
"Kenapa anda melakukan itu?"
Pertanyaan Dokter itu membuat Yara terdiam sejenak, dia bingung akan mengatakan apa saat ini. Namun, sepertinya memang dia harus menjelaskan semuanya yang dia rasakan.
"Karena saya sudah lelah dan muak dengan semua obat-obatan itu. Apa tidak bisa dihentikan saja?" ucap Yara apa adanya.
"Selama anda tidak meminum obat itu, apa yang anda rasakan? Apa ada sebuah perubahan?" tanya Dokter lagi.
"Hanya sedikit pusing saja dan terkadang lemas, tapi selebihnya semuanya baik-baik saja" jelas Yara.
Dokter menghela nafas pelan, dia mengerti bagaimana perasaan pasiennya ini yang mungkin sudah merasa lelah ketika harus terus meminum obat-obatan itu.
"Begini saja, saya akan coba satu bulan lagi anda tanpa meminum obat-obat itu. Melihat bagaimana daya tahan tubuh anda tanpa obat yang diberikan. Kalau memang daya tahan tubuh anda sudah sebaik itu, maka mari kita sepakat untuk menghentikan obat-obatan itu" ucap Dokter.
Yara langsung berbinar mendengar itu, tentu saja dia sangat senang mendengarnya. Berharap sekali akan segera bisa lepas dari semua obat-obatan membosankan itu.
"Beneran Dok, jadi saya boleh lepas dari semua obat itu?"
"Asalkan daya tahan tubuh anda bisa sebaik ini. Yang terpenting di jaga pola makan dan tidurnya, harus tetap istirahat yang cukup"
Yara menganguk, dia senang sekali mendengar ucapan Dokter ini. Setelah semuanya selesai, maka Yara langsung berpamitan dari ruangan Dokter itu. Dia pergi bersama supir ke rumah sakit ini karena Fadil yang tiba-tiba mempunyai pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
"Pak, kita ke Kantor suamiku saja" ucap Yara.
"Baik Nona"
Dan siang ini Yara sengaja datang ke Kantor suaminya. Hanya ingin memberikan kabar baik ini pada suaminya. Yara yang begitu bahagia saat mendengar penjelasan Dokter saat tadi.
Saat Yara berjalan menuju ruangan suaminya, seorang sekretaris yang meja kerjanya berada di depan ruangan Fadil langsung berdiri dan mengangguk hormat padanya.
__ADS_1
"Selamat datang Nyonya, Tuan ada di dalam" ucapnya dengan hormat.
Yara mengangguk saja, dia tahu kalau Fadil pasti berada di dalam. "Baiklah terima kasih, tapi apa di dalam sedang ada tamu?"
"Iya, tapi hanya teman Tuan. Bukan sedang kedatangan rekan kerja"
Yara mengangguk, dia segera masuk ke dalam ruangan suaminya. Dan dia melihat Fadil sedang berbicara dengan seorang pria di atas sofa. Yara tidak tahu siapa pria itu, karena dia baru kali ini melihatnya.
Fadil menoleh dan tersenyum ketika dia mendengar suara pintu yang terbuka. "Sayang, sini"
Yara tersenyum, tapi dia sedikit ragu karena melihat obrolan mereka yang sepertinya sangat serius. "Aku tunggu saja diluar ya, kelihatannya sedang membahas hal yang serius"
Fadil langsung berdiri dan menghampiri istrinya, mengelus pipinya dan memberikan kecupan di kening istrinya itu. "Tidak kok, justru kamu harus tahu siapa dia. Yuk duduk"
Akhirnya Yara mengangguk dan mengikuti Fadil yang menggandengnya untuk duduk disofa. Yara menatap pria di depannya yang memang asing baginya. Bertanya-tanya dengan ucapan suaminya juga jika Yara juga harus tahu siapa pria di depannya itu.
Yara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sangat terkejut dengan ucapan Fadil barusan. Pantas saja dia melihat wajah pria itu seolah pernah melihatnya, tapi dia lupa dimana. Ternyata mata dan garis wajahnya memang sangat mirip sekali dengan Sherin.
Felix tersenyum pada Yara dan menganggukan kepalanya. "Jadi ini wanita hebat yang kau ceritakan tadi? Dia cantik sekali ternyata"
"Jangan sampai kau suka padanya, dia istriku! Faham!" tekan Fadil.
Felix hanya memutar bola mata malas dengan ucapan penuh kecemburuan itu. "Ternyata kau bisa bucin juga pada wanita. Padahal yang aku tahu kau itu orang yang tegas"
Yara sedikit mengerutkan keningnya tanpa sadar, karena sebenarnya dia tahu bagaimana suaminya itu.Tegas bagaimana? Saat bersamanya jelas Fadil sangat manja seperti bayi.
"Ya, kau juga akan merasakannya kalau kau sudah menemukan pasangan yang tepat dalam hidupmu"
Felix hanya mengangguk saja, dia juga berharap kalau dirinya akan bisa mendapatkan wanita yang tepat dalam hidupnya itu.
__ADS_1
"Jadi Sayang, sebenarnya Felix sengaja datang kesini untuk mencari solusi tentang kerumitan hidupnya bersama dengan Ajeng dan juga istrinya" ucap Fadil.
Yara terdiam sejenak. "Apa istrimu tahu tentang ini? Apa kalian sudah mempunyai anak?"
Felix menggeleng pelan. "Sampai sekarang, aku dan istriku hanya tinggal bersama. Bukan hidup bersama, karena rasanya tidak ada perasaan yang lebih. Dan dia juga tidak ingin cepat-cepat punya anak katanya"
"Tapi pernikahan kalian itu sudah lama, kenapa masih belum siap punya anak? Kalau memang sudah tulus menerima sebuah pernikahan kalian yang memang awalnya hanya dijodohkan, mungkin mempunyai anak adalah tujuan pertama kalian untuk semakin mempererat hubungan diantara kalian" ucap Yara dengan pemikirannya itu.
"Entahlah, mungkin karena sampai sekarang dalam diri dan hati kita belum ada yang namanya cinta satu sama lain. Ah, aku juga bingung" ucap Felix dengan kebingungannya.
"Begini saja, sebaiknya kamu bicara dulu pada istrimu secara perlahan. Jangan dulu memutuskan untuk kembali dengan Putri Ajeng kalau urusan kamu dan istrimu belum selesai, karena nantinya malah akan menambah masalah baru yang semakin besar" ucap Yara.
"Nah kan, aku yakin kalau istriku ini bisa memberikan solusi terbaik" ucap Fadil sambil merangkul Yara dan menatapnya penuh bangga.
Felix mengangguk saja, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Yara. Dirinya harus memberi tahu istrinya dulu sebelum mengambil tindakan tentang hubungan selanjutnya diantara dirinya dan Ajeng.
"Terima kasih karena kalian sudah mau membantuku" ucap Felix.
Dan setelah mendapatkan solusi, Felix langsung berpamitan pergi. Hingga sekarang tinggalah Yara dan Fadil di ruangan ini. Yara menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, tersenyum tipis saat dia kembali ingat ucapan Dokter. Sungguh sebahagia itu.
"Sayang, bagaimana kata Dokter tadi? Maaf aku tadi tidak datang menemani kamu" ucap Fadil, mengecup sekilas puncak kepala istrinya.
Yara tersenyum dia menatap Fadil dengan mata yang berbinar. "Kamu gak akan nyangka apa yang udah Dokter bicarakan sama aku. Jadi, aku sudah boleh untuk tidak minum obat lagi. Ya, masih di beri jangka waktu satu bulan untuk melihat perkembangannya. Tapi jika setelah itu keadaan aku baik-baik saja, maka aku akan terbebas dengan semua obat-obatan itu"
"Kamu gak lagi bohong karena tidak ingin minum obat lagi 'kan?" Tanya Fadil yang merasa tidak percaya dengan ucapan Yara barusan.
"Beneran Sayang, itulah yang dibicarakan Dokter. Kalau kamu gak percaya, kamu telepon aja dan tanyakan langsung"
Bersambung
__ADS_1