Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 27 (Kembali Datang Bulan)


__ADS_3

Sedikit demi sedikit tubuh Yara mulai stabil. Rambutnya yang juga sudah mulai tumbuh kembali, membuat Yara tersenyum penuh rasa syukur sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Setidaknya dia bisa berjuang sampai sejauh ini dari titik terendahnya dalam hidup.


Yara memegang dadanya sendiri dengan sebelah tangannya, matanya terlihat berkaca-kaca. "Terima kasih ya tubuh dan jiwaku, sudah bertahan sejauh ini. Meski di titik terendah dalam hidupku, masih bertahan sampai sejauh ini"


Rasanya tidak akan pernah mudah melewati selama beberapa tahun dengan semua masalah yang menimpanya. Dimulai dari kekasihnya yang memilih menikahi wanita lain, dia yang terluka dan berjuang keras untuk menurunkan berat badannya dengan cara instan hingga akhirnya dari semua efek dari obat pelangsing yang dia konsumsi selama ini malah membuatnya berada di ujung kematian.


Hingga sekarang dia sudah bisa kembali dengan Fadil, namun dia rasa cobaan masih belum berhenti menimpanya. Karena sampai saat ini dia masih belum bisa mewujudkan harapan mereka dalam pernikahan ini.


"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini" ucap Fadil yang langsung memeluknya dari belakang. Bagaimana Fadil yang tidak sengaja mendengar ucapan Yara yang berterima kasih pada tubuh dan jiwanya.


Yara tersenyum, dia menyandarkan pipinya di kepala Fadil yang berada di bahunya. Tangannya memegang tangan suaminya itu yang melingkar di perutnya. Mungkin memang sudah menjadi sebuah takdir untuk mereka hingga akhirnya keduanya bisa menikah dan hidup bersama seperti ini.


"Sayang, aku bangga pada diriku sendiri karena bisa bertahan sejauh ini. Setidaknya aku bisa selamat dari maut dan masih bisa merasakan menikah dengan pria yang aku cintai" ucap Yara.


Fadil tersenyum, lalu dia mengecup pipinya dengan lembut. "Aku lebih bangga lagi padamu yang selalu mencintai aku dengan tulus. Maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan selama ini padamu"


Yara meraih satu tangan Fadil yang melingkar di perutnya, dia mengecup punggung tangan itu dengan lembut. "Jangan lagi melakukan itu ya, kalau suatu saat kamu memang tidak lagi mencintaiku atau mungkin ingin mencari wanita yang sempurna untuk kehidupan kamu ini. Jangan pernah berbohong dan berkhianat, bilang saja padaku dan aku akan langsung pergi meninggalkan kamu dan menghilang dari kehidupanmu ini. Kamu hanya perlu berbicara saja apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan jika kamu sudah bosan padaku"


Fadil langsung menggigit gemas bahu Yara sampai membuat istrinya itu sedikit menjerit. "Kau berpikir terlalu jauh. Mana mungkin aku akan meninggalkan kamu. Karena apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Sudah pernah kehilangan sekali dan membuat aku hampir gila. Sebaiknya aku tidak melakukan kebodohan yang sama lagi. Faham?"


Yara tersenyum dan mengangguk saja. "Aku mengerti kok, cuma takut aja kalau sampai nanti..."


"Apa? Nanti apa? Kamu masih tidak percaya sama aku ya?" tekan Fadil yang memotong ucapan istrinya yang sepertinya dia tahu kemana arah tujuannya.

__ADS_1


Yara menatap suaminya dari pantulan cermin di depannya dengan senyuman menggoda. "Bukannya kalau kata orang, ketika seseorang sudah pernah selingkuh. Maka bagaimana pun dia berusaha berubah, tetap akan mengulangi kesalahan yang sama"


Fadil cemberut mendengar itu, merasa jika istrinya masih belum mempercayai perubahannya sepenuhnya. "Kamu masih meragukan aku ya ternyata. Padahal aku sudah mencoba untuk berubah lebih baik loh"


Yara tertawa kecil, dia berbalik dan menatap suaminya dengan lembut. Menangkup wajah Fadil dan uyel-uyel gemas pipi suaminya itu. "Uhh, Sayangnya aku marah ya. Enggak kok Sayang, aku percaya sama kamu dan perubahan kamu ini. Semoga kamu akan selamanya seperti ini dan tidak akan lagi berpaling dariku"


"Tentu saja, aku tidak akan bisa hidup kalau harus kehilangan kamu. Karena hanya kamu yang aku cintai dan bisa membuat aku bahagia"


Yara hanya tersenyum saja, dia berjalan ke arah nakas dan mengambil obat herbal yang diberikan oleh Sarah. Segera meminumnya, setiap dia meminum obat ini selalu berdo'a agar dia bisa segera mengandung.


"Sayang, bukannya obat dari Sarah itu sudah habis?" tanya Fadil, baru saja beberapa hari yang lalu berkata kalau obatnya sudah habis.


"Aku minta Mbak Sarah kirimkan lagi" jawab Yara santai yang langsung duduk di pinggir tempat tidur.


"Enggak Sayang, aku sudah tanya sama Mbak Sarah kok. Lagian dia bilang juga tidak papa. Kan ini juga obat herbal, jadi aman" ucap Yara, mencoba untuk meyakinkan suaminya yang selalu merasa cemas dengan keadaannya ini.


*******


Sudah dari kemarin Yara merasa perut dan pinggangnya sakit. Dan pagi ini dia menemukan bercak darah dicelananya. Sekarang Yara sadar kalau rasa sakit itu adalah pertanda kalau dirinya akan datang bulan kembali setelah sekian lama.


"Ya Tuhan akhirnya aku kembali datang bulan"


Yara begitu bahagia karena merasa jika dirinya sudah kembali normal jika sudah datang bulan. "Efek dari obat itu cukup bagus juga. Padahal aku baru minum sekitar satu bulan ini"

__ADS_1


Tapi semuanya terasa gawat saat Yara sadar kalau dia belum menyediakan pembalut. Karena sudah terlalu lama tidak datang bulan, hingga dia tidak membeli barang itu ketika berbelanja kebutuhan bersama Fadil. Dan sekarang ketika dia kembali datang bulan, dia jadi bingung sendiri.


Yara keluar dari ruang ganti dengan menggunakan jubah mandi. Menghampiri suaminya yang masih tidur. Yara membangunkan Fadil, meski sebenarnya dia sedikit malu jika harus menyuruh suaminya membelikan barang pribadi wanita itu. Karena selama dia berpacaran pun, tidak pernah Yara meminta Fadil untuk membelikan barang pribadi wanita itu.


Fadil menggeliat pelan, dia mengerjapkan matanya yang masih terasa perih itu. Kantuk masih belum hilang. "Sayang ada apa? Ini masih pagi"


Yara jadi tidak enak untuk membangunkan suaminya yang terlihat masih sangat mengantuk itu. Tapi dia juga tidak tahu harus meminta bantuan siapa jika bukan suaminya sendiri.


"Sayang tolongin aku dong, sebentar saja. Ini darurat sekali" ucap Yara.


Fadil langsung membuka matanya lebar-lebar, mendengar kata darurat membuat dia berpikir jika istrinya memang sedang membutuhkan dia. "Ada apa Sayang?"


Yara terdiam sejenak saat merasakan sesuatu kembali keluar dari dalam bagian tubuhnya. Mau langsung berlari ke ruang ganti, tapi sudah terlambat. Dia memejamkan mata saat merasakan cairan mengalir di kakinya.


Aduh, kenapa langsung banyak sekali seperti ini.


Berbeda dengan ekspresi Yara yang kebingungan dan malu dengan situasi saat ini, wajah Fadil sudah pucat pasi ketika melihat aliran darah di kaki Yara. Dia menatap istrinya dengan panik.


"Sayang kamu kenapa? Kenapa ada darah?"


Yara terdiam, bingung menjelaskan dan cukup terkejut dengan reaksi Fadil saat ini.


Bersamung

__ADS_1


__ADS_2