
"Mbak, tolong bawa Sherin main ya"
Sarah memanggil pengasuh Sherin untuk membawa anak itu. Sarah tahu jika pembahasannya saat ini mungkin akan sedikit sensitif. Sarah menatap Putri Ajeng dengan lekat.
"Mau membicarakan apa?"
Ajeng menghela nafas pelan, dia menatap Kakaknya dengan mata yang berkaca-kaca. "Sepertinya mulai saat ini aku sudah siap untuk merawat Sherin. Kak, aku sadar jika hidup aku mulai merasa kesepian sejak Kakak pindah kesini. Setidaknya kalau ada Sherin, aku tidak akan lagi kesepian"
Rasanya Sarah masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari adiknya ini. Setelah satu tahun lebih, Putri Ajeng baru mau merawat anak yang dia lahirkan itu. Benar-benar suatu keajaiban mengingat bagaimana kerasnya dia ketika menolak untuk merawat anaknya sendiri.
"Kamu yakin? Merawat anak kecil itu harus dengan kesabaran yang tinggi dan juga harus dengan kasih sayang yang tulus"
Putri Ajeng mengusap kasar air mata yang menetes begitu saja di pipinya. "Aku sadar Kak, jika selama ini memang aku sudah banyak bersalah dan berdosa pada Tuhan. Dan sekarang aku sedang mencoba memperbaiki diriku sendiri. Aku ingin merawat anakku Kak, menebus segala kesalahan yang pernah aku lakukan pada Sherin yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang masalah orang tuanya"
Sarah tersenyum haru mendengarnya, dia beralih duduk menjadi di samping adiknya. Memeluk Putri Ajeng dengan erat. "Kakak benar-benar senang mendengarnya. Jangan pernah berubah lagi ya Dek, kamu sudah dewasa dan bahkan sudah menjadi seorang Ibu. Bersikaplah dewasa dalam menghadapi masalah apapun"
Putri Ajeng mengangguk dalam pelukan Kakaknya. Mulai saat ini dia memang akan benar-benar berubah dan tidak akan melakukan hal yang hanya akan menghancurkan hidupnya. Seperti saat dia menjebak Fadil hanya untuk menjadikan Fadil sebagai suaminya di saat dia sudah hamil dengan orang lain pada saat itu. Dan sekarang Ajeng benar-benar sedang mendapatkan balasan yang setimpal dari perbuatannya itu. Putri Ajeng sudah menyesali semuanya.
"Aku akan merawat Sherin dengan baik Kak, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu aku hanya untuk memikirkan hal yang tidak ada gunanya"
Akhirnya Putir Ajeng menyadari semua kesalahan yang pernah dia lakukan, termasuk dengan menelantarkan anaknya sendiri, hanya karena dia tidak menginginkan kehadiran anak itu. Dan sekarang, dia benar-benar menyadari kesalahannya itu dan dirinya sudah benar-benar menyesali semuanya.
######
Yara sudah bersiap pagi ini untuk datang ke acara syukuran Sarah dan suaminya. Fadil juga sudah siap untuk segera pergi. Hanya saja, Yara sedikit tidak enak badan pagi ini. Mungkin karena beberapa hari ini dia tidak meminum obat dari Dokter. Karena meski dia sudah di nyatakan sembuh dari kanker. Tapi untuk satu tahun kedepan, masih harus minum obat yang di berikan oleh Dokter untuk mencegah sel kanker itu aktif kembali.
__ADS_1
"Minum dulu obatnya, kalau tidak mau minum obat. Kita tidak usah pergi!"
Yara menghela nafas pelan, dia mengambil obat yang di sodorkan oleh suaminya. Segera meminumnya, Yara tidak mau kalau sampai Fadil benar-benar marah dan tidak jadi pergi sekarang.
"Lagian kenapa kamu nakal banget si, pake tidak minum obat segala"
Yara menunduk pelan, bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu. "Karena aku pernah cek di internet, kalau obat-obat itu memang berpengaruh pada proses kehamilan. Kalau aku terus-terusan minum obat itu, aku bisa benar-benar tidak bisa cepat hamil"
Fadil menghembuskan nafas kasar, dia mengusap wajahnya dengan frustasi. Fadil membungkukan tubuhnya, menangkup wajah Yara yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Fadil menatap istrinya dengan lekat.
"Sayang, aku tidak pernah menuntut kamu untuk memberikan aku keturunan. Kita bisa punya anak atau tidak, aku benar-benar tidak peduli. Yang terpenting sekarang, kamu harus sehat. Pastinya kamu juga sudah malas meminum obat-obatan itu 'kan? Jadi, jangan melakukan hal yang aneh-aneh sampai tidak meminum obatnya. Karena itu akan benar-benar beperngaruh pada kesehatan kamu"
"Aku hanya ingin memberikan kamu kebahagiaan yang sebenarnya dalam pernikahan kita. Karena tujuan utama setiap orang yang menikah itu untuk mendapatkan keturunan. Termasuk kamu juga 'kan?"
Yara memeluk suaminya dengan erat, memberikan kecupan di pipi suaminya sebagai ucapan terima kasih dia atas semua kebaikan suaminya itu.
Yara menatap Fadil dengan jarak yang begitu dekat. Tangannya melingkar di leher Fadil. "Terima kasih karena sudah begitu tulus mencintaiku. Sayang, aku akan tetap berusaha untuk memberikan kamu seorang anak ya"
Fadil mengelus pipi istrinya dengan lembut, mengecup sekilas bibir Yara. "Tapi tidak dengan berhenti minum obat dari Dokter. Karena aku tidak mau kalau sampai kamu kenapa-napa"
Yara mengangguk, dia tidak akan pernah melakukan hal itu lagi. Lagian hanya tinggal beberapa bulan lagi bagi Yara untuk bisa terbebas dari semua obat-obatan yang diberikan Dokter padanya.
Akhirnya setelah perdebatan kecil karena obat yang tidak Yara minum itu. Mereka melanjutkan tujuan mereka untuk pergi ke luar kota dan menemui Sarah disana bersama dengan keluarganya. Sengaja Fadil menggunakan supir, karena dia ingin fokus menjaga Yara yang sedang kurang baik kesehatannya itu.
"Nanti disana pasti ada Putri Ajeng ya?" tanya Yara yang seolah sengaja ingin menggoda suaminya.
__ADS_1
"Ya terus kalau ada dia kenapa memangnya?"
Yara menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang langsung memeluknya dengan hangat. Benar-benar tidak memperdulikan keberadaan supir disana.
"Ya 'kan siapa tahu saja kamu akan merasa gimana gitu, apalagi sekarang dia sudah semakin cantik"
Cup..
Fadil mengecup puncak kepala Yara dengan lembut. Sama sekali tidak peduli dengan ucapan istrinya barusan, karena dia tahu jika Yara hanya sedang ingin menggodanya saja.
"Aku sudah mempunyai istri, kenapa juga harus memikirkan dia. Istri aku saja sudah sangat cantik dan memuaskan" bisik Fadil di telinga Yara
Plak..
Yara memukul lengan suaminya ketika dia tahu kemana arah tujuan Fadil berbicara seperti itu. "Kamu ini, kok malah kesitu si pembahasannya"
"Makanya jangan mancing-mancing aku, bisa saja kita berhenti dulu di hotel untuk menuntaskan semuanya. Pak apa ada hotel terdekat di sini"
Yara langsung terbelalak mendengar ucapan suaminya itu. Apalagi saat Fadil dengan tidak malu langsung bertanya pada supir mereka.
"Tidak usah di dengarkan Pak, suami saya ini memang senang sekali bercanda"
Yara menatap Fadil dengan matanya yang melotot. Namun wajah istrinya ini malah membuat Fadil gemas, bukannya takut.
Bersambung
__ADS_1