Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 12 (Menemui Felix)


__ADS_3

"Wah, ada apa nih bos muda ini mengundang saya dengan tiba-tiba seperti ini. Tidak biasanya"


Fadil menatap pria tampan yang usianya tidak jauh beda dengannya, pria itu menarik kursi di depannya dan duduk didepan Fadil.


"Bagaimana kabar anda Tuan Felix? Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu ya" ucap Fadil.


"Tentu saja, setelah kau tidak bekerja lagi dengan Perusahaan Tuan Bimo, maka kita tidak bertemu lagi untuk berebut tander" ucap Felix, terkekeh pelan.


Fadil hanya tersenyum, memang mereka sering bertemu untuk sebuah tander besar. Karena memang sejatinya Perusahaan keluarga Felix dengan keluarga Putri Ajeng ini sangat bersaing. Persaingan bisnis ini yang harus segera diberhentikan agar tidak semakin banyak melukai hati anak-anak dari mereka.


"Em, tentu anda tahu jika saya tidak mungkin tiba-tiba mengajak anda bertemu seperti ini jika tidak ada hal yang ingin dibicarakan" ucap Arven.


Mendengar itu tentu saja membuat Felix mengerti. "Lalu, apa yang akan anda bicarakan? Langsung pada intinya saja, kalau ini memang masalah pekerjaan. Tentu saya tidak keberatan loh kalau bekerjasama dengan anda. Perusahaan anda itu meski baru, tapi sudah cukup mempunyai masa depan yang cerah dan akan menjadi sebuah perusahaan besar"


Fadil hanya tersenyum mendengar itu, karena memang seperti itulah semua orang yang bertemu dengannya. Menganggap Fadil sebagai pengusaha muda dan baru di dunia bisnis yang mempunyai masa depan cerah dengan perusahaan yang cukup maju untuk sebuah perusahaan yang baru.


"Ini bukan tentang masalah pekerjaan, tapi apa anda tahu tentang kehidupan Putri Ajeng sekarang? Mantan pacar anda itu"


Deg,, seketika tubuh Felix mematung mendengar itu. Pria di depannya ini tentu dia tahu kalau dia adalah mantan suami dari Putri Ajeng, dan setelah dia tahu kalau Putri Ajeng bahkan sudah menikah dan mempunyai anak. Maka Felix mencoba untuk melupakan apa yang pernah mereka lalui selama ini. Tapi Fadil yang mengetahui tentang dirinya dan Putri Ajeng pernah menjalin kasih, adalah hal yang sangat mengejutkan.


"Apa maksud anda ya?" Felix masih sempat untuk berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Fadil.


Fadil menghela nnafas pelan, dia menatap Felix dengan lekat. "Putri Ajeng mengurus anaknya seorang diri sekarang. Dan Sherin selalu menanyakan dimana keberadaan Ayahnya"


Felix mengerutkan keningnya mendengar itu, tentu saja dia juga tidak mengerti kenapa Fadil harus membahas itu. Bukannya jelas jika Putri Ajeng bercerai dengannya setelah mempunyai anak. Tentu saja Fadil adalah Ayahnya, kenapa harus berbicara seperti ini padanya.

__ADS_1


"Ya, alasan perceraian kami di pernikahan yang bahkan masih sangat sebentar hanya karena Putri Ajeng membohongiku tentang kehamilannya. Dia sudah dalam keadaan mengandung saat menikah denganku"


Mendengar itu, Felix langsung terdiam dengan wajah yang terkejut. Sepertinya dia melupakan sesuatu, sama sekali tidak berpikir jika hal yang mereka lakukan di malam terakhir mereka bersama, akan membuat Putri Ajeng hamil. Karena itu adalah yang pertama kali untuk keduanya.


"Tap-tapi bukannya dia adalah anakmu?"


Fadil hanya tersenyum tipis mendengar itu. "Jika merasa ragu baiknya tes DNA saja, karena aku sudah melakukan itu dan aku mengetahui hasilnya"


Seketika Felix terdiam mendengar hal itu, entah harus bagaimana dia bersikap sekarang ini. Semuanya masih terlalu mengejutkan. Sudah hampir tiga tahu lebih mereka berpisah, dan sekarang Felix harus mendengar tentang hal ini.


"Saya bisa mengatur pertemuan anda dengan Putri Ajeng. Nanti kalian bicarakanlah tentang hal ini"


Fadil langsung berlalu pergi dari hadapan Felix yang masih termenung sampai sekarang. Mungkin dia terlalu terkejut mendengar ucapan Fadil barusan.


Ajeng melahirkan anakku? Ah, apa ini mungkin? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Felix yang semakin kebingungan dengan kenyataan yang baru dia dengar.


Fadil kembali ke rumah setelah dia menyempatkan diri untuk bertemu dengan Felix sepulang kerja sore tadi. Saat dia sampai di rumah, Fadil melihat Yara yang sudah siap dengan pakaian yang cukup rapi. Membuat Fadil mengerutkan keningnya, tidak tahu kalau Yara ada acara hari ini.


"Sayang, kamu mau kemana? Kenapa sudah rapi begini?" tanya Fadil.


Yara langsung menatap tajam pada suaminya itu, dia berjalan ke arah Fadil yang malah merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Sayang jangan aneh deh, masa kamu lupa kalau hari ini adalah acara syukuran Mbak Sarah. Kita akan pergi kesana" ucap Yara.


Fadil langsung terdiam, tentu saja dia tidak ingat soal ini. Padahal Yara sudah bilang dari jauh-jauh hari, tapi karena terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini membuat Fadil melupakannya.

__ADS_1


"Ya ampun Sayang, aku benar-benar lupa"


Yara menggeleng tidak percaya pada suaminya ini. "Sekarang cepat mandi, perjalanan kita juga cukup jauh. Kita pakai supir saja biar kamu tidak kelelahan"


Fadil mengulurkan tangannya pada Yara, meminta istrinya itu untuk menarik tubuhnya agar bangun dari bermalas-malasan.


Yara menghembuskan nafas pelan, dia pun segera menarik tangan Fadil. Tapi bukannya pria itu bangun, tapi malah menarik tangan Yara hingga istrinya itu jatuh di atas tubuhnya. Mata keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat.


"Sayang ih, apaan si kamu ini" Yara memukul lengan Fadil dengan kesal.


Fadil hanya tersenyum, dia mencium bibir Yara tanpa meminta persetujuan dari istrinya itu. "Lipstik kamu ini terlalu merah, jadi aku harus menghapusnya sedikit"


Yara mendengus kesal mendengar ucapan Fadil yang jelas hanya memanfaatkan kesempatan saja. "Kalau lipstik aku memang terlalu merah, kenapa tidak bilang saja. Kan aku bisa hapus sendiri, ish dasar pria modus"


Fadil hanya terkekeh mendengar itu, tentu saja memang dia hanya mencari kesempatan saja. Jelas Fadil merasa takjub saat melihat Yara yang sudah berias, meski hanya sebuah riasan tipis dan sederhana, tapi selalu membuat Fadil tidak bisa menahan diri.


"Sayang, kamu itu selalu cantik di mataku. Jadi aku tidak bisa menahan diri" ucap Fadil sambil mengelus kening Yara dengan jari telunjuknya. Mengukir alis yang indah itu.


Yara tersenyum mendengar itu, dia menyandarka kepalanya di atas dada Fadil. Mendengar detak jantung suaminya yang begitu jelas. "Sebenarnya aku malu berangkat ke acara seperti ini. Karena pastinya banyak wanita cantik disana, dan kamu akan malu membawaku"


Fadil mengecup kepala Yara yang berada di atas dadanya. "Kalau aku malu, mungkin aku tidak akan berjuang begitu keras untuk bisa mendapatkan kamu lagi yang pernah aku hancurkan"


Yara mendongak, dia menatap wajah suaminya dengan lekat. Lalu mengecup dagunya. "Terima kasih ya sudah mau menerima aku dengan keadaan yang seperti ini"


"Karena hanya kamu juga yang bisa menerima aku disaat aku masih menjadi pria yang tidak punya apa-apa. Sayang, jangan pernah lagi merasa kalau aku menikahimu karena kasihan ya"

__ADS_1


Yara hanya mengangguk saja, meski dia masih tidak percaya diri dengan penampilannya ini.


Bersambung


__ADS_2