
Yara menatap pantulan dirinya di cermin, saat ini dia menatap rambutnya yang mulai tumbuh sejak beberapa bulan berlalu. Yara menghela nafas pelan melihat penampilannya saat ini. Rambut yang baru saja tumbuh beberapa helai saja. Benar-benar tidak tahu sampai kapan rambutnya akan panjang kembali seperti dulu.
"Tuhan memberikan cobaan yang tidak mudah untuk aku, dan bersyukur karena aku bisa melewati semuanya. Meski saat ini aku masih harus banyak berjuang untuk memulihkan keadaanku"
Yara sedikit terlonjak kaget saat tiba-tiba suaminya muncul dan memeluknya dari belakang. "Sayang, sudah selesai mandinya. Ganti baju gih, aku sudah siapkan pakaian kerja kamu"
Cup...
Bibir basah Fadil mencium pipi Yara, dia menatap kekasih hatinya di balik pantulan cermin. "Kamu cantik, jangan merasa tidak percaya diri dengan siapapun. Karena yang terpenting dimata aku, kamu yang tercantik"
Yara hanya terkekeh pelan, tahu jika Fadil hanya sedang menghiburnya dengan perkataannya itu. "Pakai baju sana, aku mau menyiapkan sarapan dulu"
Fadil mengangguk, dia mencium pipi Yara sebelum dia melepaskan pelukannya dan berlalu untuk memakai pakaiannya. Sementara Yara juga langsung keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
Drettt...
Ponselnya yang berdering membuat Yara langsung mengambilnya. Mengangkat telepon dari Sarah. Tangan satunya masih mengaduk masakan di dalam wajan.
"Hallo Kak, apa kabar? Bagaimana keadaan Kakak disana?"
"Aku baik Ra, aku sengaja menghubungi kamu karena mau memberi tahu saja jika sekarang aku sedang hamil. Dan besok akan ada acara syukuran kecil-kecilan di rumah aku. Kamu dan suami kamu datang ya"
Yara tersenyum mendengarnya, tentu dia merasa ikut bahagia dengan kabar kehamilan Sarah ini. Namun ada gurat kesedihan di wajahnya. Karena sampai saat ini dia belum mempunyai kesempatan untuk mengandung anaknya Fadil. Sudah beberapa kali cek ke Dokter dan jawabannya selalu sama. Jika belum saatnya dan kemungkinan beperngaruh dari penyakit yang pernah di deritanya. Tentu saja tidak ada yang bisa Yara lakukan selain bersabar.
"Wah selamat ya Kak, aku ikut senang dengarnya. Berapa usia kandungan Kakak?"
"Sudah mau jalan 4 bulan sebenarnya, cuma sengaja saja baru memberi tahu keluarga sekarang"
Yara mengangguk mengerti, mungkin memang Sarah ingin memberikan kejutan. "Aku akan bicara dulu dengan suamiku ya Kak. Semoga saja dia tidak sibuk dan bisa datang kesana"
__ADS_1
"Iya Ra, aku menunggu sekali kehadiran kalian"
"Iya Kak"
Yara menyimpan ponselnya di dalam saku apron yang dia gunakan. Kembali fokus memasak. Setelah masakannya matang, Yara langsung menyajikannya di atas meja makan. Sedikit terdiam ketika mendengar ucapan Sarah tadi di telepon. Tiba-tiba tangannya mengelus perutnya yang rata.
Ya Tuhan, kapan aku bisa memberikan keturunan pada suamiku.
"Sayang.."
Panggilan suaminya itu membuat Yara mengerjap, dia tersenyum pada Fadil yang berjalan mendekat padanya. "Sarapan dulu Sayang, aku ambilkan ya"
Fadil mengangguk, dia menarik kursi di samping Yara dan duduk disana. Memperhatikan istrinya yang sedang mengambilkan makanan untuknya. Benar-benar sosok istri yang dia inginkan. Sangat jauh berbeda dengan pernikahannya bersama dengan Putri Ajeng pada saat itu. Bagaimana Putri Ajeng yang tidak pernah melayani Fadil seperti ini.
"Oh ya barusan Kak Sarah nelepon, katanya dia akan mengadakan syukuran untuk kehamilannya. Kita diundang untuk datang kesana"
Fadil yang sedang menikmati makanannya, langsung mendongak dan menatap istrinya. Jelas terlihat ada gurat kesedihan dari Yara, meski istrinya itu mencoba menutupi dengan sebuah senyuman.
Yara menatap suaminya, dia malah merasa bingung karena Fadil yang malah bertanya seperti itu padanya. "Aku 'kan terserah kamu saja. Kalau memang kamu gak sibuk dan bisa menyempatkan datang, tentu aku akan datang"
"Yaudah, kalau begitu kita akan datang kesana. Tapi janji untuk tidak bersedih selepas kita pergi dari sana"
Yara semakin bingung dengan ucapan suaminya itu. Keningnya berkerut dalam karena ucapan Fadil yang membuatnya bingung. "Maksud kamu apa? Kenapa juga aku harus bersedih? Aku senang mendengar kabar kehamilan Kak Sarah, pastinya sekarang Mas Keanu juga sangat bahagia"
Fadil menenggak air putih dalam gelas yang di siapkan istrinya. Lalu mengambil tisu untuk mengelap mulutnya. Dia menyudahi makannya.
"Jangan bersedih karena kehamilan Sarah dan kamu berpikir tentang kamu yang belum juga hamil sampai saat ini. Sayang, kamu hamil atau tidak pun, aku akan tetap bersama denganmu"
Deg..
__ADS_1
Air mata Yara jatuh begitu saja mennegar ucapan Fadil barusan. Dia merasa jika dirinya terlalu banyak kekurangan untuk bisa bersanding bersama dengan Fadil saat ini.
"Aku juga berharap bisa mempunyai anak bersamamu. Namun, aku juga tidak bisa memaksakan diri, karena semuanya sudah ada yang mengaturnya"
Fadil meraih tangan Yara yang berada di atas meja. Mengelus punggung tangan istrinya dengan lembut. "Sayang, kita akan terus berusaha. Namun tidak untuk memaksakan. Karena kita hanya bisa berusaha, selebihnya Tuhan yang akan menentukan"
Bersyukurnya Yara bisa menemukan pria seperti Fadil yang sekarang menjadi suaminya. Fadil yang tidak banyak menuntut pada Yara dan menerima Yara dalam segala keadaan.
######
Satu minggu menikah, Sarah benar-benar pindah ke luar kota. Tempat dimana suaminya tinggal dan mempunyai perusahaan disana. Sarah hanya ingin meninggalkan semua kenangan buruk di kota ini dan memulai kisah baru di tempat tinggal yang baru.
"Ya, sedikit lagi Sayang. Kamu pasti bisa"
Sarah berteriak antusias saat melihat Sherin yang mulai bisa berjalan. Melangkah sedikit demi sedikit sampai balita itu bisa sampai pada pelukan Sarah. Rasanya waktu berlalu terlalu cepat, sampai Sarah tidak tahu lagi bagaimana rasanya terluka karena tidak diperdulikan oleh Ayahnya sendiri. Sekarang hidup Sarah benar-benar penuh cinta bersama dengan suaminya dan Sherin, di tambah lagi sekarang dia yang akan mempunyai anak.
"Nona, itu ada Nona Ajeng"
Sarah menoleh pelayan yang memberikan kabar itu. Sarah mengangguk, dia menggendong Sherin dan berlalu ke ruang tengah.
"Hai Kak, apa kabar?"
Sarah tersenyum, dia duduk di sofa tunggal yang ada disana sambil memangku Sherin. "Kakak baik, kamu bagaimana? Kapan Papi akan datang kesini?"
"Nanti sore Kak, sekarang Papi masih di Kantor. Dia senang sekali mendengar kabar kehamilan Kakak"
Sarah mengangguk saja.
"Oh ya Kak, sebenarnya kedatangan aku kesini juga untuk berbicara tentang Sherin Kak"
__ADS_1
Sarah terdiam mendengar ucapan adiknya itu. Selama ini Putri Ajeng memang sudah banyak berubah, dia sering berkunjung ke rumah Sarah hanya untuk menemui anaknya. Bahkan dia juga sering membelikan Sherin mainan dan pakaian. Perubahan itu cukup membuat Sarah senang, namun sampai saat ini Putri Ajeng tidak pernah membahas tentang anaknya ini yang akan dia rawat sendiri.
Bersambung