
Perjalanan yang cukup memakan waktu, membuat Yara sedikit lelah. Bahkan tidak biasanya dia mengalami mabuk perjalanan, merasa pusing dan mual. Padahal saat berangkat tadi dia merasa baik-baik saja.
"Pak, bisa berhenti sebentar" ucap Yara.
Dan ketika mobil berhenti di pinggir jalan, dia langsung keluar dan berlari ke pinggir jalan untuk muntah. Rasa mual yang tidak tertahankan lagi, entah kenapa Yara bisa seperti ini sekarang.
"Sayang.." Fadil mengelus punggung istrinya yang terus muntah. Membuat Fadil begitu panik. "...Minum dulu"
Yara mengambil botol minum yang diberikan oleh Fadil. Segera dia meminumnya. Fadil terus mengelus punggung Yara yang terlihat sangat lemah.
"Sayang, kamu masuk saja ke mobil. Kenapa malah diam disini, jijik ih" ucap Yara yang mendorong tubuh Fadil agar segera berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Fadil menghempaskan tangan Yara dan dia langsung menariknya ke dalam pelukan. "Aku tidak akan merasa jijik saat istriku seperti ini. Kau adalah istriku dan aku tidak mungkin merasa jijik denganmu"
Yara menghembuskan nafas pelan, dia mendongak dan menatap Fadil. "Sayang, kita istirahat sebentar bagaimana? Aku merasa lelah sekali"
"Iya, kita berhenti sebentar di sana ya"
Fadil memapah istrinya masuk ke dalam mobil, dia bicara pada mobil untuk istirahat sebentar. Melihat keadaan istrinya ini malah membuat Fadil takut. Terakhir kali dia melihat wajah Yara yang begitu pucat karena penyakitnya yang parah. Fadil sempat takut untuk kehilangan istrinya.
"Sayang, kita ke Dokter saja ya. Atau tidak usah jadi pergi ke rumah Sarah" ucap Fadil dengan khawatir.
Yara menggeleng pelan, dia hanya menyandar dalam pelukan Fadil dengan nyaman. "Tidak usah, mungkin aku seperti ini hanya karena tidak minum obat terakhir ini"
Deg,, Yara malah terkejut dengan ucapannya sendiri. Berniat untuk merahasiakan hal ini dari suaminya. Tapi malah dia sendiri yang tidak sengaja mengucapkannya. Aduh, bagaimana ini?
__ADS_1
Fadil langsung melerai pelukannya dari Yara, dia menatap istrinya dengan tajam. "Kau masih berani membohongiku? Aku tidak mengerti ya Yara, kenapa kau masih saja bandel untuk tidak meminum obatmu. Kau selalu tidak menurut padaku"
Yara terdiam dengan kepala menunduk, padahal dirinya sudah berniat untuk mencoba hidup tanpa bergantung pada semua obat-obatan itu yang membuatnya jengah dan bosan. Tapi malah dirinya sendiri yang keceplosan tentang ini.
"Aku hanya..."
"Hanya apa? Kau ingin segera hamil dan ingin berhenti minum obat, padahal hidup kamu saja sudah sangat beruntung bisa bertahan sampai sekarang. Kenapa si harus seperti ini? Aku tidak peduli kalau kau tidak hamil sekalipun, yang penting kau bisa sembuh dan hidup bersamaku selamanya" tekan Fadil.
Yara hanya menunduk saja, dia juga tahu jika Fadil tidak akan menekan dirinya untuk segera hamil dan mempunyai anak. Tapi sebenarnya Yara juga tahu jika dalam hati Fadil, pastinya dia juga menginginkan seorang anak. Yara hanya ingin memberikan yang terbaik pada Fadil sebagai seorang istri.
"Sejak kapan?" tanya Fadil.
Yara mengerti maksud dari ucapan Fadil barusan. "Dua minggu yang lalu"
Fadil langsung mengusap wajah kasar, masih tidak menyangka kalau istrinya akan melakukan hal ini. "Sayang, kenapa kau melakukan ini. Bahkan aku sampai tidak tahu. Hebat sekali kau membodohiku"
Pak Supir yang sejak tadi mendengar perdebatan mereka, jadi bingung dan merasa tidak enak. Tapi sebenarnya dia sudah cukup terbiasa dengan keromantisan suami istri ini dan juga perdebatannya seperti ini.
"Maaf Tuan, apa kita berhenti dulu disini?" tanya Pak Supir dengan sedikit tidak enak dengan keadaan ini.
"Iya Pak berhenti dulu disini"
Setelah mobil berhenti di sebuah rest area, Fadil langsung keluar dari mobil dan berjalan menjauh. Melihat itu hanya membuat Yara menghela nafas pelan, sebenarnya dia juga tidak ingin bertengkar seperti ini bersama dengan suaminya ini. Yara mengangguk pelan pada Pak supir dengan perasaan tidak enak karena harus bertengkar di depannya seperti ini.
Yara segera menyusul suaminya itu, Fadil duduk disebuah bangku dengan tatapan yang dingin. Pastinya dia yang sangat kesal padanya. Tapi Yara juga tidak bisa melakukan apapun karena semuanya sudah terjadi. Dia berjalan mendekat pada Fadil, berdiri di depannya.
__ADS_1
"Sayang, jangan marah. Aku melakukan ini hanya untuk menguatkan diriku sendiri, buktinya selama dua minggu ini aku sama sekali tidak minum obat-obatan itu dan aku masih tetap hidup sampai sekarang" ucap Yara.
Memang sebenarnya Yara hanya mencoba untuk mengecek kondisi tubuhnya yang sudah terlalu sering meminum obat itu, karena sebenarnya dia juga sudah lelah dan yakin jika dirinya akan tetap hidup meski dia tidak minum obat.
"Ya, percuma saja aku sampai mendonorkan satu ginjal aku untuk kamu kalau masih saja berpikir kau akan segera mati kalau tidak minum obat itu. Kau tahu, kenapa aku selalu ingin kau untuk selalu menuruti perkataan Dokter, karena aku ingin kau benar-benar sembuh. Memangnya kau mau melakukan semua pengobatan yang menyakitkanmu selama ini, lagi?"
Yara langsung menggeleng pelan, semuanya adalah sebuah mimpi buruk yang tidak akan pernah ingin dia ulangi. "Aku capek, aku lelah dengan keadaan aku saat ini. Kenapa? Kenapa harus aku? Apa aku bisa bertanya seperti itu pada Tuhan dan Tuhan akan menjawabnya? Rasa sakit apalagi yang belum aku rasakan?"
Fadil terdiam mendengar itu, dia melihat air mata istrinya yang mengalir deras di pipinya. Ya, sepertinya Yara sedang menunjukan kerapuhan dalam dirinya. Semua rasa sakit yang selama ini dia rasakan. Apalagi ketika sebenarnya Yara tidak pernah mengeluarkan uneg-uneg dalam dirinya ini pada Fadil secara teran-terangan seperti ini.
Fadil menarik tangan Yara hingga istrinya itu langsung jatuh di atas pangkuannya. Fadil memeluknya dengan erat. "Jangan bicara seperti itu. Kalau capek bilang sama aku, biar aku temani kamu istirahat dan nanti kita lanjutkan lagi semuanya ya. Kamu jangan menyerah begitu saja. Kamu tahu kalau semua ini tidak mudah, jadi kamu jangan pernah sedikit pun untuk menyerah"
Tangisan Yara benar-benar pecah, puncaknya dia merasa terluka ketika dia datang ke pesta bersama dengan Fadil saat itu. Ucapan Nona muda pemilik acara malam itu benar-benar membuat Yara berpikir jika dirinya tidak pantas bersanding dengan Fadil, maka setidaknya dia bisa menjadi istri yang sempurna untuknya. Memberikan suaminya keturunan.
"Aku hanya cape dengan orang-orang yang selalu memandang aku tidak pantas untuk kamu. Setidaknya aku bisa memberikan kamu keturunan dan bisa menjadi istri yang sempurna" ucap Yara dengan isak tangis yang pecah.
Fadil menangkup wajah istrinya dengan lembut. "Sayang, kamu ingin mendengarkan ucapan orang-orang atau suamimu saja? Kalau kau ingin mendengar ucapan orang-orang, yasudah jangan dengarkan lagi aku kalau begitu"
Yara hanya terisak, dia langsung memeluk leher suaminya. Menyandarkan kepalanya di bahu Arven, sampai sekarang dirinya tidak bisa kehilangan Arven. Itu yang membuatnya selalu mempunyai perasaan curiga dan takut kalau suaminya tidak pernah merasa puas padanya.
"Aku hanya takut kamu..."
"Berapa kali lagi aku harus meyakinkan kamu untuk percaya padaku kalau aku tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama" tekan Fadil memotong ucapan Yara.
Sejatinya masih ada sebuah trauma dalam diri Yara.
__ADS_1
Bersambung