
Sampai malam ini, Fadil tidak pulang ke rumah. Yara sudah menanyakannya lewat pesan, namun belum mendapatkan jawaban. Mungkin memang dia masih di rumah sakit. Gumamnya pelan.
Yara menunggu Fadil di sofa yang berada di ruang tengah di lantai bawah. Menganggap jika Fadil akan kembali malam ini dan tidak mungkin kembali menginap di Rumah sakit. Namun semuanya terulang, sudah dua hari Fadil tidak kembali ke rumah karena sepulang kerja dia langsung kembali ke Rumah sakit untuk melihat keadaan Sherin.
Tentu saja ada sedikit rasa cemas dalam diri Yara, meski dia tetap terlihat baik-baik saja. Tapi tetap saja jika terus seperti ini, maka Yara takut jika yang pernah terjadi akan terulang lagi. Namun hatinya masih mencoba untuk tidak berprasangka buruk.
"Tidak Yara, kamu harus yakin kalau suami kamu pasti tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama"
Begitulah cara Yara mencoba meyakinkan dirinya untuk hal ini. Karena dia tidak mau terbakar api cemburu dan curiga yang belum tahu bagaimana kebenarannya. Karena memang Yara juga sudah tahu jika Fadil pergi ke Rumah sakit terus menerus, karena memang dirinya ingin melihat Sherin. Percaya saja dengan pemikirannya itu.
"Jangan gampang berburuk sangka Yara. Kamu sudah melihat jelas bagaimana suami kamu yang benar-benar berubah"
Namun, meski berkata seperti itu hatinya tetap merasa tidak nyaman. Entah bagaimana Yara menenangkan dirinya dan tentang semuanya yang terjadi. Ketakutan dalam dirinya ini yang belum bisa di hilangkan.
Tidak ingin terus menduga dengan semua yang ada dalam pikirannya. Yara memilih untuk menelepon suaminya. Dering pertama, tidak mendapat jawaban. Hingga di dering kedua barulah Fadil mengangkat telepon darinya.
"Hallo Sayang, apa tidak pulang lagi?"
Fadil menghela nafas pelan, dia mendengar suara rendah istrinya itu seperti sedang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kemarahannya. "Sayang, aku minta maaf. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Sherin"
Mendengar itu membuat Yara terdiam, mungkin memang suaminya tidak bisa meninggalkan Sherin yang masih sakit. Tapi apa harus setiap malam dia tidak pulang ke rumah? Sepertinya Yara mulai merasa tidak nyaman ketika Fadil harus terus bersama dengan Putri Ajeng dan Sherin di Rumah sakit.
"Apa tidak bisa pulang saja untuk malam ini? Aku tidak bisa tidur"
__ADS_1
Fadil menghela nafas pelan, dia melirik Sherina yang baru saja bisa tenang dan tidur di atas ranjang pasien. Putri Ajeng sedang menunggunya di dekat ranjang pasien, terus mengelus kepala anaknya yang berkeringat dingin.
"Maaf Sayang, untuk malam ini saja. Aku janji ini malam terakhir"
Dan Yara benar-benar tidak bisa berkata apapun lagi. "Yaudah"
Dan tanpa menunggu jawaban dari Fadil, dia sudah langsung memutuskan sambungan telepon. Hal itu membuat Fadil menghela nafas pelan, dia menatap layar ponselnya yang sudah mati. Pasti istrinya sangat kesal padanya sekarang.
"Sebaiknya pulang saja dulu, Dil. Kamu juga sudah tiga malam berada disini. Kasihan juga Yara kalau terus kamu tinggalkan setiap malam" ucap Putri Ajeng.
Fadil duduk di atas sofa, dia memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan pikirannya. "Besok Sherin sudah di izinkan pulang 'kan. Jadi sebaiknya besok saja, kasihan dia kalau nanti malam bangun dan menangis lagi seperti tadi"
Putri Ajeng menatap anaknya yang terbaring lemah setelah tadi kembali menangis kencang, mungkin karena tubuhnya yang terasa tidak enak, apalagi jarum infus yang masih terpasang di tangan mungilnya, pasti sangat menyakitkan.
Fadil menghembuskan nafas kasar, dia juga tidak bisa melihat Sherin yang terus menjerit seperti itu tanpa menenangkannya. "Sebenarnya aku hanya kasihan pada Sherin yang juga membutuhkan sosok seorang Ayah yang bisa setiap saat bersamanya. Ya, aku sayang dia dan aku juga tidak masalah untuk menjadi Ayahnya. Namun kamu tahu sendiri jika keadaannya tidak mungkin untuk aku terus bersamanya seperti ini"
Ajeng hanya diam menunduk, dia mengerti maksud Fadil. Tapi dia juga tidak bisa memberikan Ayah yang sempurna untuk Sherin selain Fadil yang bisa menjadi Ayah yang begitu mengerti bagaimana menjadi sosok seorang Ayah.
"Ajeng, apa kamu tidak tahu dimana Ayah kandung Sherin?" tanya Fadil.
Putri Ajeng menghela nafas panjang, sebenarnya dia tidak ingin membahas lagi tentang pria itu. Namun dirinya juga tidak mungkin terus menyembunyikan semua ini dari siapapun.
"Dia mungkin sudah menikah dan bahagia bersama istrinya. Karena memang dia sudah mempersiapkan pernikahan saat itu, hanya saja kita yang bodoh sampai menghabiskan waktu dengan minum-minum dan akhirnya berakhir di sebuah kamar hotel"
__ADS_1
Fadil sedikit terkejut mendengar cerita Putri Ajeng barusan. Jelas dulu dia pernah mendengar jika Putri Ajeng memang dalam keadaan mabuk parah dan berakhir di kamar hotel dengan pria yang sama sekali tidak dia ketahui siapa. Namun sekarang dia bercerita dengan versi yang berbeda.
"Bukannya kamu pernah bilang jika tidak pernah mengenal pria itu?"
Putri Ajeng tersenyum mendengar itu, mungkin memang sengaja dia berbohong seperti itu. Tapi jelas bukan keinginannya untuk berbohong seperti itu pada semua orang. "Karena Papi malu kalau semua orang tahu siapa yang telah menghamili aku. Dia hanya anak dari musuh Papi sejak dulu. Dan Papi seolah tidak akan pernah mengizinkan aku untuk mengatakan yang sebenarnya pada siapapun. Termasuk Kak Sarah"
Fadil benar-benar baru mengetahui fakta ini, mungkin saat itu Ajeng memaksa untuk menikah dengannya meski dia tahu jika Fadil sudah mempunyai kekasih, juga karena tekanan dari Ayahnya. Hanya saja saat itu memang Fadil juga salah besar, karena dia mau menikah dengan wanita yang baru dia kenal, dibandingkan tetap bertahan dengan Yara yang sudah menemaninya dari nol. Ya, Fadil menyadari kebodohannya itu.
"Ajeng, apa kamu mencintainya?"
Dan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan oleh siapapun padanya. Putri Ajeng selalu berharap Ayahnya akan menanyakan hal ini, maka dia akan menjawab dengan sejujurnya. Tapi sama sekali tidak ada yang pernah menanyakan tentang perasaannya ini.
"Berhubungan tanpa ada seorang pun yang tahu selama 2 tahun lamanya. Hingga dia juga di jodohkan dan langsung segera melaksanakan pernikahan. Dan ya, untuk meluapkan segala kekecewaan kita karena takdir yang dipaksakan oleh orang tua, kami menghabiskan malam itu hingga Sherin hadir. Dan hanya Papi yang mengetahui semua itu"
Fadil menggeleng tidak percaya, ternyata sikap egois dan seenaknya Putri Ajeng juga menyimpan sebuah luka dan kisah cinta yang begitu menyedihkan. Fadil sama sekali tidak bisa menilai tentang Putri Ajeng hanya dari sikapnya itu. Karena ternyata, dia juga mempunyai luka yang cukup dalam.
"Kalau boleh tahu siapa pria itu?" Tanya Fadil.
Putri Ajeng sedikit ragu untuk mengatakannya. Tapi untuk apalagi dia meragu, saat dia sudah mengatakan semuanya pada Fadil tentang kisahnya itu.
"Felix anak dari pemilik perusahaan Xx"
Fadil mengangguk mengerti, dia sering mendengar nama perusahaan itu. Apalagi saat dia bekerja dengan Bimo, Ayah dari Putri Ajeng ini. Dia sering berhadapan dengan perusahaan itu untuk mendapatkan tander.
__ADS_1
Bersambung