
Fadil mulai tidak menuruti semua perkataan mertuanya itu. DIiam-diam dia mulai menanam saham di beberapa perusahaan tanpa sepengetahuan keluarga Ajeng, termasuk dengan istrinya sendiri.
Entahlah, tapi Fadil hanya berpikir jika suatu saat nanti dia terpaksa harus mundur dari pernikahan ini, maka dia tidak akan menjadi pria yang jatuh miskin dan luntang lantung tanpa punya arah tujuan. Entahlah kenapa Fadil sampai berpikir jika dirinya akan berpisah dengan Putri Ajeng suatu saat nanti, padahal sebentar lagi dirinya akan mempunyai anak.
"Kalau memang kamu tidak rela melepaskan mantan pacar kamu yang gendut itu, kenapa kamu mau tidur denganku?"
Fadil menghela nafas pelan, setiap pulang bekerja maka dia akan mendapatkan istrinya yang marah-marah tidak jelas dan selalu menghubungkan pertengkaran mereka dengan Yara yang Fadil saja tidak tahu dimana keberadaannya sekarang.
"Kamu bisa gak untuk tidak terus ngajakin aku ribut setiap aku pulang dari kantor? Aku capek abis pulang kerja, dan kamu malah menyambut aku dengan segala pikiran negatif kamu itu!"
Fadil mulai merasa tidak adanya kenyamanan tinggal di rumah istirnya ini. Karena dia yang merasa tidak di hargai oleh istrinya dan oleh keluarga dari istrinya juga. Fadil yang tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi tingkah laku istrinya yang selalu saja mencari sumber pertengkaran diantara mereka berdua.
Fadil menatap Putri Ajeng dengan lekat. "Kamu bisa sekali saja hargai aku sebagai suami kamu. Cukup Papi kamu yang tidak pernah mau menghargai setiap apa yang aku lakukan. Tapi apa kamu tidak bisa menghargai aku sebagai suami kamu? Sedikit saja"
"Kenapa aku harus menghargai suami yang masih menyimpan perasaan pada mantan pacarnya yang gendut itu"
Plak..
Fadil yang tidak pernah di bentak atau sampai tidak di hargai seperti ini. Yara selalu begitu menghormati dirinya dan tidak pernah bersikap seperti ini pada Fadil. Penyesalan yang semakin besar Fadil rasakan.
"Kamu gila Fadil, kamu berani sekali menampar aku! Hanya demi membela gadis gendut itu kamu sampai menampar istri kamu yang sedang hamil"
Fadil menghembuskan nafas berat, dia juga tidak tahu kenapa kahir-akhir ini dirinya gampang sekali marah. Apalagi ketika Putri Ajeng selalu menjelekan Yara.
__ADS_1
"Sudahlah, aku lelah dan ingin mandi"
Fadil berlalu ke kamar mandi, membuat Putri Ajeng semakin kesal di buatnya, Dia menatap punggung suaminya yang masuk ke dalam ruang ganti.
Arghhh...
Ajeng meremas rambutnya sendiri, merasa frustasi dengan pernikahan yang saat ini sedang di jalaninya. Dia yang ingin mengatur hidup Fadil, sekarang suaminya itu malah semakin berani melawan. Bahkan pada Ayahnya juga. Alasan balas budi dan derajat Fadil yang telah di angkat oleh keluarga Ajeng, sudah tidak berpengaruh lagi pada Fadil. Sekarang pria itu sudah berani untuk melawan.
"Semua ini gara-gara wanita itu, kenapa dia gak mati saja sekalian. Pergi jauh pun percuma kalau Fadil masih memikirkannya"
Fadil terdiam di balik pintu ruang ganti, jelas dia mendengar ucapan Ajeng barusan. Matanya terpejam dengan air mata yang menetes begitu saja, Fadil mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya saat ini.
"Jadi, dia tahu kalau Yara telah pergi. Apa mungkin Yara pergi juga karena ulahnya, kalau sampai semua itu benar maka aku tidak akan tinggal diam saja"
Sepertinya Fadil harus mulai menyelidiki semuanya, meski dia tidak yakin jika dirinya akan bisa menemukan titik terang atas kepergian Yara dan keberadaan Yara saat ini.
Harapan Fadil hanya bisa memulai semuanya dari awal dengan Yara. Tapi apa itu bisa? Setelah semua luka yang dia torehkan di hati gadis yang mencintainya dengan tulus. Fadil sadar jika dirinya hanya terpesona sesaat pada Ajeng, karena rasa bosannya hidup bersama dengan Yara telah menjerumuskan dirinya pada pernikahan ini. Dan saat ini dia menyesali semua yang dia lakukan.
#######
Yara terdiam saat mendengarkan penjelasan Dokter. Pagi ini dia kembali datang ke rumah sakit sendirian, untuk mengambil hasil dari pemeriksaannya kemarin sore. Yara juga sudah menyiapkan hatinya jika hasilnya mungkin tidak akan baik.
"Apa anda mengonsumsi obat tanpa resep Dokter selama ini? Karena hal ini juga dapat memicu penyakit ini, ginjal anda rusak dan semua itu bisa efek samping dari obat-obatan yang anda konsumsi selama ini"
__ADS_1
Yara terdiam beberapa saat, dia ingat jika sampai saat ini dia masih mengonsumsi obat pelangsing tubuh tanpa resep Dokter sama sekali. Dia hanya membelinya lewat online saja.
"Sebenarnya saya mengonsumsi obat pelangsing selama 3 bulan ini. Bahkan sampai saat ini"
Dokter menghela nafas mendengar itu, seolah dia sudah menduga apa penyebab penyakit yang saat ini sedang di derita oleh pasiennya.
"Boleh saya lihat obat pelangsing seperti apa yang kamu konsumsi?"
Yara merogoh tasnya dan mengeluarkan obat pelangsing yang selama ini dia konsumsi, hingga berat tubuhnya benar-benar turun dengan begitu drastis. Menyerahkan obat itu pada Dokter yang langsung menelitinya. Memang banyak kandungan zat yang tidak seharusnya di konsumsi terlalu banyak oleh tubuh.
"Kamu berhenti mengomsumsi obat ini dan menjalani perawatan semestinya. Kanker yang kamu alami ini telah merusak ginjal kamu, atau mungkin bisa saja sampai merusak kedua ginjal kamu"
Tess....
Air matanya yang tidak bisa di tahan lagi, Yara tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami hal seperti iini. Mempunyai penyakit yang begitu parah dan entah bisa sembuh atau tidak. Dia juga tidak tahu, karena Dokter pun tidak menjamin dirinya akan sembuh jika mengikuti semua pengobatan yang dianjurkan oleh Dokter.
Yara berjalan gontai dengan surat hasil pemeriksaan yang ada di tangannya. Semuanya masih terlalu mengejutkan bagi Yara. Seolah saat ini dunia sedang menguji hidupnya. Merasa jika dunia ini terlalu kejam untuk Yara.
Kenapa harus aku, Ya Tuhan?
Pertanyaan yang mengandung segala keputus asaan itu selalu ada di pikiran Yara. Merasa jika hidupnya semakin hancur setelah dia kehilangan Fadil. Dan sekarang ada sebuah penyakit yang bersarang di tubuhnya. Membuat Yara harus mulai menghitung mundur untuk mas hidupnya yang entah akan berapa lama lagi dia masih bisa bertahan hidup dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya.
Seolah ikut merasakan kesedihan Yara, langit pun mulai meneteskan air hujan ke bumi. Membasahi tubuh Yara yang sedang putus asa. Yara jatuh terduduk di atas jalanan, dia menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa harus aku, Tuhan?" teriakannya yang teredam oleh suara hujan yang deras dan petir yang saling bersahutan.
Bersambung