
Jelas Fadil tahu kalau istrinya itu hanya takut kalau dia akan melakukan kesalahan yang sama, hingga Yara berusaha keras ingin menurunkan berat badannya karena dulu dia menganggap Fadil mengkhianatinya karena bentuk tubuhnya ini.
"Yara, ada yang perlu kamu tahu jika saat itu aku berpaling bukan karena bosan dengan bentuk tubuh kamu. Tapi sebenarnya aku hanya merasa bosan dengan rutinitas yang aku lakukan selama ini. Merasa jika Putri Ajeng datang dengan segala kesempurnaannya, membuat aku berpikir jika aku mulai bosan dengamu. Tapi nyatanya tidak. Yang membuat aku bosan hanya karena aktivitas aku seharian ini" ucap Fadil.
Yara terdiam sejenak, mungkinkah memang dia salah mengartikan semuanya. Bisa saja kalau memang Fadil hanya merasa bosan dengan segala kegiatan dan aktivitas yang dilakukannya bersama dengan Yara selama ini. Kebiasaan yang sering mereka lakukan bersama. Mungkin saja semua itu membuat Fadil merasa tidak nyaman.
"Tapi apa sekarang kamu juga akan kembali bosan dengan kegiatan dan kebiasaan yang kita lakukan? Kita sudah punya Kayra, kamu jangan sampai bosan lagi ya" ucap Yara, jelas dia merasa takut kejadian di masa lalu bisa terulang kembali.
Fadil turun dari atas tempat tidur, berjalan menghampiri istrinya di atas sofa. Duduk disampingnya, mereka berdua saling melempar tatapan.
"Kau tahu, aku sudah terjebak begitu lama dengan sebuah penyesalan dan rasa bersalah. Bahkan sampai sekarang aku belum bisa terbebas dari semuanya. Jadi kalau memang kamu takut aku melakukan kesalahan yang sama, mungkin aku juga akan berpikir dua kali. Karena penyesalan ini sungguh menyiksaku" ucap Fadil, menatap lekat mata Yara.
Yara memalingkan wajahnya seketika, entah kenapa mendengar ucapan Fadil barusan malah membuat pipinya terasa memanas. Mungkin Yara begitu tersentuh dengan ucapan Fadil brusan.
"Aku percaya padamu, karena selama ini yang aku punya hanya sebuah ketulusan dan kepercayaan" ucap Yara.
Mendengar semuanya membuat Fadil terdiam, pastinya ada rasa syukur yang tidak bisa Fadil ucapkan lagi dengan kata-kata. Memiliki wanita seperti Yara adalah kebahagiaan yang tidak akan bisa dia lupakan.
Terima kasih Tuhan, karena aku masih diberikan kesempatan untuk bisa kembali bersama dengan wanita bersayap malaikat ini.
Yara menoleh kembali pada Fadil setelah dia rasa cukup tenang, bahkan jantungnya saja sampai berdebar kencang mendengar ucapan Fadil barusan. Apalagi ketika dia melihat tatapan mata suaminya itu yang terlihat begitu tulus.
"Sudahlah, tidak perlu membahasnya lagi. Sekarang lebih baik kita melihat saja masa depan yang mungkin akan lebih indah. Tapi kita juga harus tetap bertahan jika suatu saat nanti akan ada sebuah cobaan lain menimpa keluarga kita ini. Karena hanya dengan terus bersama, maka kita akan bisa menyelesaikan semuanya" ucap Yara.
__ADS_1
Fadil mengangguk mendengar itu, tentu saja dia tidak akan pernah melepaskan Yara lagi. Karena memang hanya Yara yang bisa menemaninya melewati segala kesulitan dalam hidupnya ini.
Fadil menyandarkan kepalanya di bahu Yara, tentu saja dia hanya membutuhkan kenyamanan ini saat bersama dengan istrinya. "Terima kasih untuk semuanya. Kamu sudah membuat hidupku penuh warna kebahagiaan"
Yara hanya tersenyum saja, dia mengelus kepala Fadil dengan lembut. Suhu tubuhnya masih terasa panas, meski sudah sedikit turun. "Sebaiknya kamu istirahat sana, malah kesini. Aku mau menidurkan dulu Kayra. Nanti aku buatkan makanan untuk kamu. Mau aku buatkan apa?"
"Kamu disini saja, temani aku tidur. Aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk kamu" ucap Fadil dengan manja.
Yara menghela nafas pelan dengan menggeleng pelan, suaminya ini memang berubah menjadi sangat manja kalau sedang sakit seperti ini. Yara seolah mempunyai dua bayi sekarang.
"Yaudah, kamu duluan ke tempat tidur sana. Aku mau menidurkan Kayra dulu" ucap Yara.
Fadil mengangguk pelan, dia mengecup pipi istrinya sebelum kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana. Menunggu Yara segera menyusul karena dia ingin segera memeluk istrinya itu.
Malam ini setelah mengganti popok Kayra dan kembali menidurkan anaknya itu. Yara malah sulit untuk kembali tertidur, dia hanya diam sambil duduk menyandar di atas tempat tidur. Melirik suaminya yang masih terlelap sampai saat ini.
Yara mengecek suhu tubuh suaminya yang ternyata sudah turun. "Syukurlah kalau sudah turun panasnya. Aku lega"
Melihat Fadil sakit seperti ini, selalu membuat Yara begitu khawatir. Dia takut kalau sampai suaminya kenapa-napa, maka dirinya tidak akan tahu seperti apa hidupnya saat harus hidup tanpa Fadil lagi di sisinya. Tentu saja karena sejak dulu mereka begitu mempunyai ketergantungan tersendiri, mungkin hal ini yang membuat keduanya tidak bisa berpisah. Meski sudah pernah mencoba.
"Emmhh.." Fadil bergumam pelan, dia langsung meraih tangan Yara dan menggenggamnya di dadanya. Selalu merasa lebih nyaman saat dia tahu kalau Yara sedang berada di sampingnya.
"Kenapa bangun?" tanya Fadil, dia membuka matanya dan melihat istrinya yang sedang mengelus keningnya dengan lembut.
__ADS_1
Yara tersenyum, dia menatap suaminya dengan penuh cinta. Tangannya masih memainkan rambut Fadil, dengan tangan satunya yang masih berada dalam genggaman Fadil.
"Aku habis ganti popok Kayra dan berikan asi. Tapi malah susah kembali tidur" ucap Yara.
Fadil tersenyum, dia mengecup tangan Yara yang berada di dalam genggamannya ini. "Mulai besok, kita sudah harus mencari pengasuh untuk Kayra. Kamu juga tidak bisa terus bangun malam seperti ini untuk menjaga Kayra di malam hari. Apalagi kalau aku sedang tidak enak badan seperti ini, pastinya kamu akan keributan sendiri"
Yara terdiam sebentar mendengarnya, sebenarnya dia masih ingin merawat anaknya itu seorang diri. Karena Yara tidak mau kalau sampai anaknya lebih dekat dengan pengasuhnya, daripada Ibunya sendiri. Tapi yang diucapkan Fadil juga cukup benar. Yara tidak bisa terus-terusan menjaga Kayra dengan baik, disaat suaminya sakit seperti ini.
"Sayang, sebenarnya aku masih menikmati masa-masa menjadi Ibu saat ini. Jadi aku masih ingin merawat Kayra sendiri" ucap Yara.
Fadil tersenyum tipis, dia mengelus pipi Yara dengan lembut. "Aku tahu kalau kamu pasti sangat menikmati saat menjadi Ibu saat ini. Tapi kamu juga tidak bisa terus seperti ini, selalu kebangun tengah malam. Aku tidak mau kalau sampai kamu sakit. Lagian aku juga masih butuh kamu urusi"
Yara terkekeh pelan, sepertinya dia sadar kalau sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh Fadil ini hanya karena dia merasa kalau Yara sedikit mengabaikannya sejak mempunyai Kayra. Memang suami manjanya ini sedikit berbeda, dengan anaknya sendiri saja dia takut tersaingi.
"Sayang, sebenarnya kamu ingin carikan pengasuh untuk Kayra hanya karena kamu tidak ingin aku mengabaikanmu 'kan?"
Fadil hanya tersenyum saja mendengar ucapan Yara yang dipenuhi dengan nada tuduhan itu.
"Ck, tenang saja Sayangku. Kamu tidak akan pernah kehilangan kasih sayangku dan cintaku. Karena rasa sayang aku pada kamu dan Kayra, tentunya berbeda. Kamu tidak perlu takut untuk hal seperti ini" ucap Yara.
Akhirnya Fadil hanya mengiyakan saja. Meski begitu dia tetap membuat kesepakatan dengan Yara, jika mereka akan menggunakan pengasuh saat usia Kayra satu tahun.
Bersambung
__ADS_1