
"Sayang, kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir" ucap Fadil dengan kepanikannya, dia langsung bangun terduduk di atas tempat tidur dan menatap istrinya dengan panik.
"Sayang apaan si, kamu kayak gak pernah lihat aku kayak gini deh. Kenapa reaksi kamu malah kayak pria polos" ketus Yara yang merasa suaminya ini berlebihan.
Fadil mengerutkan keningnya bingung, sama sekali tidak mengerti dengan ucapan istrinya itu. "Sayang kamu jangan aneh-aneh, kita ke rumah sakit sekarang. Itu kamu sampai berdarah-darah seperti itu"
Mendengar itu membuat Yara menggeleng tidak percaya dengan suaminya ini. "Belikan aku pembalut sekarang, jangan banyak bicara lagi deh. Ini kepepet banget"
Yara yang berlari secepat kilat ke ruang ganti, sementara Fadil masih sedikit blank dengan ucapan Yara barusan. Sampai kesadarannya benar-benar terkumpul barulah dia mengingat hal yang sudah lama tidak dialami istrinya itu.
"Pembalut? Ya ampun, dia sedang datang bulan sekarang"
Fadil langsung berlari keluar kamar, benar-benar tidak mandi dan berganti baju dulu. Dia hanya menggunakan kaos warna putih dengan celana panjang berwarna hitam dan sandal rumah. Wajah bantalnya masih terlihat jelas dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
Penampilan Fadil ini cukup menarik bagi para pengunjung minimarket pagi ini. Rambut yang sedikit acak-acakan dengan baju dan sandal seadanya, dan yang lebih menjadikan Fadil sebagai pusat perhatian ketika dia mengambil barang yang dibutuhkan istrinya. Tapi dia sedikit bingung harus membeli merek apa dan yang seperti apa. Karena ini pertama kalinya dia membeli barang seperti ini. Selama berpacaran pun, Yara tidak pernah memintanya untuk membeli ini.
Dua orang gadis yang berada di lorong yang sama, saling berbisik ketika melihat penampilan Fadil dan juga apa yang sedang di pegang pria itu.
"Ya ampun, dia tampan dan juga sepertinya dia sangat pengertian. Ah, aku ingin punya suami seperti dia"
"Aku juga, kenapa dia bisa setampan itu"
Bisik-bisik dari dua orang gadis itu membuat Fadil langsung menoleh pada mereka. Mungkin dia bisa bertanya tentang kebingungannya ini, apalagi dia harus cepat karena istrinya menunggunya di rumah.
"Ah, dia berjalan ke arah kita"
"Ya ampun, kenapa dia semakin dekat dan semakin tampan. Oh aku meleleh"
Bisikan yang terus terdengar seiring Fadil yang berjalan ke arah mereka. "Maaf Nona, saya ingin bertanya sebentar apa boleh?"
__ADS_1
"Ah, tentu saja"
Fadil tersenyum tipis, tidak sadar jika senyumannya membuat dua gadis itu hampir saja pingsan melihat ketampanannya itu. Fadil mengangkat dua merek dengan jenis berbeda barang di tangannya itu.
"Istri saya sedang datang bulan, menurut kalian yang lebih nyaman di pakai yang mana?" tanya Fadil, sama sekali tidak merasa malu atau apapun itu.
Kedua gadis itu sedikit terkejut saat mendengar Fadil yang mengatakan istrinya. Harapan mereka langsung hancur, saat tahu pria dewasa yang tampan di depannya ini ternyata sudah menikah.
"Em, memangnya istri anda lebih suka menggunakan yang extra wing atau yang non wing?"
Fadil mengerutkan keningnya, dia justru tidak tahu yang seperti apa yang sering digunakan oleh istrinya. Karena dia tidak pernah membelikannya.
"Maaf saya tidak tahu ya, karena ini pertama kali membelikannya" ucap Fadil apa adanya.
"Kalau begitu pakai yang extra wing saja. Lebih nyaman dipakai, yang ini" ucap gadis yang di rambutnya diikat ekor kuda sambil menunjuk barang di tangan kiri Fadil.
"Ih, lebih nyaman yang non wing saja, yang ini. Aku juga pakai yang ini" ucap gadis disebelahnya dengan menunjuk barang di tangan kanan Fadil.
"Lebih nyaman yang non wing"
Fadil malah pusing sendiri dengan perdebatan dua gadis remaja di depannya. Sepertinya tidak membantu apa-apa bertanya pada mereka.
"Sudahlah Nona, terima kasih ya. Saya akan beli keduanya, tidak perlu bertengkar seperti ini" ucap Fadil yang langsung pergi dengan membawa dua barang di tangannya itu ke meja kasir.
Setelah selesai membeli barang yang diperlukan oleh istrinya. Fadil segera kembali, beberapa kali dia menggeleng pelan saat mengingat kejadian di minimarket tadi. Dua orang gadis remaja yang malah bertengkar karena berbeda pendapat.
Fadil melirik barang yang berada di kursi penumpang di sampingnya. "Ah, membeli barang pribadi perempuan ini ternyata sangat sulit. Aku kira hanya satu barang biasa saja, ternyata banyak jenis dan bentuknya juga"
Fadil memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah dan segera keluar dan masuk ke dalam rumah dengan membawa barang yang dibutuhkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Tuan, darimana?" tanya Mbak pelayan yang baru saja kembali dari pasar.
"Aku habis membeli ini, istriku sedang datang bulan" ucap Fadil sambil menunjukan kantong plastik di tangannya.
"Ya ampun Tuan memang suami yang baik ya. Padahal saya juga masih ada yang baru pembalut di kamar"
Ucapan Mbak pelayan hanya membuat bahu Fadil langsung lemas seketika. Karena dia sudah berjuang sejauh ini, melupakan harga dirinya yang keluar dengan penampilan seperti ini.
"Sudahlah Mbak, sudah beli juga"
Fadil berlalu ke kamarnya, dia membuka pintu kamar dan melihat istrinya yang sedang membersihkan bekas darah di atas lantai yang tadi tidak sengaja menetes.
"Sayang, nanti saja biar Mbak yang bersihkan. Kenapa kamu malah bersihkan sendiri" ucap Fadil yang langsung menghampiri istrinya.
Yara menoleh, dia langsung berdiri setelah selesai membersihkan sedikit bercak darah itu. "Mana pembalutnya, lama banget kamu. Tahu ini darurat"
Fadil langsung memberikannya, dia sedikit heran saat melihat istrinya yang sedikit galak hari ini. Apa mungkin hormon datang bulan langsung membuatnya jadi marah-marah tidak jelas begini.
"Maaf Sayang, tadi aku.."
Yara langsung menyambar kantong plastik di tangan Fadil dan berlalu ke ruang ganti. Sementara Fadil hanya menghela nafas pelan melihat sikap istrinya ini. Ah, ini bukan yang pertama melihat mood istrinya yang langsung berubah ketika sedang datang bulan. Dan Fadil memang harus banyak bersabar menghadapinya.
"Marah saja, dia begitu menggemaskan"
Fadil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, duduk bersandar di sofa sambil memejamkan matanya. Masih merasa ngantuk karena semalam dia tidur cukup larut malam, dia harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini.
Sampai ketika Yara keluar dari ruang ganti, dia melihat suaminya yang tertidur di atas sofa. Yara menghampirinya dan duduk disamping Fadil. Mengelus kepala suaminya dengan lembut, sedikit merapikan rambut Fadil yang berantakan.
"Ah, dia memang sudah menjadi Fadil yang sangat dewasa. Bahkan tidak malu membelikan aku pembalut. Pasti tadi dia sangat kebingungan" Yara memberikan kecupan di pipi suaminya.
__ADS_1
Bersambung