
Fadil jadi kebingungan sendiri saat dia harus menghadapi istrinya yang sedang cemburu. Ketika dia perlahan masuk ke dalam kamar, dia langsung merasakan hawa yang mencekam. Tatapan tidak suka Yara membuatnya tidak nyaman.
"Sayang, kenapa kau harus cemburu pada gadis remaja seperti itu. Sudah tahu kalau aku tidak akan pernah lagi berpaling darimu" ucap Fadil, dia melangkah pelan ke arah Yara.
Yara duduk di atas sofa dengan bersidekap dada. Masih kesal pada suaminya, yang jelas kecemburuan yang menggelora di dalam hatinya. "Aku tidak mau kamu tebar pesona seperti itu lagi pada gadis diluaran sana. Kamu itu sudah punya istri, kalau memang ingin berpaling jangan menduakan aku. Ceraikan saja dulu aku"
"Yara!" bentakan Fadil itu membuat Yara terlonjak kaget. "...Cukup berbicara seolah aku akan berkhianat lagi dari kamu. Aku sudah menyadari kesalahan aku di masa lalu, jadi kau tidak perlu terus membahas hal yang sudah berlalu. Dan aku tidak suka kau mengatakan soal perceraian!"
Yara terdiam mendengar suara keras Fadil yang terlihat sangat marah padanya. Sudah lama rasanya dia tidak melihat Fadil marah seperti ini. Semuanya hanya karena kata perceraian yang keluar dari mulut Yara barusan.
"Aku hanya bicara seumpama saja, kan tidak tahu kalau suatu saat nanti kamu akan mengulangi kesalahan yang sama. Bukannya seseorang yang sudah pernah berselingkuh, akan mengulangi kesalahan yang sama"
Yara yang mempunyai mood yang buruk ketika sedang datang bulan. Membuat dia malah ikut berteriak kencang pada suaminya. Seolah ingin menegaskan jika apa yang Yara katakan barusan adalah kebenarannya.
Fadil menatap Yara dengan tajam, benar-benar tidak suka dengan ucapan istrinya barusan. "Cukup ya! Gak semua orang bisa sabar menghadapi sikap kamu ini. Cuma aku yang bisa sabar menghadapi kamu yang labil. Kamu yang selalu gak percaya diri dan sering menyalahkan diri sendiri. Dan sekarang kamu sedang mencoba menyalahkan aku? Iya?! Setelah capek menyalahkan dirimu sendiri, sekarang kamu malah menyalahkan aku?"
Yara tertegun mendengar ucapan Fadil, mencoba mencerna setiap ucapannya. Hingga Yara menyadari jika selama ini dirinya terlalu labil. Mungkin segala perasaannya ketika dia selalu merasa jika dirinya tidak sempurna untuk Fadil, tapi suaminya menganggap Yara sebagai wanita labil yang sama sekali tidak mempunyai percaya diri.
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu" Fadil langsung keluar kamar dengan membanting pintu kamar dengan keras.
Yara hanya terdiam melihat itu, tiba-tiba saja air matanya menetes begitu saja. Dia langsung mengusap kasar air matanya itu. Setelah pernikahan dua tahun, baru kali ini mereka bertengkar cukup hebat seperti ini.
__ADS_1
"Dia tidak akan mengerti karena tidak tahu apa yang aku rasakan"
******
Fadil menghabiskan waktu malam ini di ruang kerja. Rasanya dia masih harus menenangkan dirinya yang dikuasai emosi. Dia marah karena mendengar kata perceraian dari istrinya itu. Fadil paling tidak suka mendengar Yara mengatakan tentang perceraian. Padahal kenyataannya dia yang tidak akan pernah bercerai dengannya apapun yang terjadi.
Tapi kali ini Fadil benar-benar marah karena dia merasa jika Yara tidak mempercayainya tentang perasaannya ini. Seoalah Yara menganggap kalau Fadil ini akan tetap menjadi pria bajingan seperti dulu. Padahal sudah susah payah dia berubah lebih baik lagi.
Fadil mengusap wajah kasar, dia masih bingung kenapa istrinya itu selalu saja menjadi wanita yang memikirkan masa lalu yang sudah lama berlalu. Seolah tidak akan pernah melupakan apa yang sudah terjadi.
Untuk hal ini sepertinya Fadil melupakan satu hal. Perempuan akan memaafkan, tapi dia akan sulit untuk melupakan.
Akhirnya dini hari, Fadil kembali ke kamarnya. Dia juga tidak bisa terus diam seperti ini di saat dirinya sedang bertengkar dengan sang istri. Dia pergi ke kamarnya, menatap Yara yang ternyata sedang tidur. Perlahan Fadil menghampirinya dan duduk di pinggir tempat tidur.
Dan ketika pagi ini Yara terbangun, dia melihat punggung suaminya yang tidur dengan membelakanginya. Yara jadi berpikir kalau suaminya itu masih begitu marah padanya.
Yara perlahan bangun, tanpa berniat membangunkan suaminya. Yara tidak mau kalau sampai harus mengulang perdebatan semalam. Jadi dia biarkan saja dulu Fadil tidur dengan tenang agar pikirannya juga tenang.
Selesai mandi, Yara masih melihat suaminya yang tertidur. Sepertinya Fadil masih belum ingin untuk bangun pagi ini. Yara membiarkan saja, dia memilih turun ke lantai bawah dan menyiapkan masakan.
Saat dia masih menyiapkan sarapan, suaminya datang masih dengan pakaian tidurnya. Sepertinya dia baru sekali bangun dan belum sempat ke kamar mandi.
__ADS_1
Yara masih terdiam, mencoba sibuk dengan kegiatannya agar dia dianggap tidak menyadari kehadiran Fadil disana. Masih takut kalau Yara harus memulai pembicaraan dan nantinya malah berujung sebuah perdebatan lagi. Yara tidak mau itu terjadi lagi.
Yara pikir Fadil akan menyapanya duluan pagi ini, namun ternyata dia malah berlalu begitu saja setelah meminum segelas air putih disana. Yara menatap punggung suaminya itu.
"Mungkin dia sangat marah padaku, apa yang harus aku lakukan ya sekarang"
Yara jadi bingung sendiri, dia merasa tidak nyaman dengan perang dingin yang sedang terjadi. Suaminya yang sepertinya tidak suka pada sikap Yara ini, jadi membuat dia mengeluarkan segala ketidak sukaannya pada sikap Yara.
"Mungkin harus dibiarkan dulu, agar dia tenang"
Akhirnya Yara tidak berniat mengganggunya dulu. Karena mungkin suaminya masih butuh waktu untuk menenangkan diri dari perdebatan hebat kemarin malam.
Beberapa saat kemudian Fadil kembali ke lantai bawah setelah dia siap dengan pakaian kerjanya. Meski semalam tidak tidur dengan baik, tapi dia tetap harus berangkat kerja sekarang.
Melihat suaminya yang sudah siap, Yara juga tidak mungkin hanya diam saja. Tentu saja dia yang tidak akan pernah mengabaikan suaminya jika sudah mau berangkat bekerja begini. Yara tidak akan kuat untuk itu.
"Gak sarapan dulu? Aku sudah siapkan" ucap Yara, masih mencoba menghindari saling tatap dengan suaminya itu.
Fadil langsung menoleh, dia menghela nafas pelan. Mungkin tidak akan baik juga terus perang dingin seperti ini. Tapi dia juga masih belum bisa menenangkan dirinya, dia harus menghindari Yara agar bisa berbicara dengan baik pada istrinya tentang permasalahan yang menimpa mereka.
Tanpa berbicara, Fadil berjalan ke arah meja makan. Dia hanya mengucapkan terima kasih pada Yara ketika dia menyodorkan sarapannya.
__ADS_1
Yara mengangguk saja. Dan untuk pertama kalinya, pagi ini mereka sarapan dengan keheningan. Mungkin Yara yang sedang tidak mempunyai bahan untuk dibicarakan. Dia tidak ingin membahas tentang kejadian semalam dulu untuk pagi ini. Karena tahu suaminya harus segera pergi bekerja, jadi akan membutuhkan waktu yang tenang untuk membicarakannya.
Bersambung