
"Pokoknya aku tidak mau ya sampai kamu ucapkan lagi kata cerai dari mulutmu itu"
Ternyata ucapan Yara beberapa waktu lalu ketika dia merasa marah pada Fadil yang bicara jika dirinya akan membiarkan Ajeng tinggal di rumah ini. Yara yang berpikir jika suaminya kembali akan melakukan perselingkuhan yang pernah dia lakukan, dulu. Membuat Yara benar-benar marah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak marah pada Fadil, bahkan sampai mengucapkan kata cerai.
"Makanya jangan lagi ah buat seperti ini. Kan aku kira memang beneran kamu ini kembali selingkuh. Apalagi saat di acara Kak Sarah, kamu terlihat dekat sekali dengan Putri Ajeng"
Fadil menundukan pandangannya, dia menatap istrinya yang berada dalam pelukannya. "Kamu melihat aku dimana? Acara Sarah, bersama Putri Ajeng?"
Yara mengangguk, dia mendongak dan menatap suaminya. "Waktu itu kamu sedang berada di taman, bersama dengan Sherin juga. Kamu terlihat bahagia sekali. Kamu juga menginginkan kehadiran anak kecil ya?"
Fadil menghela nafas pelan, dia mengeratkan pelukannya dan memberikan kecupan di puncak kepala Yara. "Aku akan selalu bahagia saat bersama kamu. Melihat kamu sehat, adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku"
"Tapi kamu juga pasti merindukan anak kecil dalam hidup kamu ini. Karena memang tujuan utama pernikahan adalah mempunyai anak"
"Tidak tuh, aku menikah dengan kamu karena memang aku ingin bahagia hidup bersama dengan wanita yang aku cintai"
Yara tidak menjawab apapun lagi, dia semakin mengeratkan pelukannya. Menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Yara tahu jika ucapan Fadil itu hanya sebuah hiburan untuk dirinya, agar Yara tidak terus membahas tentang anak.
"Oh ya, aku sampai lupa..." Fadil melepaskan pelukannya pada Yara, dia membuka laci nakas di samping tempat tidur. Mengambil kotak kalung yang belum sempat dia pasangkan pada istrinya ini. "...Tadi aku tidak sempat memasangkan kalung ini untuk kamu. Mereka semua malam mengambil alih kamu lebih lama"
Yara terkekeh, memang benar apa yang dibicarakan oleh suaminya. Memang karena Yara yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Sarah dan Putri Ajeng tadi, daripada dengan Fadil.
"Kamu balik ke belakang, aku mau pakaikan kalung ini sama kamu"
Yara berbalik untuk membelakangi Fadil, dan suaminya itu langsung memasangkan kalung di leher Yara. Kalung dengan liontin FY itu sangat terlihat sangat pas dan bagus di leher putih Yara.
__ADS_1
Yara memegang liontin kalung itu, dia tersenyum sangat bahagia saat ini. "Terima kasih ya Sayang, pasti mahal deh kalungnya. Padahal tidak perlu memberikan aku hadiah semahal ini"
Fadil memeluk Yara dari belakang, dia mengecup bahu Yara. "Aku kerja buat kamu, jadi wajar saja jika aku ingin membuat kamu bahagia dengan memberikan hadiah yang bisa membuat kamu bahagia"
Yara hanya tersenyum mendengar itu, tentu dia sangat bahagia memiliki Fadil yang benar-benar mencintainya dengan begitu tulus. Meski Fadil pernah melakukan kesalahan itu, tapi dirinya sudah benar-benar berubah dan Yara percaya itu. Mungkin kesalahan yang di perbuat oleh Fadil adalah bentuk rintangan yang harus mereka hadapi dalam hubungan ini.
######
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sama Mas Keanu. Ada yang aneh dengan Fadil"
Sebenarnya memang sudah sangat lama Yara ingin menanyakan tentang hal ini pada Keanu. Karena suaminya yang tidak mau menjelaskan tentang bekas luka yang di perutnya. Yara memiliki kecurigaan sendiri dengan bekas luka itu. Namun, setiap kali dia bertanya, Fadil hanya menjawab jika itu hanya bekas luka karena kecelakaan saat Yara tidak ada di sampingnya. Tapi pikiran Yara sama sekali tidak percaya dengan ucapan Fadil.
"Ada apa? Memangnya kamu mau menanyakan apa?"
"Emm. Tentang donor ginjal aku waktu itu, apa Mas tahu siapa orangnya?"
Tangan Yara memainkan rok yag dia pakai itu. Sebenarnya dia juga takut jika penjelasan dari Keanu memang sesuai dengan apa yang dia curigai selama ini.
"Ada bekas luka di perut suamiku, dan akur rasa bekas luka itu sama dengan bekas luka operasi aku. Tapi setiap aku tanya sama Fadil tentang itu, dia selalu menjawab jika bekas luka itu hanya bekas robekan karena kecelakaan"
"Iya Ra, memang Fadil yang mendonorkan ginjalnya sama kamu. Dia sendiri yang meminta aku dan Dokter untuk tidak mengatakan identitasnya pada kamu. Tapi karena sekarang kalian juga sudah menikah, jadi tidak masalah lagi jika aku memberi tahu kamu tentang ini"
Yara terdiam, dia mematikan sambungan telepon itu dan dia benar-benar sangat terkejut dengan ucapan Keanu. Penjelasan Keanu yang ternyata memang benar seperti apa yang dia duga.
Yara berlari masuk ke dalam rumah, tepat saat suaminya baru saja turun di anak tangga terakhir. Fadil sudah siap dnegan pakaian kantornya. Tidak berkata apapun lagi, Yara langsung memeluk Fadil dengan erat.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?" tanya Fadil yang bingung dengan sikap Yara ini.
"Kenapa kamu tidak bilang jika kamu adalah pendonor ginjal untuk aku. Kenapa kamu jahat sekali, kenapa kamu tidak jujur saja"
Fadil menghela nafas pela, dia tahu jika saat ini juga akan tiba. Dimana istrinya mengetahui tentang dia yang menjadi pendonor untuknya pada saat itu.
"Hey sudah dong jangan menangis, aku tidak papa. Dan aku melakukan ini karena aku ingin kamu segera sembuh. Aku ingin kamu baik-baik saja dan kembali sehat"
Yara tidak bisa menahan tangisannya, dia benar-benar merasa sangat bersalah pada Fadil. Suaminya yang sudah banyak berkorban untuk dirinya dan dia tidak mengetahui tentang itu.
"Maafin aku ya, karena aku sama sekali tidak tahu tentang ini. Aku terlambat mengucapkan banyak terima kasih sama kamu karena kamu sudah menolong hidup aku"
Fadil melerai pelukannya, dia menangkup wajah Yara dengan kedua tangannya. Memberikan kecupan lembut di bibir istrinya itu. "Semuanya akan aku lakukan asal kamu bisa kembali sehat dan hidup bersamaku dengan bahagia"
"Makasih untuk semuanya, aku mencintaimu Fadil"
Fadil menghapus air mata yang menetes di pipi Yara. "Aku juga sangat mencintiamu. Sudah dong, jangan menangis lagi"
Fadl kembali memeluk Yara dengan sangat erat. Bersyukur karena istrinya ini bisa kembali sehat dan bisa bersama dengannya lagi.
"Pokoknya mulai sekarang, kamu harus jaga kesehatan. Jangan kecapean kalau kerja. Aku tidak mau sampai kamu sakit, karena aku sudah mengambil satu ginjal kamu"
Fadil tersenyum, dia mencubit gemas hidung istrinya itu. "Kamu tenang saja Sayang, lagian selama ini aku baik-baik saja dan tidak ada keluhan apapun. Aku baik-baik saja"
"Tetap saja, aku takut kamu kenapa-napa. Pokoknya kamu harus benar-benar menjaga kesehatan"
__ADS_1
Fadil mengangguk, dia mengecup puncak kepala istrinya. Mencintai seseorang memang harus rela berkorban untuk kebahagiaannya. Apalagi saat ini Fadil berkorban untuk kesehatannya.
Bersambung