
"Cantik"
Fadil selesai mengikat penutup kepala Yara, dia mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
Yara hanya tersenyum, menatap wajah Fadil dari balik pantulan cermin. "Terima kasih ya, karena kamu sudah mau menerima aku dengan keadaan yang seperti ini"
Fadil sedikit membungkukan tubuhnya, dia melingkarkan tangannya di dada Yara. Menatap Yara dari balik pantulan cermin. Mengecup pipi Yara yang begitu tirus, rasanya Fadil begitu merindukan pipi Yara yang chubby yang selalu membuat Fadil gemas dan ingin terus menciumnya.
"Nanti pipi kamu harus kembali kayak dulu lagi"
Yara tersenyum mendengar itu, dia menggeleng pelan atas ucapan Fadil. "Aku tidak mau, nanti kalau aku kembali gendut, jelek dan kamu akan berpaling lagi. Kan aku pernah di khianati karena gendut"
Fadil terdiam mendengarnya, salah dirinya yang pernah mengkhianati Yara hanya dengan alasan bosan. "Sayang, aku baru sadar jika kamu yang dulu itu sangat menggemaskan. Jangan pernah meminum obat pelangsing lagi, kamu cantik dengan tubuh bagaimana pun"
Yara mengangguk dan tersenyum mendengar itu. "Dulu itu, aku sengaja aku minum obat pelangsing hanya karena aku ingin terlihat cantik. Semuanya karena aku yang belum ikhlas dengan keputusan kamu yang ingin mengakhiri hubungan kita"
Fadil menghela nafas pelan, bahkan dia yang menjadi sumber semua ini terjadi. Penyakit Yara yang ternyata di sebabkan dari obat yang di konsumsi berkepanjangan dan tanpa resep Dokter. Dan Yara melakukan itu hanya karena Fadil, karena dia yang mengakhiri hubungan diantara mereka.
"Jangan pernah melakukan kebodohan itu lagi. Kamu cantik bagaimana pun penampilan kamu"
Yara tersenyum, dia melepaskan lingkaran tangan Fadil di dadanya. Lalu dia berbalik ke arah Fadil, dia menatap Fadil dengan tersenyum lembut. Meraih tangan Fadil dan menggenggamnya.
"Tapi, kamu jangan berpaling lagi ya. Aku sudah terlanjur berharap lagi sama kamu, tapi aku takut kamu akan melakukan hal yang sama seperti dulu. Aku takut kamu bisa tergoda lagi dengan wanita lain, apalagi dengan kondisi aku yang seperti ini sekarang"
Yara menunduk, dia sadar diri dengan keadaannya sekarang yang memang tidak bisa di bilang pantas untuk bersama Fadil. Keadaannya yang sangat lemah dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya ini.
__ADS_1
"Hei Sayang..." Fadil meraih dagu Yara dan mengangkat wajahnya. "...Aku sudah menyesali semua kebodohan yang aku lakukan di masa lalu. Aku tidak akan pernah melakukan kebodohan itu lagi, sekarang aku sadar kalau kamu terlalu berharga untuk aku"
Yara tersenyum dengan air mata yang menetes begitu saja di pipinya. Fadil langsung menghapus air mata itu dengan lembut. Mengecup kedua matanya yang terlihat lelah itu. Tentu sangat lelah dengan semua yang telah dia hadapi selama ini.
"Jangan nangis dong, mendingan sekarang kita keluar yuk. Sarapan"
Yara mengangguk, dia berdiri dengan dibantu oleh Fadil. Mereka keluar dari kamar dan menuju ruang makan untuk sarapan. Setelah sarapan, Fadil langsung berpamitan pada Yara untuk pergi bekerja.
Yara duduk di sofa depan televisi, di tangannya ada ponsel. Yara masih bingung dan penasaran dengan pesan yang di kirim oleh teman masa sekolahnya itu.
Dan ada satu pesan masuk lagi di akun sosial medianya, dan ternyata masih dari orang yang sama. Akun dengan nama Erdinan itu mengirimkan pesan lagi, mungkin karena Yara yang tidak membalas pesan yang terakhir Erdinan kirimkan.
"Sebenarnya apa yang Erdi inginkan ya, aku juga bingung harus balas apa padanya"
Yara mencoba mengetik, untuk membalas pesan itu. Tapi beberapa kali dia hapus lagi karena merasa kata-katanya yang kurang pas.
Send...
Akhirnya Yara mengirimkan juga pesan balasan pada teman masa sekolahnya itu. Yara tidak mungkin memberikan sebuah harapan pada Erdinan. Yara harus langsung menolak pengungkapan perasaan Erdinan, karena Yara tidak mau memberikan celah pada siapa pun untuk menghancurkan lagi hubungannya dengan Fadil. Semoga saja Fadil juga bisa melakukan hal yang sama.
#######
Pagi ini Yara bangun dengan wajah yang tidak bersemangat. Alasannya hanya satu, karena hari ini adalah jadwal dia melakukan pengobatan. Yara sudah sangat lelah dengan semua obat-obatan dan pengobatan yang menyakitkan itu. Tapi mau bagaimana lagi jika Fadil yang selalu memberinya semangat untuk menjalani pengobatan itu.
"Semoga saja Fadil tidak ingat jadwal pengobatan aku, jadi aku tidak perlu melakukan pengobatan"
__ADS_1
Yara keluar dari ruang ganti, dia melihat Fadil yang baru saja terbangun. Masih berada di atas tempat tidur. Fadil menoleh pada Yara yang baru saja selesai mandi pagi ini.
"Sayang, langsung siap-siap saja. Hari ini kita ke rumah sakit untuk pengobatan"
Bahu Yara langsung lunglai mendengar itu, dia berharap Fadil akan melupakan tentang jadwal pengobatannya. Tapi ternyata dia tidak melupakannya sama sekali.
"Emm. Sayang..." Yara berjalan perlahan ke arah Fadil, kakinya masih terasa sedikit sakit. Membuat dia masih sedikit terpincang saat berjalan. "...Bagaimana kalau pengobatannya tidak usah di lakukan sekarang. Nanti-nanti aja, kan kamu juga harus kerja hari ini"
Fadil meraih tangan Yara, membuat Yara langsung terduduk di pinggir tempat tidur. Mengelus kepala Yara dengan lembut. "Aku kerja setiap hari, jadi sehari saja untuk menemani kamu berobat. Masa aku tidak bisa. Kamu tenang saja, aku akan menemani kamu kok"
Yara menghembuskan nafas pelan, padahal bukan itu maksudnya. Memang Yara yang malas terus melakukan pengobatan yang menyakitkan itu. Tapi dia juga tidak bisa menolak keinginan Fadil itu. Tidak tega juga, karena Fadil sedang sangat berusaha untuk kesembuhan Yara.
"Yaudah, kamu siap-siap ya. Aku mau mandi dulu"
Fadil turun dari atas tempat tidur, mengecup kepala Yara sebelum dia berlalu ke ruang ganti. Sementara Yara, mau tidak mau dia tetap harus bersiap.
Semoga kali ini adalah pengobatan terkahir untuk aku.
Setiap kali dia melakukan pengobatan. Maka hanya itu yang dia harapkan. Berharap jika pengobatan yang dia lakukan hari ini, adalah pengobatan terakhir dalam hidupnya. Berharap setelah menjalani pengobatan hari ini, dia akan sembuh dan tidak akan lagi ada pengobatan selanjutnya.
Dengan dosis kemoterapi yang di naikan, Yara harus kembali tersiksa dengan sakitnya pengobatan yang dia jalani. Fadil selalu berada di sampingnya, menemani Yara. Fadil selalu menahan air matanya ketika melihat Yara yang menangis dan menjerit kesakitan dengan pengobatan yang dia jalani saat ini. Tapi Fadil tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang ini yang harus Yara lewati untuk segera sembuh.
"Sakit..."
Fadil mengelus kepala Yara, menciumnya beberapa kali. "Iya Sayang, aku tahu ini menyakitkan. Tapi kamu harus kuat ya, aku yakin kamu akan segera sembuh"
__ADS_1
Bersambung