
Rasanya untuk melewati semua ini memang tidak mudah. Bagaimana dulu Yara yang melewati banyak pengobatan menyakitkan hanya untuk kesembuhannya. Hingga semua rambutnya habis rontok. Tapi setelah berlalu selama ini dengan terus bersabar dan berusaha, akhirnya dia bisa melihat kembali rambutnya tumbuh di kepalanya ini.
"Terima kasih Yara Adistya, akhirnya kamu bisa bertahan sampai saat ini. Aku bangga padamu" ucap Yara pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Dan aku saja begitu berterima kasih pada tubuhmu dan dirimu yang begitu kuat selama ini"
Yara langsung menoleh dan tersenyum pada suaminya yang baru saja keluar dari ruang ganti. Yara langsung berdiri dan menghampiri Fadil yang sudah terlihat tampan dan siap dengan jas yang di pakainya. Yara menepuk pelan bahu Fadil, seolah sedang mengusir debu yang menempel disana.
"Suami aku sudah tampan sekali, pantas saja banyak wanita yang mengincarmu sejak dulu. Memang setampan ini ya" ucap Yara sambil terkekeh.
Fadil hanya tersenyum, dia mencubit gemas pipi istrinya itu. "Kamu baru sadar kalau suami kamu ini sangat tampan ya. Ya ampun, kemana saja kamu selama ini, Sayang"
Yara hanya terkekeh pelan mendengarnya, rasanya dunia sudah tidak sejahat dulu saat Yara sudah bisa menaklukannya. Bagaimana dia yang dulu mengalami banyak sekali cobaan dan rintangan. Namun akhirnya dia bisa melewati semuanya dan bisa sampai di titik bahagia ini.
"Terima kasih untuk semuanya, aku bahagia bisa bersama denganmu kembali" ucap Yara sambil menatap lekat mata suaminya.
Fadil mengecup bibirnya dengan lembut. "Karena aku juga sangat bahagia ketika aku bisa melihatmu sehat seperti ini. Jangan sakit lagi ya, kamu akan membuat aku mati dengan perlahan saat melihatmu sakit seperti itu"
Yara hanya tersenyum saja, tentu saja dia tidak akan pernah melupakan apa saja yang sudah mereka lalui sampai bisa di titik ini. Namun, akhirnya dia bisa mengerti bagaimana suaminya ini pernah melakukan kesalahan yang bahkan dia sendiri tidak pernah yakin dengan keputusannya saat itu. Tapi lihatlah sekarang, perubahan Fadil itu memang nyata. Membuat Yara tidak pernah menyesal untuk memberikan kesempatan kedua padanya.
"Aku mencintaimu Sayangku" ucap Fadil, dia mengecup kening Yara dengan begitu dalam.
__ADS_1
Yara hanya diam dengan memejamkan matanya, menikmati sentuhan hangat bibir Fadil di keningnya.
*******
Masuk ke dalam Resataurant, Yara selalu berdebar karena hari ini dia kembali merayakan hari pernikahannya. Tidak menyangka akhirnya mereka bisa bertahan sampai selama ini. Bagaimana awal hubungan mereka yang begitu banyak rintangan, hingga akhirnya dia bisa sampai di titik ini.
Duduk berhadapan dengan meja bundar di depan mereka. Suasana yang begitu romantis, bagaimana dengan riasan yang begitu indah. Lihatlah bagaimana kelopak bunga mawar yang bertebaran di sekitar ruangan ini. Belum lagi lilin aromaterapi yang menyala dan membuat suasana begitu nyaman.
Yara melirik ke sekelilingnya, sungguh hari ini adalah sebuah kebahagiaan yang tidak pernah terduga. Menjalani rumah tangga selama tiga tahun lamanya setelah banyak sekali rintangan yang harus di hadapi. Tapi memang semuanya tetap akan bisa dihadapi ketika kedua orang yang membina rumah tangga ini bisa menghadapinya dengan bersama.
"Selamat Anniversarry, Sayang. Tidak menyangka ya kita bisa sampai tiga tahun lamanya. Padahal terasa baru kemarin kita menjalani pernikahan" ucap Fadil, dia tersenyum penuh bahagia.
"Bukalah, ini adalah hadiah untuk hari pernikahan kita kali ini. Semoga setelah ini, kita bisa lebih baik lagi dan semakin saling mencintai dan juga menyayangi" ucap Yara.
Fadil tersenyum, dia mengambil kotak itu dan segera membukanya dengan tidak sabar. Namun dia langsung terdiam ketika melihat apa yang berada di dalam kotak itu. Sebuah kertas kecil hasil USG dan juga alat tes kehamilan yang menunjukan garis dua. Fadil langsung mengambil dua benda itu dengan tangan bergetar, dia menatap Yara dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Sayang, kamu?" Fadil seolah tidak bisa berkata-kata lagi, hanya tatapannya yang penuh tanya.
Yara tersenyum dan mengangguk, dia meraih tangan Fadil yang berada di atas meja dan menggenggamnya. "Aku juga tidak menyangka, akhirnya aku bisa mewujudkan mimpi kita berdua dengan pernikahan ini"
Air mata Fadil menetes begitu saja, rasa bahagia yang membuncah dan tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata apapun saat ini. Dia mengecup punggung tangan Yara dengan air matanya yang kembali menetes, mengenai punggung tangan Yara.
__ADS_1
"Akhirnya Tuhan mewujudkan apa yang kita inginkan. Bahkan aku saja tidak pernah menyangka jika Tuhan juga mendengar do'a yang selama ini selalu aku ucapkan. Aku yang selalu berharap bisa memberikan hadiah ini di saat kita merayakan hari Anniversarry ini. Namun, ternyata Tuhan begitu baik dan sekarang aku bisa mewujudkan mimpiku itu"
Fadil mengangguk, dia mengusap sisa air matanya. Tentu saja dia sangat bahagia karena akhirnya bisa melihat senyuman merekah dari istrinya yang selama ini selalu menginginkan seorang anak hadir dalam rahimnya itu.
"Ternyata kita bisa melewati semua ini, akhirnya harapan kita terwujud juga"
Hari ini adalah kebahagiaan yang tidak terkira. Sebenarnya Yara sudah pernah melakukan tes kehamilan itu satu minggu yang lalu. Namun dia seolah tidak percaya dengan hasilnya, semuanya hanya karena dia yang tidak terlalu percaya diri dengan dirinya sendiri.
Namun, ketika tadi pagi dia ke Dokter dan mendengarkan penjelasan Dokter jika dirinya memang sedang hamil. Yara sungguh tidak menyangka akan mendengar kabar baik itu. Tapi sengaja dia meminta Dokter untuk menyembunyikan semuanya dari Fadil, karena dia yang ingin memberikan hadiah yang spesial untuk suaminya di malam ini.
Makan malam kali ini, begitu dipenuhi kebahagiaan kedua orang ini. Fadil yang terlihat sangat bahagia dengan kabar yang dia dapatkan, hingga dia memberikan banyak makanan ke atas piring Yara hanya karena ingin istri dan calon anaknya itu makan dengan baik.
"Kamu harus makan yang banyak, karena sekarang ada bayi mungil di dalam perutmu yang harus kamu jaga" ucap Fadil.
Yara tersenyum mendengar ucapan Fadil itu, tentu saja dia juga akan menjaga dengan baik kehamilannya ini. Apalagi dia yang begitu mengharapkan hari ini, sudah sejak lama.
"Dia masih menjadi bentuk gumpalan darah, jadi belum berbentuk menjadi bayi mungil" ucap Yara.
Fadil hanya tersenyum saja, masih tidak menyangka kalau di pernikahannya ke tiga tahun ini dia akan mendapatkan hadiah begitu besar seperti saat ini. Sungguh Fadil sangat bahagia sekali yang tidak bisa lagi dia ungkapkan dengan kata-kata.
Bersambung
__ADS_1