
Waktu yang berlalu begitu cepat, usia pernikahan Fadil dan Yara sudah tiga tahun lamanya. Malam ini adalah hari anniversary ke tiga tahun pernikahan mereka. Fadil sengaja membawa Yara untuk makan malam diluar untuk merayakan acara Anniversary pernikahannya ini.
Sebuah kotak kecil memanjang yang di sodorkan oleh Yara pada suaminya di atas meja itu. Yara terlihat begitu cantik dengan penampilannya malam ini. Menggunakan gaun malam yang sangat indah, dan rambut panjangnya yang terurai rapi. Setelah sekian lama, akhirnya Yara bisa memiliki rambut yang panjang lagi.
"Apa ini Sayang?"
"Kamu buka saja"
Fadil semakin penasaran dengan hadiah yang diberikan oleh istrinya di hari Anniversary mereka berdua. Fadil mengambil kotak itu dan membukanya. Sebuah benda kecil memanjang yang terlihat di dalam sana. Fadil mengambil benda itu dengan matanya yang berkaca-kaca, dia sangat tidak percaya jika hadiah yang di berikan istrinya kali ini adalah sebuah kabar yang sangat baik.
"Sayang, kamu...?" Fadil mengusap ujung matanya yang tiba-tiba saja berair, dia masih tidak percaya dengan apa yang diberikan oleh istrinya ini.
"Di tiga tahun pernikahan kita ini, aku sangat bersyukur karena akhirnya bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Iya Sayang, aku hamil"
Fadil langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Yara yang duduk di sebrangnya. Fadil memeluk Yara dengan erat. "Sayang, dari kapan kamu tahu jika kamu hamil?"
"Satu minggu yang lalu, dan aku juga sudah periksa ke Dokter bersama Kak Sarah waktu itu"
"Kenapa baru bilang sekarang?"
Yara mengelus punggung suaminya yang memeluknya itu. "Karena aku hanya ingin membuat kejutan untuk kamu"
Fadil melerai pelukannya, dia menatap Yara dengan lekat. "Mulai saat ini, kamu harus jaga kesehatan dan jangan sampai kelelahan. Kita akan jaga bareng-bareng anak kita ini"
Fadil mengelus perut Yara dengan perasaan yang sangat bahagia. Dia berlutut di atas lantai, menempelkan telinganya di perut Yara.
"Baik-baik di perut Ibu ya"
__ADS_1
Banyak hal yang di alami Fadil selama istrinya hamil. Yara yang sulit makan dan selalu muntah-muntah, sekalinya dia ingin makan harus makanan yang aneh-aneh. Namun semua itu Fadil nikmati, karena masa-masa ini akan ada akhirnya juga.
Pertama kali mereka mendengar detak jantung calon anaknya. Sungguh menjadi sebuah kebahagiaan yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata lagi.
"Selamat ya, anak kalian perempuan"
Fadil mengecup punggung tangan istrinya yang sejak tadi dia genggam.Tentu saja Fadil sangat bahagia dengan semua ini.
"Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan ini"
Hari menegangkan juga dia alami Fadil, ketika dia harus menemani istrinya melahirkan. Yara yang meringis kesakitan membuat Fadil benar-benar panik dan cemas. Namun ketika suara tangisan bayi mereka untuk pertama kalinya terdengar, tentu saja membuat keduanya di liputi rasa bahagia.
Beberapa kali Fadil mengecup kening istrinya. "Terima kasih Sayang, karena kamu sudah berjuang untuk anak kita"
Yara tersenyum, dia menatap bayi mungil yang berada di atas dadanya. Tangan mungil itu menggenggam erat jari telunjuk Yara.
Kebahagiaan mereka yang semakin bertambah. Tidak pernah menyangka jika hidup mereka bisa sampai ke titik ini. Banyak sekali perjuangan dan rintangan yang mereka lalui selama ini. Bahkan Fadil yang pernah mengkhianati cinta mereka. Namun sekarang Fadil benar-benar bersyukur karena dirinya bisa mendapatkan kesempatan kedua dari istrinya. Dan Fadil tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.
"Aku mencintaimu, Yara"
"Aku juga"
######
Epilog..
Seorang anak perempuan berusia dua tahun itu berjalan menuju kedua orang tuanya. Balita menggemaskan itu memeluk kaki Ibunya dengan tawa renyah yang terdengar.
__ADS_1
"Yey Ibu menang, Kakak milih Ibu ya daripada Ayah"
Fadil memasang wajah cemberut, seolah dia memang benar-benar kesal dengan pilihan anaknya. Fadil langsung menahan tangan Yara yang ingin menggendong anaknya itu.
"Sayang ihh, kamu lagi hamil dan gak boleh gendong Kakak dulu. Kamu harus menjaga kandungan kamu"
Yara tersenyum mendengar itu, dia tidak jadi menggendong anak pertamanya itu. Karena pastinya dia tidak akan pernah bisa membantah suaminya. Pastinya Fadil akan sangat marah jika dia tidak menuruti perkataannya.
"Ayo lihat sini, biar di abadikan moment bahagia ini" teriak Putri Ajeng yang sudah memegang kamera digital miliknya.
Yara dan Fadil tersenyum, dia menatap ke arah Putri Ajeng untuk di foto.
"Sherin ikut.."
"Ayo sayang sini" teriak Yara sambil melambaikan tangannya pada Sherin.
Sherin berdiri di antara Yara dan Fadil yang sedang menggendong anak pertamanya. Jekrek.. jekrek.. Suara jepretan kamera dan kilatan cahaya dari kamera yang mengabadikan momen mereka ini. Foto Yara yang sedang hamil dan Fadil yang menggendong anak pertamanya, juga Sherin yang berada diantara mereka.
Foto itu terpasang di ruang keluarga dengan sangat ini. Yara menatap foto itu dengan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Tentu Yara tidak pernah menyangka akan menemukan kebahagiaan ini bersama Fadil, setelah banyaknya rintangan yang mereka lewati selama ini.
Fadil mengecup puncak kepala istrinya yang berada dalam pelukannya itu. Saat ini mereka sedang duduk di sofa dengan kepala Yara yang bersandar di dada Fadil.
"Terima kasih sudah mencintaiku dan bertahan dengan aku selama ini"
"Aku bahagia bersamamu, Fadil. Kita akan selalu bahagia selamanya"
Meski akan ada rintangan ke depannya, namun keduanya akan tetap bersama dan menghadapi semua masalah dengan selalu bersama. Sudah cukup sekali saja Fadil melakukan kesalahan sampai dia menyesal. Saat ini dia hanya akan hidup bahagia bersama Yara.
__ADS_1
...End.....