
Satu minggu berlalu dan keadaan Fadil pasca operasi juga sudah membaik. Bersyukur karena sekarang dia sudah bisa pulang dan keadaannya yang semakin membaik. Selama itu juga dia tidak menemui Yara, bukan tidak menemuinya tapi dia hanya memperhatikannya dari jauh. Fadil ingin memulihkan dirinya dulu sebelum dia bertemu kembali dengan wanitanya itu.
Fadil kembali pulang ke rumah miliknya yang dulu sengaja dia beli untuk di tinggali bersama Yara sebelum Fadil melakukan hal bodoh yang dia sesali sampai saat ini.
"Aku akan segera menemuimu Yara setelah aku pulih"
Fadil harus segera pulih, karena banyak hal yang harus dia urus. Kemarin hasil tes DNA juga baru saja keluar, Fadil berencana untuk mengambilnya besok pagi. Hari ini dia harus benar-benar memulihkannya.
Sementara di rumah sakit, Yara masih harus menjalani pengobatan karena kanker yang tidak langsung sirna begitu saja dalam tubuhnya. Sebenarnya Yara sudah lelah dengan semua ini. Hanya saja dia tidak bisa berhenti, karena entah kenapa dia tetap mengingat ucapan Fadil waktu itu.
Berjuanglah demi aku.
Bodoh! Karena Yara masih tidak bisa melupakan Fadil. Seolah apa yang dia katakan akan selalu Yara ingat dan menjadi semangat untuk Yara.
"Mas, kemana Fadil? Saat itu dia pernah datang menemuiku dan dia bilang akan menemuiku lagi. Haha.." Yara tertawa lucu dengan ucapannya sendiri, dia tertawa tapi air matanya yang menetes begitu saja yang langsung dia usap dengan kasar. "...Aku yang terlalu bodoh karena masih saja berharap ya. Padahal aku tahu kalau dia juga sudah mempunyai tanggung jawab sendiri pada istri dan anaknya"
Keanu menghela nafas pelan melihat bagaimana rapuhnya Yara saat dia membicarakan tentang Fadil. Semua ini membuktikan seberapa besar cinta Yara pada Fadil yang tidak bisa di hapus oleh waktu yang terpisah.
"Mungkin Fadil sedang banyak urusan Ra" Seandainya kamu tahu jika Fadil juga sedang memulihkan dirinya sama dengannya.
Yara tersenyum mendengar itu, jelas dia tahu jika apa yang di bicarakan oleh Keanu hanya untuk menghibur Yara. "Sudahlah Mas, memang akunya yang bodoh karena masih berharap pada seseorang yang jelas tidak akan bisa aku miliki sampai kapan pun"
Keanu merah tangan Yara dan menggenggamnya, dia tahu bagaimana Yara yang mencintai Fadil dengan begitu besar. "Ra, apa kamu percaya takdir?"
Yara mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan Keanu. Tapi akhirnya dia mengangguk. Ya, Yara percaya takdir. Tidak mungkin ada jalan hidupnya yang seperti ini jika tidak ada takdir Tuhan. TIdak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.
"Percayakan saja semuanya pada takdir Tuhan, karena aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hidup kita ini. Semuanya adalah rencana Tuhan, dan akan selalu ada pelangi setelah hujan. Matahari akan kembali terbit setelah badai berlalu"
__ADS_1
Ya, harapan masih tetap ada selama masih hidup di dunia ini. Dan Yara percaya itu, takdir Tuhan pasti yang terbaik untuknya.
######
Fadil memegang hasil tes DNA di tangannya, dan entah dia harus bahagia atau tidak ketika melihat hasil dari tes itu. Apa yang telah dia duga memang benar terjadi. Selama ini Fadil hanya di bohongi oleh Putri Ajeng. Sandiwara Putri Ajeng yang benar-benar berhasil membuat Fadil terbodohi hingga dia tega meninggalkan Yara hanya demi dia.
"Hahaha.. Jadi memang benar kalau bayi itu bukan anakku"
Fadil tertawa, namun ada air mata yang menetes di pipinya. Rasa sakit akibat penyesalan yang semakin besar dalam hatinya. Setelah dia meninggalkan Yara, bahkan dia tidak pernah tahu menahu tentang Yara yang sedang sakit parah. Semuanya hanya karena kebodohannya yang lebih memilih Putri Ajeng. Dan sekarang apa hasil dari pilihannya ini? Hanya sakit dan hati yang begitu terluka.
"Anda terbukti bukan Ayah biologis dari bayi yang di lahirkan dari Nona Putri Ajeng"
Fadil menganguk, dia segera berpamitan pada Dokter dan dia pergi ke rumah Putri Ajeng untuk memberikan hasil tes DNA itu. Keputusannya semakin yakin untuk berpisah dengan Putri Ajeng, Fadil memang harus segera mengambil keputusan.
Srakk..
Putri Ajeng mengambil kertas di atas meja dan segera membukanya. Dia sudah menduga jika hasilnya tentu saja sesuai dengan kebenarannya. Namun Putri Ajeng tetap saja tidak akan membiarkan Fadil kembali pada Yara.
"Terus kamu mau melakukan apa? Ingat Fadil, kamu sudah menikah denganku?"
Fadil terkekeh mendengarnya, tentu saja dia tahu kalau Ajeng memang wanita egois yang tidak akan pernah mau mengalah. Tapi tentu saja Fadil juga tidak akan pernah mengalah dengan siapapun.
"Tidak peduli kau setuju atau tidak, tapi aku akan tetap menceraikanmu!"
"Fadil!! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk kembali pada wanita itu"
Fadil tidak menghiraukan ucapan Putri Ajeng yang terdengar begitu kencang. Fadil terus berjalan meninggalkan rumah itu dan tidak lagi memperdulikan Putri Ajeng.
__ADS_1
"Sayang, aku akan menemuimu sekarang"
Fadil melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Fadil tidak sabar untuk bertemu dengan Yara, tapi sebelum itu dia menghubungi anak buahnya untuk mempersiapkan pecerainya.
Ketika Fadil sampai di rumah sakit, dia langsung menuju ruangan Yara. Dia menatap Yara yang sedang terbaring di atas ranjang pasien. Fadil masuk ke dalam ruangan, Yara langsung menoleh ke arahnya ketika dia mendengar suara pintu terbuka.
Yara terdiam saat melihat Fadil yang masuk ke dalam ruangannya. Rasanya seperti ingin menangis, namun air mata tidak bisa keluar dari matanya. Yara begitu merindukan sosok pria itu, namun dia tidak bisa menunjukan rasa rindunya ketika dia sadar jika dirinya hanya seorang mantan kekasih bagi Fadil.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?"
Yara menatap Fadil yang sekarang udah berdiri di samping ranjang pasien yang dia tempati. "Fa-fadil? Kamu datang?"
Fadil tersenyum, dia mengelus pipi Yara dan mengecup keningnya. "Iya Sayang, aku datang. Maaf karena baru bisa datang sekarang, karena aku masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan beberapa hari ini"
Yara mengangguk, entah dia sadar atau tidak tapi jelas Yara begitu merindukan Fadil. Meski dia tidak bisa mengatakannya, tapi dari tatapannya saja sudah cukup terlihat bagaimana rasa rindu Yara yang begitu besar pada Fadil.
Fadil menundukan wajahnya ketika melihat tangan Yara yang perlahan terangkat dan ingin menyentuh wajahnya. Namun tangan itu tidak kunjung sampai karena Yara malah menurunkan tangannya kembali.
Aku tidak akan membiarkan Fadil kembali padamu, Yara. Fadil sudah menjadi milikku.
Ucapan Putri Ajeng yang tiba-tiba terlintas dalam ingatan Yara. Bagaimana Yara yang sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan meninggalkan Fadil dan tidak mau merusak pernikahan Fadil dan Putri Ajeng.
"Pergilah, jangan temui aku lagi Fadil. Aku sudah tenang hidup sendiri dan tanpa kamu di sampingku"
Deg....
Bersambung
__ADS_1