
Yara menatap suaminya yang sedang memainkan ponsel. Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang.
"Sayang, nanti kita berhenti dulu di supermarket ya, ada yang ingin aku beli"
"Hmm. Iya terserah kamu saja"
Deg..
Yara terdiam ketika mendengar nada datar dari suaminya itu. Bahkan dia tidak menoleh sedikit pun pada Yara, hanya fokus pada layar ponselnya. Entah apa yang Fadil lihat dari layar ponselnya itu.
Kenapa aku takut sekali kalau dia sampai mengulangi kesalahan yang sama. Ketika dia yang mengkhianati aku saat itu.
Ketakutan Yara semakin bertambah saat ini, ketika tadi dia melihat Fadil yang bersama Putri Ajeng dan Sherin, bahkan mereka yang terlihat tertawa lepas dan seolah tidak merasa canggung sedikit pun. Dan sekarang sikap Fadil yang seperti ini menambah kecemasan dalam diri Yara.
Fadil kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jaket yang dia kenakan. Lalu dia menarik tubuh Yara untuk masuk ke dalam pelukannya. Memeluk istrinya dengan hangat, memberikan beberapa kecupan di puncak kepala Yara. Hal ini semakin membuat Yara bingung.
"Tadi kamu bilang mau ke Supermarket dulu ya, mau beli apa?"
"Shampo dan vitamin rambut aku habis"
Fadil mengangguk mengerti, dia kembali mengecup puncak kepala istrinya ini. "Yaudah, nanti kita beli ya. Pak mampir ke Supermarket sebentar"
"Baik Tuan"
Yara sedikit mendongakan wajahnya, menatap suaminya itu. Yara sangat bingung dengan sikap Fadil saat ini. Ketakutan dan kecurigaan Yara semakin menjadi. Takut kalau Fadil akan kembali berkhianat darinya.
Mobil berhenti di depan pusat pebelanjaan, Fadil dan Yara langsung masuk ke dalamnya. Fadil mendorong kereta belanja dengan Yara yang membeli beberapa barang yang dia butuhkan.
Yara melihat salah satu benda yang menurutnya sangat menggemaskan. Sebuah kaus kaki anak bayi yang begitu mungil. Yara mengambilnya, menatapnya dengan senyuman. Namun matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mungkin Fadil memang sudah merindukan sosok seorang anak. Selama ini dia bisa bilang tidak papa jika tidak mempunyai anak sekalipun. Namun sekarang ini, dia mulai merindukan sosok anak kecil"
Yara mengusap air mata kasar yang keluar begitu saja dari matanya. Yara menghembuskan nafas pelan ketika dia sudah mulai tidak bisa mengenadalikan diri dan perasaannya.
"Sayang.."
Yara menoleh pada suaminya yang berjalan mengampirinya sambil mendorong kereta belanja. Yara menyimpan kembali kaus kaki mungil itu di tempatnya. Lalu dia berjalan menghampiri suaminya.
"Ayo kita langsung pulang saja"
"Sudah? Tidak adalagi yang ingin kamu beli?"
Yara menggeleng pelan, dia berjalan lebih dulu dari suaminya ke arah kasir. Fadil menatap barang yang tadi di simpan lagi oleh istrinya, dia menghela nafas pelan saat tahu apa yang di lihat oleh istrinya itu.
Ya Tuhan segera berikan kami keturunan, agar istriku tidak terus menganggap dirinya sebagai wanita yang tidak sempurna.
Fadil tahu apa yang di rasakan oleh sitrinya, tentu saja Yara sangat menginginkan seorang anak. Fadil juga menginginkannya, namun dia tidak akan mendesak istrinya untuk itu. Karena Fadil tahu bagaimana keadaan Yara. Bukan berarti tidak mungkin untuk Yara bisa hamil. Tapi mungkin akan sedikit sulit, seperti apa yang pernah di jelaskan oleh Dokter padanya.
Yara menatap bebepa pil yang ada ditangannya. Terkadang dia sangat ingin membuang semua obat-obatan itu. Yara berdiri dan berjalan ke arah tempat sampah yang berada di pojok ruangan. Baru saja dia ingin membuang obat yang ada di tangannya. Namun tangan kekar menahan tangannya.
"Mau di buang lagi? Hmm?!"
Yara menatap suaminya yang menatapnya dengan tajam. Yara menghela nafas pelan, dia yang bermaksud untuk membuang obat itu. Namun keburu ketahuan oleh suaminya.
"Gak kok, siapa juga yang mau buang obatnya. Ini aku mau minum"
Yara berjalan kembali ke arah meja makan, mengambil gelas berisi air putih dan segera meminum obat di tangannya. Melirik suaminya yang masih menatap tajam padanya. Yara jadi takut sendiri dengan tatapan suaminya itu.
"Kamu tahu gak, kalau hal yang paling aku takutkan di dunia ini adalah kehilangan kamu. Saat kamu dinyatakan telah sembuh, aku merasa sangat bahagia. Dunia aku yang hampir runtuh, seolah kembali normal kembali. Jadi tolong jangan membuat aku khawatir dengan kamu yang tidak mau minum obat"
__ADS_1
Yara terdiam, dia menatap suaminya dengan lekat. Berjalan perlahan mendekati Fadil, Yara meraih tangan Fadil dan menggenggamnya.
"Sayang, aku sudah sembuh. Tapi kenapa masih harus bergantung pada obat-obatan itu. Aku sudah bosan melihat obat-obatan itu"
Fadil menghela nafas pelan, dia mencium kening Yara dengan lembut. "Karena kamu masih dalam pengawasan Dokter. Jadi kamu masih harus bergantung pada obat yang di berikan Dokter, sampai kamu benar-benar dinyatakan telah sembuh total"
Yara menjatuhkan kepalanya di dada suaminya, tentu saja dia hanya bisa pasrah dan bersabar sampai dia benar-benar bisa berhenti untuk mengonsumsi semua obat-obatan yang ada.
"Aku capek, aku lelah dan bosan setiap hari harus minum obat itu. Kamu tahu kalau semua obat itu sangat pait dan bau. Kadang aku saja sampai mual karena mencium baunya. Aku capek...."
"Aku tahu Sayang, tapi kamu tidak boleh menyia-nyiakan semua perjuangan yang telah kamu lakukan selama ini. Sekarang kamu hanya tinggal minum obat saja, tidak perlu lagi melakukan pengobatan yang lebih membuat dirimu lelah dan capek dari saat ini. Sabar ya, semuanya pasti akan berakhir pada waktunya"
Fadil menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar. Menidurkan tubuh Yara di atas tempat tidur dengan perlahan. "Istirahat ya, pastinya lelah sekali habis dari luar kota tadi"
Fadil menarik selimut untuk menutupi tubuh Yara hingga ke pinggangnya. Lalu dia mengecup kening Yara dengan lembut. Yara menatap suamiinya yang akan pergi darisana, dia memegang tangan Fadil.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ada pekerjaan sebentar, kamu tidur saja duluan ya"
Fadil keluar dari dalam kamarnya, menuju ruang kerjanya. Ada hal yang harus Fadil urus saat ini. Fadil yang sedang duduk di kursi depan meja kerjanya, mengecek laporan lewat email yang di kirim oleh karyawannya.
"Aku yakin semuanya akan sesuai dengan rencana"
Fadil merasa sangat puas dengan laporan yang diberikan oleh anak buahnya itu. Semua rencana dan apa yang dia ingikan, benar-benar berjalan sesuai apa yang telah di rencanakan.
Fadil mengambil sebuah foto dalam laci meja kerjanya. Mengusap foto itu dengan perlahan. "Sayang, percaya saja kalau kamu akan bahagia bersamaku. Tidak perlu memikirkan apapun lagi"
Foto Yara saat kuliah itu selalu menjadi penghuni laci meja kerja Fadil ini. Karena dulu ketika Yara pergi, maka jika Fadil merindukannya, dia akan mengambil foto itu.
__ADS_1
Bersambung