Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Menjalani Pengobatan Lagi?!


__ADS_3

Sarah menidurkan Sherin yang akhirnya terlelap juga. Dia menghela nafas lega melihat keponakannya yang terlelap dengan tenang. Sarah keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga ke lantai bawah.


"Sarah, kenapa kamu menampar Putri Ajeng"


Sarah menoleh pada Ayahnya yang sedang duduk di sofa, Bimo sudah siap mennggunakan pakaian kerjanya. Sarah yang awalnya ingin pergi ke dapur karena dia belum sarapan, merubah langkahnya untuk menghampiri Ayahnya itu.


"Sekali-sekali dia harus di beri pelajaran. Dia tidak harus selalu di dengar keinginannya, sementara dirinya juga tidak pernah mau mendengarkan ucapan orang lain. Kita tidak bisa terus memperlakukan dia seperti ini Pi, dia tidak akan pernah dewasa jika terus di perlakukan seperti ini oleh Papi"


Bimo menatap Sarah dengan helaan nafas pelan, entah kenapa dia tidak bisa untuk sekali saja marah pada anak bungsungnya.


"Sarah, kamu tahu kalau Papi tidak pernah bisa marah pada Ajeng. Kamu juga tahu bagaimana sikap Ajeng, jadi kamu jangan terlalu keras padanya"


Sarah tersenyum tipis mendengar itu, dia jelas tahu bagaimana Ayahnya yang selalu mendahulukan Putri Ajeng dalam hal apapun. Semuanya karena Putri Ajeng yang pernah hampir meninggal sejak kecil karena lahir prematur. Dan Ibu mereka juga meninggal ketika melahirkan Putri Ajeng saat itu.


"Ya, karena yang ada dalam pikiran Papi hanya Ajeng"


Sarah berlalu dari hadapan Ayahnya, sudah terbiasa dengan sikap Ayahnya yang seperti itu. Selalu mendahulukan Putri Ajeng daripada dirinya. Sarah sudah hampir tidak pernah berharap untuk bisa mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari Ayahnya itu. Karena Bimo tidak pernah bisa mendahulukan dirinya, karena Putri Ajeng yang selalu menjadi kesayangan Bimo.


Sarah keluar dari rumahnya menggunakan mobil, dia sedang malas berada di rumah dan memilih untuk sarapan di luar saja, sebelum dia pergi ke Kantor. Sarah sudah seperti Ibu yang mempunyai anak, dia membawa Sherin ke Kantor. Sarah tidak menyewa pengasuh karena memang dia tidak tega pada keponakannya itu. Dia yang tidak di harapkan oleh Ibunya sendiri dan harus di rawat oleh pengasuh. Cukup pelayan di rumah yang selalu membantu Sarah untuk menjaga Sherin.


Sarah turun di kedai pinggir jalan, dia memesan bubur ayam untuk sarapan pagi ini. Sarah malas untuk sarapan di rumah karena keadaan rumah yang selalu kacau.


"Sarah.."


Entah takdir apa yang selalu membuat Sarah bertemu dengan Keanu di saat pikirannya yang sedang kacau seperti saat ini.


"Hai Nu, abis darimana?"


Keanu duduk di samping Sarah dan ikut memesan semangkuk bubur ayam pada s penjual. "Aku baru saja sampai disini, habis dari luar kota. Mampir dulu untuk beli sarapan"

__ADS_1


Sarah mengangguk mengerti, dia memakan buburnya yang sudah datang. "Begitu ya, pasti mau menjenguk Yara"


Keanu mengangguk, memang dia datang kesini untuk melihat keadaan Yara bersama dengan Fadil. Keanu yang sudah terlanjur sayang pada Yara seperti adiknya sendiri.


"Kebetulan juga bertemu dengan kamu disini, aku juga ingin melihat keadaan kamu"


Sarah langsung terdiam, sendok itu kembali jatuh ke atas mangkuk. Dia tidak menyangka akan mendengar ucapan itu dari Keanu yang selama ini hanya menganggapnya sebagai teman saja, tidak pernah lebih dari itu.


"Kenapa memangnya? Kamu bisa lihat sendiri 'kan kalau aku baik-baik saja"


Keanu mengangguk, dia melihat Sarah yang fokus dengan bubur miliknya itu. Keanu juga mulai memakan bubur pesanannya yang baru saja datang.


"Ya, karena waktu itu aku melihat keadaan kamu yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja"


Sarah hanya tersenyum mendengar itu, tidak terlalu menanggapi perkataan Keanu. Karena dia tahu jika Keanu mengatakan hal itu karena hanya sebatas rasa kasihan, bukan karena peduli yang Sarah harapkan selama ini.


"Emm.. Aku duluan ya Nu, mau pergi ke Kantor"


Sarah hanya mengangguk dan dia segera pergi darisana setelah. Sementara Keanu hanya menatap kepergian mobil Sarah itu dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.


"Sebenarnya ada apa dengan dia? Kenapa sekarang sangat dingin sekali padaku"


Rasa penasaran Keanu dengan sikap Sarah yang menurutnya berubah.


#####


Fadil mengelus kepala Yara yang baru saja selesai melakukan pengobatan. Kepalanya yang masih berkeringat dingin karena rasa sakit yang Yara rasakan juga rasa mual yang masih belum hilang karena efek obat kemoterapi yang diberikan padanya. Fadil hampir tidak tahan melihat Yara yang begitu kesakitan dengan pengobatan yang dia jalani itu.


"Masih mual?" tanya Fadil lembut, dan Yara mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Hah..


Fadil menghembuskan nafas pelan ketika dia jelas melihat bagaimana penderitaan Yara saat ini. "Sabar ya Sayang, semua ini demi kesembuhan kamu"


Yara mengangguk dengan lemah, dia memeluk Fadil yang berdiri di samping ranjang pasien yang dia tempati itu. Ketenangan yang selalu dia rasakan ketika dia bersama dengan Fadil seperti ini. Bagaimana Fadil yang selalu menjadi penenang dalam setiap kegelisahan yang Yara alami selama ini.


Cup..


Fadil mengecup puncak kepala Yara dengan lembut. Dadanya terasa sesak ketika melihat keadaan Yara yang begitu lemah itu. "Sabar ya kesayanganku, aku yakin kamu akan segera sembuh dan akan melewati semua ini dengan baik"


Yara mendongak dan menatap Fadil dengan helaan nafas pelan. BIbir pucatnya itu tersenyum dengan lembut. "Terima kasih karena sudah menemani aku untuk menjalani pengobatan. Semoga saja aku tidak melakukan hal yang sia-sia dengan pengobatan ini"


"Sayang..." Fadil mengangkup wajah Yara yang sangat kurus itu, pipi chubby yang dulu sering Fadil uyel-uyel itu kini telah sangat tirus. "...Tidak ada sebuah perjuangan yang sia-sia. Dan aku percaya kalau kamu akan segera sembuh"


"Fadil, kalau nanti kamu sudah bosan menemani aku yang seperti ini. Kamu tinggal bilang saja, dan aku akan pergi dari kehidupan kamu tanpa menoleh lagi padamu dan segala kenangan kita"


Cup..


Fadil mengecup bibir Yara yang selalu berbicara tentang kepergiaannya. Sudah tahu jika Fadil tidak suka mendengar kata-kata itu karena dia yakin kalau Yara akan sembuh dan bisa hidup bahagia bersama dengannya.


"Stop bicara tentang hal tidak penting seperti itu. Sayang, kamu harus semangat berjuang bersama dengan aku. Kita akan segera menikah"


Yara terdiam mendengar itu, dia mengusap bibirnya yang basah karena ciuman Fadil yang tiba-tiba itu. "Fadil apa kamu yakin akan menikah denganku?"


Pertanyaan yang memang seharusnya tidak perlu di pertanyakan lagi oleh Yara. Karena berapa kali pun dia terus bertanya tentang itu, dia pasti akan mendapat jawaban yang sama dari Fadil.


"Apa kamu masih perlu jawaban atas pertanyaan kamu itu?"


Yara menggeleng pelan, karena dia juga tahu jika jawaban Fadil akan tetap sama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2