Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 35 (Menginginkan Ketulusannya, Jangan Lukai Hatinya)


__ADS_3

Fadil terdiam mendengar ucapan Yara barusan, tentu saja dia melihat ketulusan dan kesabaran Yara yang begitu luas saat menerima dirinya kembali setelah apa yang dia lakukan di masa lalu. Hal itulah yang membuat Fadil sangat takut jika harus kehilangan Yara. Karena dia saja pernah sok meninggalkan wanita ini, namun pada akhirnya dia yang tersiksa sendiri.


"Pokoknya kamu hanya akan menjadi milikku seorang. Tidak akan ada pria lain yang bisa merebut kamu dariku. Kalau ada, dia harus melangkahi mayatku dulu" ucap Fadil yang langsung memeluk tubuh Yara.


Yara terkekeh mendengar ucapan suaminya yang menggebu-gebu itu. "Iya Sayang, lagian aku juga tidak mau dimiliki pria lain kalau bukan kamu"


Fadil tersenyum mendengarnya, hatinya berbunga mendengar ucapan Yara barusan. Tentu saja dia juga tidak akan pernah membiarkan Yara direbut orang lain.


"Sudahlah, jangan memikirkan hal yang hanya akan membuat kamu cemas tidak jelas. Sekarang sebaiknya kita tidur saja sudah malam" ucap Yara.


Dan mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.


*****


Fadil terdiam saat dia baru saja membuka ponsel dan melihat pesan dari Yara. Istrinya meminta izin untuk pergi ke sebuah Cafe untuk bertemu dengan Sarah yang sedang berkunjung ke kota ini dan mengajaknya bertemu. Hanya saja seharian ini Fadil sibuk dengan beberapa meeting, hingga dia tidak sempat untuk mengecek ponselnya yang di silent.


"Kenapa aku jadi paranoid begini si"


Fadil sedikit cemas, karena pertemuannya dengan Gino waktu itu membuatnya jadi takut kalau sampai Yara akan bertemu lagi dengannya. Fadil seolah bisa melihat jika taapan Gino pada Yara terlihat berbeda, tatapan seorang pria yang tertarik pada seorang wanita.


"Aku harus menghubungi istriku, berjaga-jaga kalau sampai dia benar-benar bertemu dengan Gino"


Bergumam sendiri sambil langsung mencoba untuk menghubungi Yara. Namun entah kenapa nomor ponselnya malah tidak bisa dihubungi. Entah kenapa Yara mematikan ponselnya.


"Ah, sepertinya aku harus menyusul dia"

__ADS_1


Fadil berdiri dan menyambar jas yang sejak tadi tersampir di bagian belakang kursi yang dia duduki. Fadil langsung pergi keluar ruangan, menemui sekretarisnya di meja kerja.


"Jadwalku hari ini apa sudah selesai?"


Sang sekretaris langsung membuka buku agenda di atas meja itu. "Untuk pertemuan nanti malam, ditunda sampai lusa Tuan. Jadi, hari ini sudah tidak ada pertemuan apapun lagi"


"Baguslah, aku akan pulang sekarang. Ada urusan"


"Baik Tuan, hati-hati di jalan"


Fadil langsung pergi dengan mengendarai mobilnya menuju sebuah Cafe yang akan dikunjungi istrinya itu. Diperjalanan ini mereka tetap tidak bisa tenang, karena pikirannya yang selalu saja dihantui ketakutan tentang Yara yang mungkin saja akan diambil oleh Gino yang jelas sudah lama tertarik pada istrinya itu.


"Sial, pake macet segala lagi" gerutu Fadil saat harus melewati kemacetan di sore hari seperti ini.


Fadil melirik ke arah kanannya, dia sedang menunggu kemacetan dengan kesal. Namun lebih kesal lagi saat melihat sebuah mobil yang tepat berada disampingnya itu. Kaca jendela yang terbuka membuat Fadil bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di dalam mobil itu. Tangannya yang memegang kemudi, langsung terkepal kuat.


Fadil sudah siap untuk turun dari dalam mobil, namun suara klakson yang memekakkan telinga membuat dia sadar jika kemacetan di depannya sudah kembali normal. Sementara dia yang belum melajukan mobilnya, membuat kendaraan dibelakangnya terus membunyikan klakson karena ingin segera melaju.


Mobil disamping Fadil itu, juga sudah melaju kencang meninggalkan Fadil. Sepertinya kedua orang di dalam mobil itu tidak menyadari keberadaan mobil Fadil tadi.


Fadil langsung melajukan mobilnya dengan kencang, mengejar mobil yang sudah berjarak cukup jauh di depannya. Namun dia tetap berusaha untuk mengejar mobil itu dan menghentikannya.


Akhirnya Fadil bisa menyalip mobil di depannya dan membuat mobil itu berhenti di pinggir jalan seketika. Fadil langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri mobil itu dengan wajah yang merah padam menahan amarah.


"Keluar kalian!" teriak Fadil.

__ADS_1


Sungguh ini tidak seperti dugaannya sebelumnya. Yara juga merasa tidak tenang selama dia berada di dalam mobil bersama dengan Gino. Kejadian yang tidak disengaja sebenarnya.


Ketika tadi Yara akan pulang dengan menggunakan taksi, namun taksi yang dia tumpangi tiba-tiba mogok di tengah jalan. Dan pada saat itu Gino datang dan menawarkan tumpangan. Hingga akhirnya Yara juga tidak bisa menolak mengingat hari sudah sore dan takut suaminya keburu pulang ke rumah.


Tapi sekarang kejadiannya malah seperti ini, Fadil yang memergoki dirinya sedang bersama dengan Gino. Padahal memang tidak ada apapun diantara mereka, apalagi Yara yang hanya menganggap Gino sebagai seniornya sejak mereka kuliah dulu. Tidak pernah lebih dari itu.


Yara langsung keluar dari dalam mobil dan menatap Fadil yang sudah dipenuhi amarah, wajahnya saja sudah merah padam. "Sayang, kamu jangan marah dulu. Aku akan jelaskan semuanya"


Fadil menarik lengan Yara agar dia berada di sampingnya. Menatap tajam pada Gino yang berdiri santai di dekat pintu mobilnya. "Kau mau apa dengan istriku?!"


"Tidak mau apa-apa, aku hanya menolongnya saja. Memangnya tidak boleh aku membantu sesama teman satu kampus dulu?" ucap Gino santai.


"Iya Sayang, aku hanya numpang saja karena taksi yang aku tumpangi tadi tiba-tiba saja mogok. Jadi, kamu jangan salah faham dulu" ucap Yara, mencoba untuk menenangkan suaminya yang sedang dilanda kemarahan itu.


Fadil masih saja belum menghiraukan ucapan Yara yang mencoba membuatnya tenang. Dia menatap Gino dengan tajam penuh permusuhan. "Jangan pernah mendekati istriku lagi! Atau kau akan menyesal karena sudah berurusan denganku, karena aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati istriku!"


Lagi, Gino hanya tersenyum mendengar itu. "Kalau kau tidak ingin istrimu diambil orang lain, maka kau harus bisa membuatnya bahagia. Jangan membuat dia terluka, mengkhianati orang seperti Yara hanya sebuah keputusan bodoh!"


Fadil terdiam mendengar itu, dia menatap Gino yang masuk kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya. Saat berada disamping mereka yang masih berdiri, Gino menatap Yara dan Fadil. "Kalau kau masih ingin mempunyai ketulusannya, jangan pernah lukai hatinya. Karena bisa saja aku mengambilnya kapan pun darimu"


Mobil melaju cepat meninggalkan mereka yang masih berada di tempatnya. Fadil cukup tertegun mendengar ucapan Gino barusan. Tentunya tidak akan mungkin Gino tidak mengetahui tentang apa yang dirinya lakukan pada Yara. Karena dulu pernikahannya dengan Putri Ajeng terbuka untuk Publik dan disiarkan di beberapa chanel televisi.


"Sudah Sayang, jangan marah seperti ini terus. Aku minta maaf karena tidak mengerti perasaan kamu. Seharusnya aku menghindari Gino" ucap Yara, mencoba menahan Fadil yang terus terpancing emosi.


Fadil terdiam, dia tidak banyak berbicara lagi. Hanya mengajak Yara untuk langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2