
Akhirnya ketika kehamilan Yara menginjak tiga bulan, dia baru mengabari yang lainnya tentang kehamilan yang sedang berjalan ini. Hingga hari ini, Sarah dan Keanu sengaja datang. Bagaimana semuanya terlihat sangat bahagia dengan kabar yang diberikan Yara. Sungguh Yara juga sangat bahagia melihat semuanya mendo'akan atas kehamilan Yara ini.
"Lagian kamu kenapa tidak bilang kalau memang sudah hamil. Dasar ih, padahal aku sudah menunggu masa-masa ini tahu" ucap Sarah.
Yara hanya tersenyum, dia mengelus bayi dalam gendongan Sarah yang sedang asyik meminum asi dari Ibunya. "Sudah sebesar ini ya, bayi mungil yang aku gendong waktu itu. Sudah bisa apa, Mbak?"
Sarah langsung tersenyum, seorang Ibu yang selalu antusias ketika menceritakan tentang pertumbuhan anaknya. "Dia sudah mulai bisa berjalan dan sekarang sudah mulai berceloteh meski terkadang tidak terlalu jelas"
Yara tersenyum mendengar itu, sungguh dia membayangkan jika nanti dia juga akan melihat pertumbuhan anaknya itu. Sungguh Yara sudah tidak sabar dengan waktu itu. Dimana anaknya akan berjalan dan berlari ke arahnya.
"Ra, apa kamu tidak merasa mual atau apa gitu?" tanya Ajeng yang baru saja bergabung dengan mereka setelah menidurkan anak keduanya di kamar tamu.
Yara menggeleng pelan, dia juga bingung kenapa setelah dia tahu kalau dia hamil. Dia tidak lagi muntah-muntah di pagi hari. Tapi sebelumnya, dia sempat merasakan itu.
"Aku tidak muntah-muntah lagi, entahlah tapi memang sekarang aku bisa makan apa saja yang aku mau" ucap Yara.
"Wah enak itu, hamil seperti itu tidak akan membuat kamu mual hanya karena mencium bau bawang goreng" ucap Putri Ajeng yang pernah mengalami hal itu di kedua kehamilannya.
"Pas awal-awal iya, aku juga pernah merasa mual hanya karena mencium bau bawang goreng. Tapi makin kesini, biasa saja tuh. Aku tidak merasakannya lagi" ucap Yara.
"Lebih baik seperti itu saja, jadi kamu bisa makan apa saja yang kamu mau tanpa rasa mual. Bagus juga semakin banyak nutrisi yang masuk untuk bayi kamu" ucap Sarah.
Yara hanya mengangguk saja, dia mengelus perutnya yang mulai sedikit terlihat lebih besar dari sebelumnya. Dia bersyukur sekali karena calon bayinya ini begitu mengerti dengan keadaannya. Bagaimana Yara yang bisa makan apa saja yang dia mau, tanpa rasa mual seperti yang dialami banyak wanita hamil lainnya.
__ADS_1
"Ah, mungkin anakku ini memang sangat baik. Jadi tidak mau menyusahkan Ibunya" ucap Yara.
Sarah dan Putri Ajeng langsung mengangguk, mereka tersenyum penuh bahagia dengan kehamilan Yara kali ini. Apalagi untuk Putri Ajeng yang pernah banyak sekali melakukan kesalahan pada Yara. Membuat dia tidak akan pernah bisa melupakan semuanya. Jadi ketika sekarang melihat Yara bahagia, setidaknya Putri Ajeng bisa memastikan kalau Yara ternyata sudah menemukan kebahagiaannya setelah banyak luka yang dia ciptakan dihatinya.
Aku senang melihatnya bahagia, Ya Tuhan. Karena rasa bersalah itu masih saja ada.
*******
Kehamilan Yara yang semakin membesar, membuat Fadil semakin siaga untuk menjaganya. Selalu menuruti semua keinginan Yara, karena dia tahu jika semua keinginan Ibu hamil itu harus di turuti.
Namun berbeda dengan Yara, ketika kehamilannya yang baru saja tujuh bulan itu tapi berat tubuhnya sudah naik begitu banyak. Dia selalu merasa frustasi dengan berat tubuhnya yang terus naik. Apalagi ketika melihat kakinya yang sudah seperti kaki gajah, membuat dia tidak percaya diri.
Yara berdiri di depan cermin, bahkan dia sudah harus membeli beberapa pakaian yang ukuran besar seperti dulu saat dia masih bertubuh gendut. Karena sekarang tubuhnya juga semakin berisi. Pipinya yang dulu tirus, sekarang kembali terlihat sangat chubby lagi.
"Ah, bagaimana ini? Kenapa berat tubuhku jadi naik terus seperti ini. Padahal aku sudah sangat berusaha menjaga berat tubuhku agar tetap kurus"
"Sayang, kamu sedang apa? Kenapa lama sekali"
Fadil yang muncul di balik pintu ruang ganti ketika dia menunggu istrinya, namun terasa sangat lama sekali. Sampai dia menyusul Yara ke ruang ganti dan dia melihat istrinya sedang bercermin di depan cermin besar di sudut ruangan.
Yara berbalik, dia tersenyum tipis pada suaminya itu. "Tidak papa, aku hanya merasa tidak cocok saja dengan pakaian ini"
Fadil berjalan mendekatinya, dia mengelus pipi Yara dengan lembut. "Kamu akan selalu terlihat cantik dengan pakaian apapun. Sudah, jangan terlalu memikirkan pakaian yang akan kamu pakai. Lagian kita hanya akan makan malam diluar"
__ADS_1
Yara mengangguk pelan, dia juga bingung kenapa dia harus memikirkan tentang penampilannya, padahal mereka memang hanya akan makan malam diluar saja dan tidak ada acara spesial juga.
"Yaudah kalau gitu aku pakai yang ini saja" ucap Yara.
Fadil mengangguk, dia mengecup kening istrinya itu dengan lembut. "Tentu saja, lebih baik kamu memakai pakaian ini saja"
Dan mereka pun segera pergi ke luar kamar. Malam ini memang sengaja Fadil mengajak istrinya untuk makan malam diluar, karena dia tahu kalau Ibu hamil itu gampang sekali bosan jika terus berada di rumah. Jadi, sesekali Fadil akan mengajak Yara untuk pergi keluar untuk makan dan jalan-jalan sebentar.
"Sayang, kalau sekalian kita membeli beberapa barang saja bagaimana?" tanya Yara, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
Fadil mengangguk pelan, sepertinya memang harus seperti itu. "Baiklah, tapi beli sebagian saja dulu. Karena hari sudah malam dan tidak baik Ibu hamil terlalu kelelahan di malam hari seperti ini"
Yara mengangguk, dia mengelus perutnya yang membuncit itu. Membayangkan dia akan membeli beberapa barang yang nantinya akan digunakan oleh anaknya ini. Membayangkannya saja, sudah membuat Yara bahagia.
Sampai di Restuarant, mereka langsung memesan beberapa makanan. Yara langsung tidak bisa menahan diri ketika dia melihat makanan di atas meja. Padahal dai sadar kalau berat tubuhnya sudah melebihi batas ideal.
"Ayo dimakan Sayang, kan semua ini makanan kesukaanmu. Kok malah dilihatin aja" ucap Fadil.
Yara menghela nafas pelan, rasanya memang dia ingin memakan semua makanan yang berada di atas meja saat ini. Namun, dia ingat kalau berat tubuhnya ini sudah sangat melebihi batas.
"Sebenarnya aku ingin makan semuanya, tapi aku ragu" ucap Yara.
Fadil langsung menatap istrinya dengan kening berkerut bingung. "Loh kenapa harus ragu? Kalau memang kamu menyukainya, kamu bisa makan semuanya. Habiskan saja, kalau tidak cukup nanti kita bisa pesan lagi"
__ADS_1
Lagi, Yara kembali menghela nafas pelan. Menatap semua makanan yang begitu menggiurkan. "Sebenarnya aku juga ingin makan ini semua. Tapi berat tubuhku terus naik"
Bersambung