
"Akhirnya ya Sayang, kita bisa mempunyai anak. Sekarang kamu tidak perlu merasa tidak percaya diri lagi ketika bertemu dengan orang lain yang sudah punya anak, karena akhirnya kita juga bisa mempunyai anak" ucap Fadil, dia mengecup punggung tangan Yara yang berada di genggamannya sejak tadi.
Yara hanya mengangguk saja, karena dia juga merasa jika sekarang ini akhirnya dia tidak akan merasa insecure lagi ketika bertemu dengan orang-orang yang sudah mempunyai anak. Akhirnya Tuhan mendengar semua do'anya selama ini.
Kabar bahagia ini masih belum mereka bicarakan pada siapapun. Yara hanya tidak ingin karena terlalu antusias sampai dia bicara pada semua orang di saat usia kehamilannya masih terlalu kecil. Menurut orang tua, itu tidak baik dilakukan.
"Sayang, pulang jam berapa sekarang?" tanya Yara pada suaminya yang sudah siap untuk pergi bekerja.
"Seperti biasa, memangnya ada apa? Mau aku belikan sesuatu?" tanya Fadil.
Sejak istrinya hamil, Fadil mulai memahami bagaimana Yara yang selalu menginginkan sesuatu yang dinamakan ngidam. Tapi sampai saat ini, Yara belum meminta yang aneh-aneh. Semuanya masih terbilang normal saja dan Fadil bisa mewujudkannya dengan mudah.
"Boleh titip mangga muda, aku ingin mangga muda" ucap Yara.
Fadil mengangguk, dia mengelus kepala Yara dan mengecup puncak kepalanya. "Tentu saja, apapun yang kamu inginkan akan berusaha aku wujudkan"
Yara tersenyum mendengar itu, memang suaminya ini selalu berusaha menjadi suami siaga sejak Yara hamil. "Terima kasih ya, aku yakin calon anak kita ini akan sangat bahagia mempunyai Ayah seperti kamu"
Fadil hanya tersenyum, dia berlutut di depan Yara yang sedang duduk di atas sofa. Dia mengelus perut rata Yara itu dan memberikan kecupan disana.
"Baik-baik ya Nak, jaga Ibumu dengan baik selama Ayah bekerja" ucap Fadil, seolah mengajak berinteraksi anak di dalam kandungan istrinya.
Yara hanya tersenyum sambil mengelus kepala Fadil yang berada di pahanya itu. Akhirnya dia bisa merasakan hal seperti ini juga. Ketika dulu dia hanya bisa melihat orang-orang yang melakukan hal seperti ini disaat istrinya hamil. Saat itu Yara hanya bisa berharap kalau suatu saat nanti dia bisa merasakan hal seperti itu. Dan akhirnya hari ini dia bisa merasakan hal ini juga.
__ADS_1
"Sudahlah, sekarang sana kamu pergi kerja. Nanti malah terlambat, aku akan baik-baik saja di rumah" ucap Yara.
Fadil mengangguk, dia kembali berdiri dan memberikan kecupan di kening Yara sebelum dia pergi untuk bekerja. Setelah mengetahui istrinya sedang hamil, maka semangat kerjanya juga semakin besar. Karena dia selalu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan ingin segera kembali ke rumah untuk melihat keadaan istrinya itu.
*******
Ketika malam ini Fadil hanya bisa menatap istrinya dengan sedikit merasa linu di giginya ketika dia melihat Yara yang memakan mangga muda yang dia bawa dengan bumbu rujak yang dia beli secara online beberapa hari lalu. Fadil malah merasa linu sendiri mendengar suara Yara yang mengunyah mangga muda itu.
"Sayang, kamu mau? Coba dulu deh, ini enak sekali" ucap Yara.
Fadil langsung menggeleng, tentu saja dia tidak akan kuat memakan mangga muda seperti itu. Apalagi di malam hari seperti ini. "Ah, kamu makan saja Sayang. Habiskan saja kalau memang kamu suka, aku tidak ingin kok"
Yara mengangguk saja dan kembali melanjutkan makannya. Rasanya memang begitu nikmat sekali ketika apa yang sudah dia bayangkan sejak tadi akhirnya bisa dia makan juga hari ini. Sudah sejak siang rasanya air liur Yara menetes karena membayangkan makan mangga muda dengan bumbu rujak seperti ini. Dan akhirnya sekarang dia bisa merasakan apa yang dia bayangkan sejak tadi.
Yara menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi setelah dia puas memakan rujak. Tangannya mengelus perutnya yang sudah merasa kenyang. Melihat itu, Fadil hanya tersenyum saja. Bahagia sekali melihat istrinya begitu senang ketika Fadil bisa menuruti apa yang dia inginkan.
"Mungkin bayinya memang sangat ingin memakan mangga muda ya. Sampai kamu kekenyangan seperti itu. Sekarang minum dulu vitamin dan susunya. Kalian juga membutuhkan nutrisi untuk bayi kita itu" ucap Fadil, dia menyodorkan segelas susu Ibu hamil yang sudah dia buatkan tadi.
Yara tersenyum mendengar itu, tentu saja dia begitu bahagia ketika suaminya yang begitu memperhatikannya sepertiĀ ini. Yara mengambil segelas susu itu dan meminumnya. Lalu dia juga meminum vitamin yang disodorkan oleh Fadil.
"Aku ngantuk sekarang" ucap Yara yang langsung menguap setelah itu.
Lagi, Fadil hanya dibuat tersenyum dengan tingkah istrinya ini. Apalagi ketika dia melihat wajah ngantuknya itu yang begitu menggemaskan. Fadil langsung berdiri dan menggendong Yara.
__ADS_1
"Memang sudah seharusnya kamu istirahat sekarang. Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam" ucap Fadil yang membawa Yara ke kamar.
Saat Fadil sampai di dalam kamar, dia menidurkan Yara di atas tempat tidur. Dia melihat istrinya yang sudah terlelap sejak dalam gendongannya tadi. Mungkin karena memang Yara yang sudah tidak kuat mengantuk sejak tadi. Fadil hanya tersenyum lucu dengan tingkah istrinya ini.
"Terima kasih telah bertahan denganku dan selalu berjuang dengan semua rintangan. Bahkan kau terlalu sabar menghadapi sikap ku ini" ucap Fadil sambil mengelus kepala istrinya ini.
Tidak akan pernah terpikirkan oleh Fadil akan seperti apa dirinya ketika dia harus kehilangan Yara. Bagaimana dia yang tidak akan menemukan seorang wanita setulus dan seikhlas Yara yang menerimanya dengan segala kekurangannya.
"Kasihan sekali istriku ini, pastinya sangat lelah dan kenyang setelah makan banyak. Ah, kesayangan aku ini memang sangat menggemaskan kalau sedang tidur seperti ini"
Fadil mengelus kepala istrinya dengan senyum bahagia. Bersyukur sekali karena dirinya bisa melihat istrinya bisa mendapatkan keinginannya untuk bisa hamil.
********
Ketika Yara bangun pagi ini, dia melihat suaminya yang masih terlelap sambil memeluknya. Yara tersenyum melihat wajah teduh Fadil yang sedang terlelap. Yara mengelus pipi Fadil dengan lembut, dia begitu bahagia karena sekarang sudah memberikan kebahagiaan pada suaminya. Karena dia tahu kalau suaminya itu juga pastinya sangat berharap mempunyai seorang anak. Dan akhirnya kali ini dia bisa mewujudkan hal itu.
"Sayang, bangun yuk. Kamu bekerja hari ini" bisik Yara, dia mengecup pipi suaminya untuk membangunkannya.
Fadil bergumam kecil, lalu dia menggeliat sebelum membuka kedua matanya. Tersenyum ketika melihat Yara di depannya. Fadil langsung mengelus pipi Fadil dengan lembut.
"Sayang, kenapa kamu cantik sekali? Ah, aku jadi tidak bisa melihat wajah cerahmu ini. Kau begitu membuatku silau" ucap Fadil yang menyipitkan matanya, seolah dia memang sedang merasa silau dengan Yara.
Yara tertawa mendengar gombalan receh suaminya itu. "Bangun cepat, aku bukan lagi ABG Yang suka kau gombal seperti itu. Jadi tidak perlu dengan memberikan gombalan receh seperti itu"
__ADS_1
Bersambung