
"Kamu kenapa belum tidur juga?" Tanya Fadil.
__ADS_1
Yara menghela nafas pelan, dia menghampiri suaminya itu. Berdiri di depan meja kerjanya dengan menatap lekat pada suaminya. "Aku kebangun karena Kayra ingin asi, tapi aku melihat kamu yang belum juga kembali ke kamar. Sayang, kamu harus menjaga kesehatan. Jangan membuat aku khawatir seperti ini"
Fadil tersenyum pelan, dia menjentikan jarinya ingin Yara untuk mendekat padanya. Yara pun segera mendekat pada suaminya, dia tahu apa yang di inginkan Fadil saat ini. Memeluknya dengan nyaman. Yara duduk di atas pangkuan suaminya itu.
Fadil menyandarkan dagunya di bahu Yara, mengecup lembut pipi istrinya itu. "Aku butuh waktu sebentar lagi untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Kamu tenang saja, kalau memang pekerjaan aku sudah selesai. Aku akan langsung istirahat"
Yara mendengus pelan, sejak tadi dia hanya mendengar kata sebentar lagi dan sebentar lagi dari suaminya itu. "Sayang, aku ingin kamu memperhatikan kesehatan kamu juga. Kenapa si kamu gak mau nurut sama aku, pekerjaan bisa di selesaikan besok lagi"
Fadil tersenyum mendengar ocehan istrinya itu. Entah kenapa dia malah merasa lucu saat ada yang mengomelinya seperti ini. Seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya, maka dia akan mengomel seperti ini. Tentu saja, karena Yara juga tidak mau kalau sampai suaminya sakit.
"Pekerjaan ini harus selesai besok pagi, jadi aku kerjakan malam ini. Kamu tenang saja karena aku baik-baik saja. Aku janji akan langsung istirahat setelah pekerjaan ini selesai" ucap Fadil.
"Terserah kamu saja, aku tahu pekerjaan memang lebih penting daripada kesehatan kamu. Jadi lanjutkan saja semua pekerjaan itu" tekan Yara, dia langsung berdiri dari duduknya dan pergi keluar dari ruang kerja suaminya itu.
Fadil hanya menghela nafas pelan, tentu saja dia juga mengerti kekhawatiran istrinya. Tapi Fadil tidak akan tenang jika pekerjaannya belum selesai. Jadi apapun yang terjadi, dia tetap harus menyelesaikan pekerjaannya ini.
Setengah jam kemudian, akhirnya Fadil menyelesaikan pekerjaan malam ini yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Dia meregangkan kedua tangannya dengan bersandar di sandaran kursi. Rasanya tubuhnya ini begitu lelah. Fadil segera berlalu ke kamar, dia harus melihat istrinya yang pastinya masih sangat kesal padanya.
"Aku harus membujuknya agar dia tidak marah lagi"
Ketika Fadil masuk ke dalam kamar, dia melihat Yara yang sedang mengganti popok Kayra. Fadil tersenyum tipis melihat dua bidadari dalam hidupnya itu. Ada bidadari cantik yang begitu sabar menghadapi sikapnya. Dan bidadari kecil yang menjadi pelengkap kebahagiaan di hidupnya ini.
"Sayang, biar aku saja yang ganti popok Kayra. Kamu tidur saja, sudah malam juga" ucap Fadil.
Yara langsung mendelik tajam pada suaminya itu, membuat Fadil langsung diam. "Kamu tidak sadar kalau sejak tadi kamu terus mengabaikan ucapanku. Yang seharusnya sekarang segera tidur itu, kamu. Bukan aku"
__ADS_1
Fadil tersenyum tipis mendengar ucapan Yara barusan. Istrinya ini benar-benar marah padanya. "Jangan marah seperti itu Sayang, aku minta maaf. Kamu jangan marah lagi ya"
Bersambung