Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 2 (Yang Terpenting Adalah Kesembuhanmu)


__ADS_3

Malam hari, Fadil baru saja pulang dari Kantor. Dia melihat Yara  yang sedang menunggunya di ruang tengah. Fadil menghela nafas pelan, dia memang masih kesal pada istrinya yang mengatakan hal seperti itu tadi pagi. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Yara begitu saja saat ini. Apalagi saat dia melihat Yara yang sudah mulai mengantuk. Televisi yang menyala sudah tidak lagi menjadi fokusnya.


"Kamu belum tidur? Kalau sudah ngantuk tidur di kamar" ucap Fadil yang masih terdengar begitu dingin. Mungkin dia yang masih kesal pada Yara.


Yara mengerjap pelan, dia yang sudah mengantuk sampai sedikit kaget mendengar suara suaminya barusan. Segera menoleh dan berdiri di depan suaminya. Yara meraih tangan Fadil dan mencium punggung tangannya dengan lembut.


"Sayang, kamu kenapa lambat pulang kerja hari ini?" tanya Yara.


Fadil tidak menjawab, dia menatap istrinya itu dengan lekat. "Masih bertanya aku kenapa? Kamu jelas tahu kenapa aku malas pulang ke rumah hari ini sampai aku harus pulang malam"


Yara menundukan wajahnya, dia jelas melihat kekesalan dari wajah suaminya. Mungkin ucapannya tadi pagi memang sudah membuat Fadil begitu marah padanya. Tapi Yara hanya mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya saja, dia tidak bermaksud lain.


"Aku minta maaf kalau membuat kamu marah" ucap Yara.


"Bukan itu yang ingin aku dengar darimu" ucap Fadil yang langsung berlalu pergi dari hadapan Yara.


Yara menghela nafas pelan, dia menatap punggung suaminya yang berjalan menaiki anak tangga. Yara meraih remote televisi dan mematikan layar televisi yang menyala itu. Lalu dia segera menyusul suaminya ke lantai atas.


Masuk ke dalam kamar, Fadil tidak ada disana. Mungkin dia sedang mandi, dan Yara pun segera menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Sebenarnya yang membuat dia marah memang karena aku yang memintanya untuk jujur jika ingin menikah lagi dan merasa kalau aku memang tidak lagi bisa membuatnya bahagia. Tapi, kenapa dia tidak menerima permintaan maaf dariku barusan?"


Yara yang kebingungan dengan sikap Fadil saat ini. Suaminya ini memang sulit untuk ditebak. Yang jelas Yara memang harus banyak bersabar menghadapi sikap Fadil yang seperti ini.

__ADS_1


"Ah, mungkin dia hanya sedang lelah karena banyak pekerjaan di Kantor"


Yara kembali ke dalam kamar setelah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya di ruang ganti. Hingga beberapa saat kemudan, Fadil keluar dari ruang ganti. Dia sudah terlihat segar setelah mandi.


"Tidurlah, tidak baik tidur terlalu malam untuk kamu" ucap Fadil.


Yara menoleh dan melihat suaminya yang berjalan ke arahnya. Fadil naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Yara. Hal itu tentu membuat Yara merasa tidak nyaman. Biasanya suaminya akan memeluknya ketika mereka tidur bersama seperti ini.


"Fadil, apa kamu masih begitu marah sama aku? Aku minta maaf kalau memang sudah membuat kamu kesal dan marah" ucap Yara, menatap punggung Fadil yang berada di depannya saat ini.


Fadil menghembuskan nafas pelan mendengar ucapan Yara barusan. Tentu saja dia juga tidak tega melihatnya sedih seperti ini sekarang. Tapi Fadil benar-benar merasa sangat kesal dengan ucapan Yara di pagi hari. Bagaimana dia yang seolah tidak percaya pada cintanya dan kesetiaannya sampai menyangka jika Fadil akan menikah lagi jika Yara tidak bisa memberikannya  keturunan.


"Aku tidak suka kau membahas tentang pernikahan lagi. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menikah lagi dengan siapapun. Hanya kamu yang akan menjadi istri aku" ucap Fadil, masih memunggungi Yara.


Mendengar itu, membuat hati Yara begitu tersentuh. Menyadari kalau suaminya memang sudah berubah sekarang. Sampai Fadil yang dulu pernah berkhianat, sekarang kembali lagi menjadi seorang Fadil yang setia.


Fadil langsung berbalik badan, dia menatap Yara dengan lekat. "Aku bukan butuh kesempurnaan dari seseorang yang mendampingiku. Tapi aku butuh seseorang yang bisa melengkapi kekuranganku"


Yara terdiam mendengar itu, dia menatap mata tajam suaminya dengan lekat. Sekarang tidak ada lagi terlihat sebuah kebohongan dibalik tatapan mata itu. Yara tahu jika Fadil sudah sangat menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


Pengkhianatannya saat itu hanya karena dia ingin melampiaskan sebuah kebosanan dari setiap rutinitas hidupnya dan kebersamaannya dengan Yara yang terkadang membuat dia bosan. Tapi sekarang Fadil sadar kalau tidak ada wanita yang bisa menemaninya dari titik nol seperti Yara.


"Sekarang, kamu tidak perlu memikirkan kita akan punya anak atau tidak. Semuanya kita serahkan saja pada Tuhan. Kamu hanya perlu fokus pada kesehatanmu untuk saat ini" ucap Fadil sambil mengelus pipi Yara.

__ADS_1


Mengingat itu membuat Yara menghela nafas pelan. Dirinya yang memang belum benar-benar sehat, membuat dia harus terus bergantung pada obat-obatan yang akhirnya mempengaruhi kesuburan dalam dirinya.


"Seharusnya satu tahun berlalu dari pengobatan aku selesai, aku sudah harus lepas dari semua obat itu. Tapi kenapa masih harus bergantung pada obat-obatan itu?" ucap Yara dengan segala rasa lelah dan keputus asaannya.


"Hey.." Fadil langsung menarik tubuh Yara ke dalam pelukannya. Dia mengecup lembut kening istrinya itu. "...Kamu pasti akan segera lepas dari semua obat itu. Yang terpenting sekarang, kamu harus tepat waktu untuk minum obatnya biar nanti kamu bisa segera terlepas dari obat-obatan itu"


Yara hanya menghela nafas pelan, dia juga mengerti maksud dari ucapan Fadil barusan hanya untuk mencoba menyemangati Yara agar terus meminum obat dari Dokter. Padahal Yara yang sudah lelah dan bosan dengan semua obat yang diberikan Dokter padanya.


"Sudahlah, sekarang kamu tidur ya. Besok kita akan hadir ke acara pesta rekan kerja aku" ucap Fadil.


Yara langsung mendongak dan menatap suaminya. Dia tidak tahu sebelumnya dengan acara ini. "Acara apa Sayang? Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin"


"Acara ulang tahun anaknya rekan kerja aku, kan aku sudah bilang sama kamu waktu itu" ucap Fadil.


Yara mengingat-ngingat, sampai dia ingat kalau Fadil memang pernah bicara tentang undangan pesta dari rekan kerjanya. "Aku gak usah ikut saja ya. Kamu berangkat sendiri saja"


Fadil langsung menatap Yara dengan kening berkerut dalam. "Kenapa? Masa aku datang sendiri disaat aku sudah punya istri"


Yara terdiam, bukan dia tidak mau menghadiri acara itu dengan Fadil. Tapi dia ingat penampilannya saat ini. Dia yang masih harus menggunakan penutup kepala untuk menutupi kekurangannya ini. Tubuhnya yang masih kurus kering dan wajah yang masih terlihat pucat. Dia malu dengan penampilannya ini. Takut juga akan membuat Fadil malu karenanya.


"Gak papa, aku malas saja datang ke pesta. Keramaian malah membuat aku tidak nyaman" ucap Yara, mencoba saja untuk mencari alasan.


Fadil menggeleng pelan, dia mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Kau tetap harus ikut, karena mau bagaimana pun kau adalah istriku. Dan aku mau istriku ada disampingku di acara itu"

__ADS_1


Penegasan Fadil itu membuat Yara terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Bersambung


__ADS_2