
"Ah, iya Mbak, aku akan usahakan untuk datang ya"
Yara menyimpan ponselnya kembali di atas nakas saat selesai bertelepon dengan Sarah. Dia menyuruh datang untuk menghadiri syukuran kelahiran anak pertamanya satu bulan lalu. Yara juga sangat bahagia mendengar kabar membahagiakan itu.
"Siapa yang menelepon Sayang?" tanya Fadil yang dari tadi hanya duduk diam disamping Yara.
"Mbak Sarah, katanya dia ngundang kita untuk acara syukuran kelahiran aanknya" ucap Yara sambil tersenyum.
Fadil mengangguk mengerti, dia merangkul istrinya dan mengecup pipinya dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu merasa insecurre, kamu sudah menjadi istri yang terbaik untuk aku. Kalau suatu saat nanti Tuhan memberikan kesempatan pada kita untuk mempunyai seorang anak, maka tidak akan sulit bagi kita"
Yara tersenyum, suaminya memang langsung mengerti apa yang Yara rasakan. Meski sebenarnya dia tidak mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini. Tapi Fadil yang mengerti semuanya.
"Seandainya aku bisa berhenti minum obat-obatan itu, mungkin kesuburan aku tidak akan terganggu" ucap Yara, memang obat yang masih harus dia minum adalah sebuah obat yang keras.
Fadil menggeleng pelan, dia menangkup wajah Yara dengan kedua tangannaya. Lalu dia mengecup kedua pipi dan bibir Yara dengan lembut. "Aku hanya ingin kamu benar-benar bisa pulih seutuhnya, tidak peduli apapun lagi selain ingin kamu sembuh total"
Yara hanya diam sambil menatap wajah Fadil, mungkin memang tidak akan pernah suaminya mengizinkan dia untuk berhenti minum obat-obatan yang diberikan Dokter sampai saat ini. Padahal jelas Yara sudah merasa jengah dan bosan untuk minum obat itu.
"Bukannya dulu Dokter bilang hanya untuk satu tahun? Kenapa sekarang masih berlanjut untuk meminum obat-obatan itu?" tanya Yara yang sudah merasa lelah dengan rutinitasnya setiap hari. Minum obat-obatan yang bau menyengat dan juga pahit.
Fadil mengelus kepala istrinya dengan lembut, membuka penutup kepala yang dipakai oleh Yara. Lalu, dia mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. Mungkin Yara tidak akan seperti ini jika saja dia tidak mengkhianatinya, dan membuat Yara berpikir jika tubuhnya yang gendut saat itu adalah alasan Fadil mengkhianatinya. Sampai Yara harus mengonsumsi obat pelangsing dengan dosis keras dan mengakibatkan ginjalnya rusak dan dia mengidap penyakit yang parah.
"Sayangku, kamu ingat kejadian saat kamu tiba-tiba drop lagi saat itu. Dokter hanya mencegah agar penyakit kamu tidak kembali muncul. Jadi pengobatan kamu dilanjutkan, masa pemulihan ini dilanjutkan bukan hanya satu tahun saja"
__ADS_1
Ya, Yara ingat bagaimana beberapa bulan lalu dia sempat kembali dirawat di Rumah sakit karena kondisinya yang drop. Hingga akhirnya Dokter memutuskan untuk menambah waktu untuk pemulihan Yara. Karena takut sel kanker yang pernah di derita oleh Yara kembali muncul meski sudah di operasi.
"Maaf ya, karena aku sudah banyak merepotkanmu" ucap Yara.
Fadil malah mengecup beberapa kali pipi Yara dengan gemas. Tentu saja bukan hanya sekali dia mengatakan hal itu pada Fadil. Seolah Yara merasa bersalah karena penyakit yang pernah di deritanya dan sekarang masih saja menyusahkan Fadil karena keadaannya yang belum benar-benar pulih.
"Sayangku, Cintaku, tidak pernah aku ingin mendengar kata itu lagi. Kamu tidak pernah merepotkan sedikit pun. Kamu adalah sosok yang memang sudah seharusnya aku perjuangkan dalam segala hal. Karena hanya kamu yang bisa mengerti aku dan membuat aku nyaman"
Yara tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin memang ada saatnya dia merasa lelah dengan semua ini. Keadaannya yang belum juga benar-benar pulih, juga dirinya yang selalu merasa bersalah karena belum bisa menjadi seorang istri yang sempurna untuk Fadil.
"Mungkin ada saatnya aku merasa lelah dengan semua ini, Sayang. Aku hanya ingin memberikan kamu kebahagiaan"
"Perlu kau tahu, aku sudah bahagia saat aku bersama denganmu"
********
"Vitaminnya di minum ya, jangan lupa makan. Kalau bisa kurangi dulu jadwal kerjanya, agar bisa pulang tidak terlalu malam" ucap Yara.
Fadil hanya tersenyum mendengar omelan dari istrinya ini. Tahu jika Yara begitu khawatir dengannya. "Iya Sayang, kamu tenang saja. Aku juga sudah baik-baik saja, semuanya 'kan berkat kamu yang merawatku dengan baik"
Yara tersenyum, dia selesai mengikat dasi di leher suaminya. Lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Fadil. Perlahan Yara berjinjit dan mengecup bibir suaminya. Namun saat dia ingin menjauhkan kembali wajahnya karena memang niat dia hanya memberikan saja kecupan singkat, tapi tangan Fadil dengan cepat langsung menahan tengkuk lehernya dan merubah sebuah kecupan itu menjadi ciuman hangat.
Yara tidak bisa menolak lagi, akhirnya dia hanya menikmati ciuman dari suaminya itu. "Sayang ih, kebiasaan deh"
__ADS_1
Fadil hanya tersenyum, dia mengusap bibir Yara yang basah dengan jempolnya. "Kalau memang kamu ingin menggodaku, lihat tempat Sayangku. Ini masih di dalam kamar, bisa saja aku tidak jadi berangkat kerja sekarang"
Yara langsung terbelalak mendengar itu, tentu saja dia sadar bagaimana gairah suaminya yang sepertinya tidak ada habisnya. Fadil yang selalu saja merasa tidak puas meski dirinya sudah melakukannya berkali-kali.
"Sudah ah, ayo kita keluar nanti kamu malah terlambat pergi bekerja" ucap Yara yang langsung mendorong tubuh Fadil untuk keluar dari ruang ganti.
"Sayang hari ini tanggal 24 ya, sudah jadwal kamu ke Dokter. Obatnya sudah habis?" ucap Fadil yang baru sadar kalau hari ini adalah jadwal biasa Yara untuk periksa ke Dokter.
Yara terdiam sejenak, tiba-tiba saja dia melirik ke arah laci nakas. "Em Sayang kamu lupa ya. Kan kemarin Dokter beri aku obat lebih, katanya untuk sampai bulan depan agar aku tidak terus bolak-balik ke Rumah sakit"
Fadil sedikit mengingat tentang itu, sama sekali dia tidak ingat jika Dokter pernah mengatakan itu. Atau mungkin dia memang lupa ya?
"Masa sih? Apa aku lupa ya Sayang, aku tidak ingat kalau Dokter pernah berkata seperti itu"
"Iya, pasti kamu lupa. Udah ah, sekarang kamu segera berangkat saja. Lagian obatnya juga masih belum habis. Nanti saja kalau obatnya sudah habis, baru kita pergi lagi ke Dokter" ucap Yara.
Fadil hanya mengangguk saja, mungkin memang dia lupa kalau Dokter yang menangani Yara bicara seperti itu. "Yaudah kalau gitu, tapi kamu harus minum obatnya. Jangan sampai seperti dulu, sampai membuang obatnya"
Yara mengangguk, meski dia sedikit was-was dan khawatir kalau Fadil akan marah jika mengetahui dirinya yang berbohong. Namun Yara hanya mencoba untuk meyakinkan dirinya jika dia masih bisa hidup tanpa obat-obatan itu semua.
"Iya Sayang, lagian kalau aku tidak minum obatnya juga tidak akan membuat aku langsung mati 'kan?"
Fadil langsung menatap Yara dengan tajam, tidak suka dengan ucapan Yara barusan. "Jangan membahas kematian, siapa yang akan mati? Kau tidak boleh mati sebelum aku duluan"
__ADS_1
Yara hanya tersenyum saja mendengar itu.
Bersambung