Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 50 (Ketakutan Terbesarnya, Adalah Fadil)


__ADS_3

Yara menggeleng pelan mendengar ucapan Fadil yang hanya sedang membuatnya tenang saja. Dia jelas tidak mau kalau sampai keadaan suaminya ini malah semakin memburuk. "Aku sudah panggilkan Dokter, mungkin sebentar lagi datang. Kamu harus diperiksa dulu agar benar-benar diketahui sakitnya seperti apa"


Fadil menghela nafas pelan, mungkin memang dia tidak akan pernah menolak semua keputusan istrinya ini. Jadi dia hanya bisa mengiyakan saja. "Baiklah, kalau begitu tolong berikan aku laptop sebentar saja. Aku harus kirimkan email dulu pada Sekretarisku. Biar aku bisa tenang kalau hari ini memang tidak bisa masuk bekerja"


Yara menghela nafas pelan, sepertinya memang dia tidak akan bisa menghalangi suaminya untuk tetap bekerja meski dari rumah. Akhirnya Yara memberikan apa yang diinginkan oleh suaminya. Dia duduk disamping Fadil dan menatap ke arah layar laptop yang menyala, memperlihatkan apa yang sedang Fadil kerjakan itu.


"Oh, jadi proyek taman hiburan baru ya. Tapi kenapa daerahnya di sedikit pelosok, kenapa tidak di kota-kota yang sering banyak pengunjungnya?" tanya Yara.


Fadil tersenyum, dia mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Karena aku tahi kota-kota pinggiran seperti ini banyak orang yang tidak mampu untuk membawa keluarganya ke taman hiburan, jika jaraknya terlalu jauh. Hanya untuk sebagian orang saja. Jadi selain untuk sebuah proyek Perusahaan, aku juga ingin membantu mereka semua untuk bisa merasakan apa yang orang lan rasakan"


Yara tersenyum mendengar itu, tentu saja dia merasa kagum dengan suaminya yang bahkan memikirkan tentang orang lain. Mungkin karena dulu mereka berdua juga bukanlah orang-orang berada yang bisa menghamburkan uang seenaknya.


"Kenapa kamu bisa kepikiran seperti ini? Wah kamu hebat sekali ya, aku bangga padamu" ucap Yara.


Fadil terdiam sejenak, ada hal yang memang membuatnya langsung berpikir untuk melakukan proyek ini. Tentu saja karena ada sebuah kejadian yang tidak bisa dia lupakan sampai saat ini.


"Karena dulu saat aku kecil dan orang tuaku masih ada, aku selalu ingin pergi ke taman bermain seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Namun, kamu tahu sendiri jika kita tinggal di sebuah kota terpencil yang jauh untuk bisa mengunjungi taman hiburan seperti itu. Keluargaku juga bukan keluarga yang berada, jadi kita selalu berpikir dua kali hanya untuk pergi ke tempat seperti itu dan nantinya hanya akan menghamburkan uang"


Yara terdiam, dia melihat sebuah kenangan yang cukup menyakitkan dalam diri suaminya. Yara memang tidak terlalu tahu dengan keluarga Fadil. Karena mereka bertemu dengannya setelah Fadil menjadi seorang yatim piatu. Yara langsung memeluk suaminya.


"Semoga saja kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak kita dan juga anak-anak lainnya yang mungkin bernasib sama seperti kamu di masa lalu" ucap Yara.

__ADS_1


Fadil tersenyum, itulah tujuannya dengan proyek ini. Dia juga akan memberikan harga tiket masuk yang bisa terjangkau untuk kaum bawah. Entahlah, dia merasa senang mengerjakan proyek ini, karena semua ini seolah pembuktian Fadil pada mendiang kedua orang tuanya jika dia sudah bisa memberikan kebahagiaan untuk anak-anak lain. Karena memang seperti itu pesan kedua orang tuanya. Kamu harus menjadi orang yang mampu menjadi sumber kebahagiaan orang lain. Begitulah pesan kedua orang tuanya.


"Nanti setelah proyek ini selesai, kamu dan Kayra yang akan pertama kali aku bawa kesana. Atau mungkin kita sudah punya anak lagi, karena pastinya proyek ini tidak akan selesai dalam waktu yang cepat" ucap Fadil.


Yara mengangguk mengerti, tentu saja sebuah proyek besar seperti ini akan membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa sampai selesai, apalagi ini baru saja mulai.


Setelah Dokter datang dan Fadil segera di periksa, sesuai dengan dugaan Yara jika suaminya itu memang terlalu kecapean hingga sekarang dia sakit seperti ini.


"Pokoknya untuk beberapa hari ini kamu diam di rumah. Kalau memang ada pekerjaan, bisa dari rumah saja. Setidaknya kalau kamu berada di rumah, pastinya aku akan selalu mengawasimu dan merawatmu"


Dan Fadil tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika istrinya sudah memberikan penegasan seperti itu.


Fadil hanya tersenyum ketika melihat istrinya yang sedang mengganti pakaian Kayra. Yara terlihat begitu lihai dalam mengurus bayi, padahal dia tidak mempunyai pengalaman untuk merawat anak seperti ini. Namun sepertinya aura keibuannya langsung keluar ketika dia merawat anaknya sendiri.


"Anak Ibu cantik sekali ya, kayak Ayah ya" ucap Yara, dia mengecup pipi anaknya yang begitu wangi khas bayi.


"Cantik itu karena mirip Ibunya, masa malah mirip Ayahnya" ucap Fadil yang merasa heran dengan ucapan Yara barusan.


Yara menoleh dan tersenyum pada suaminya, memangku anaknya dan langsung memberikan dia asi. "Karena aku sadar kalau anak kita ini seperti aku, pasti tidak akan secantik ini dong. Untung saja Ayahnya kamu, jadi dia terlihat begitu cantik"


Fadil langsung menggeleng heran dengan ucapan istrinya itu. "Kamu gak sadar ya kalau kamu itu cantik, lihatlah lesung pipi itu yang selalu memberikan keindahan saat kamu tersenyum. Makanya banyak sekali pria yang menginginkan kamu"

__ADS_1


Yara langsung memegang pipinya sendiri, dia memang mempunyai lesung pipi yang terkadang menjadi kelebihannya ketika dia tersenyum. Namun dia tidak merasa jika dia akan terlihat cantik hanya karena mempunyai lesung pipi seperti itu. Ah, Yara memang selalu menganggap dirinya itu jelek. Apalagi sekarang berat tubuhnya yang masih belum kembali turun setelah dia melahirkan.


"Em, aku saja masih gendut sampai sekarang..."


"Memangnya kenapa? Kamu cantik apapun bentuk tubuh kamu. Karena apa? Karena ketulusan yang kamu miliki yang akan membuat aura kecantikan kamu langsung terpancar" ucap Fadil yang memotong ucapan Yara.


Tidak suka saat istrinya itu malah membahas tentang bentuk tubuhnya yang menurut Fadil tidak menjadi masalah bagaimana pun bentuk tubuh Yara saat ini. Meski mungkin dulu Fadil terlalu bodoh karena sudah mengkhianati Yara hanya karena bosan.


"Kamu yakin? Aku harus mulai diet lagi, biar berat tubuhku kembali normal ya" ucap Yara.


Fadil langsung menatapnya dengan tajam, tentu saja dia tidak akan membiarkan hal itu kembali terjadi. Karena terakhir kali Yara mencoba menurunkan berat badannya, dia harus terkena penyakit parah yang bisa saja meninggal dunia.


"Jangan macam-macam, Yara! Apa kau tidak takut kembali sakit hanya karena mencoba untuk menurunkan berat badanmu itu" tekan Fadil.


Yara langsung terdiam, dia merinding sendiri melihat tatapan mata Fadil yang begitu tajam dan menakutkan. "Tapi 'kan, dulu aku terlalu banyak mengonsumsi penurun berat badan tanpa resep Dokter. Kalau sekarang aku akan mencoba untuk diet alami saja, tidak akan menggunakan obat. Aku hanya akan mengurangi porsi makan dan mengatur jam makan. Banyak yang berhasil loh hanya karena melakukan itu"


Fadil tetap menggeleng tegas, tentu saja dia tidak akan membiarkan begitu saja istrinya kembali menyiksa dirinya sendiri hanya karena ingin membuat berat tubuhnya turun.


"Aku tetap tidak setuju. Kamu itu sudah cantik seperti ini, lagian kenapa juga harus menurunkan berat badan. Sayang, kalau ketakutan terbesar kamu adalah aku. Kamu tenang saja, karena aku tidak akan pernah mengkhianati kamu lagi" ucap Fadil.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2