
Siang ini juga dia harus kembali datang ke perusahaannya yang baru itu untuk pertemuan pertama dengan investor besar dari luar negara. Fadil tentu tidak akan mengabaikan pekerjaan juga, karena dia sudah melakukan segala hal untuk bisa mendirikan perusahaan ini meski masih terkesan perusahaan yang kecil. Tapi cukup maju di banding dengan perusahaan baru yang lainnya.
Fadil tetap berlaku profesinoal ketika dalam bekerja. Fadil yang tidak pernah bisa mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan. Itu sebabnya kenapa dia selalu menjadi andalan dan kepercayaan dari Bimo sebagai atasannya. Tapi sekarang, Fadil yang tidak lagi percaya pada Bimo setelah apa yang dia lakukan pada Yara. Datang menemui Yara hanya untuk mengancam Yara agar pergi dari kota ini untuk meninggalkan Fadil.
"Terima kasih atas kepercayaan anda pada perusahaan kami. Saya janji akan memberikan yang terbaik" Fadil berdiri dan menyalami investor besar untuk perusahaannya itu.
Setelah rekan kerjanya itu pergi, Fadil kembali duduk di kursi dengan wajahnya yang langsung berubah sendu. Senyuman ramah dan bersahabat yang dia tampilkan di depan rekan kerjanya itu langsung sirna sekertika.
"Sekarang aku benar-benar merasakan kehampaan tanpa ada Yara. Kehadirannya memang telah memberikan banyak warna dalam hidupku ini"
Di tempat yang berbeda, Yara terdiam di atas kursi roda di depan sebuah kaca di kamar mandi. Sebagin kepalanya sudah mulai botak karena pengobatan yang dia jalani. Padahal dia baru satu kali menjalani pengobatan Radioterapi. Tapi efeknya benar-benar besar sekali. Yara memegang ujung rambutnya dan seketika rambutnya itu langsung terlepas dari kepalanya dengan begitu mudah.
"Aku sudah tidak cantik lagi, mana mungkin Fadil mau denganku saat ini"
Yara tersenyum miris dengan kata-katanya sendiri. Disaat seperti ini saja dia masih memikirkan tentang Fadil yang entah pria itu juga memikirkannya atau tidak.
Rambut kamu bagus, tetap panjangkan rambut kamu ya. Aku gak mau kalau kamu potong rambut terlalu pendek. Aku suka rambut kamu yang panjang seperti ini.
Yara mengingat ucapan Fadil, dia memang begitu suka dengan rambut Yara, Sering kali dia memainkan rambut Yara yang sedikit ikal itu jika sedang iseng. Tapi sekarang, Yara tidak bisa lagi menjaga rambutnya. Sudah pasti rambutnya akan habis. Yara keluar dari kamar mandi dengan helaan nafas panjang, dia mendorong sendiri ban kursi roda yang di dudukinya itu.
#####
Fadil masuk ke dalam rumah idaman yang dia belikan untuk di tinggali bersama dengan Yara itu. Tapi semuanya kacau karena kelakuannya sendiri. Seandainya.. Terlalu banyak kata seandainya dalam penyesalan yang Fadil alami saat ini. Namun apa yang bisa dia lakukan ketika semuanya sudah terjadi. Yara'nya pergi dan dia sekarang terjebak dengan pernikahan tanpa cinta ini.
__ADS_1
Rasa cinta sesaat yang Fadil rasakan pada Purti Ajeng hingga sekarang dia menyesal karena sempat mengikuti hawa naf*sunya itu. Menikah dengan Putri Ajeng bukan pilihan yang terbaik untuk Fadil, semuanya memang kesalahan dia karena langsung memilih menikah dengan Putri Ajeng hanya karena dia yang merasa bosan dengan hubungannya dengan Yara. Setiap aktivitas yang dia jalani bersama dengan Yara setiap harinya.
Fadil duduk di balkon kamarnya, menatap sebuah figura foto di tanganya. Wajah Yara yang tersenyum dengan begitu manis di dalam foto itu membuat Fadil semakin tidak bisa menahan rindunya pada gadis dalam foto itu.
"Sayangku, apa kamu tidak ingin kembali? Apa belum puas menghukum aku dengan segala penyesalan ini? Aku merindukanmu, Sayang"
Bayangan-bayangan masa lalu ketika dia masih bersama dengan Yara berputar dalam ingatan Fadil seperti kaset rusak. Terus berputar pada setiap hal yang dia lalui bersama dengan Yara. Hingga tanpa sadar air matanya menetes begitu saja di pipi Fadil. Dia begitu merindukan Yara, gadis manis yang pemalu namun mempunyai hati yang lembut itu, memang telah berhasil memiliki hati Fadil seutuhnya.
Hanya saja kebodohan Fadil karena rasa jenuh dengan kehidupannya dan kegiatan dia sehari-hari membuat dia mengkhianati cinta yang sudah dia bina dengan Yara selama ini.
Fadil keluar dari dalam kamar yang dia siapkan untuk bisa di tempati bersama dengan Yara. Namun ternyata semuanya tidak terwujud.
"Tuan"
Erwan, anak buahnya yang selalu Fadil percaya dalam hal apapun termasuk mengurus perusahaannya yang baru. Fadil menatap heran pada Erwan yang tiba-tiba datang ke rumahnya ini.Karena baru Erwan saja yang mengetahui rumah ini di antara karyawan Fadil yang lainnya.
"Saya sudah berusaha, tapi sampai saat ini saya belum menemukannya. Tapi informasi yang saya dapat, Yara melakukan taransportasi ke kota ini. Mungkin sekarang ini dia memang berada disini"
Fadil mengerutkan keningnya dengan sedikit bingung. Yara'nya kembali lagi ke kota ini. Itu artinya Fadil bisa mencarinya di kota ini. Namun Ibu kota yang begitu luas juga tidak akan mudah baginya untuk mencari keberadaan Yara.
"Kau yakin jika Yara memang kembali lagi kesini?"
Erwan menganguk, dia yakin dengan informasi yang dia temukan itu. "Iya Tuan, karena saat cek di beberapa bandara di sini. Tidak ada jejak penerbangan lagi atas nama Yara Adistya. Itu artinya memang dia masih berada di kota ini"
__ADS_1
Fadil mengangguk mengerti, dia memang harus segera mencari keberadaan Yara di kota ini. Meski memang tidak akan mudah.
Drett..Drett..
Fadil merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Melihat siapa yang menghubunginya, dan ketika dia tahu siapa yang telah menghubunginya membuat Fadil malas dan langsung mematikan panggilan itu.
Mau apalagi dia menghubungi aku, sepertinya memang aku harus segera mengurus pengunduran aku di perusahaannya,
"Kau pergi saja dan tetap mencari keberadaan Yara. Kumpulkan informasi sekecil apapun"
"Baik Tuan"
Fadil duduk di sebuah sofa yang ada disana, dia menghembuskan nafas kasar ketika dia mengingat bagaimana dirinya yang sekarang merasa begitu kesepian tanpa ada Yara di sampingnya.
Ponselnya kembali berdering, dan masih dari nomor yang sama. Membuat Fadil jengah dan akhirnya mengangkat panggilan dari Bimo itu.
"Fadil, kau cepat ke rumah sakit istrimu mau melahirkan"
Fadil terdiam mendengar itu, tanpa berkata lagi dia mematikan sambungan teleponnya dan segera pergi menuju rumah sakit. Fadil mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Setidaknya pikirannya sekarang mulai bisa lebih tenang. Karena jika memang Putri Ajeng melahirkan sekarang, maka akan lebih cepat juga dia bisa melakukan tes DNA dan mengetahui apa yang dia curigai selama ini, itu adalah kebenarannya atau bukan.
Tapi hatiku yakin jika anak yang di kandung oleh Putri Ajeng, bukan anakku.
Sejak Fadil mengetahui jika usia kandungan Putri Ajeng dan pernikahannya berjarak cukup jauh, Fadil merasa ragu jika anak itu adalah benar anaknya.
__ADS_1
Bersambung