
Beberapa minggu ini Fadil melihat perubahan yang cukup besar di diri Putri Ajeng. Istrinya itu juga sering datang ke Kantornya hanya untuk mengajak Fadil untuk makan siang. Sebenarnya perbahan Ajeng ini cukup baik. Namun entah kenapa Fadil tetap tidak mempunyai rasa simpati yang lebih. Hatinya seolah sudah beku untuk Putri Ajeng, karena dari awal hatinya memang tidak pernah di miliki oleh Putri Ajeng. Karena sejak awal Putri Ajeng hanya menjadi persinggahan saja.
"Honey, ayo kita makan siang bersama di luar"
Fadil hanya mencoba tersenyum dan tidak ingin mengecewakan istrinya itu. Jadi dia mengangguk dan mengiyakan saja, meski sebenarnya dia juga malas untuk keluar dari Kantor bersama dengan istrinya itu. Tapi Fadil masih mencoba menghargai Putri Ajeng yang ingin berubah.
Duduk berdua di salah satu ruangan VVIP di sebuah Restaurant berbintang. Sebenarnya Fadil bosan dengan suasana makan siang yang seperti ini. Dia rindu makan bersama dengan Yara yang selalu mengasyikan. Meski hanya makan di kedai makanan di pinggir jalan. Tapi Fadil selalu merasa bahagia.
Ternyata hal sederhana itu yang membuat aku rindu.
"Fadil, aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi. Aku mau kamu jangan sampai menceraikan aku"
Fadil menatap Putri Ajeng dengan senyuman tipis di wajahnya. Kini Fadil mengerti kenapa istrinya tiba-tiba berubah. Fadil mengerti bagaimana Putri Ajeng yang tidak berbeda jauh dengan Ayahnya. Yang seperti sudah takut dengan perpisahan yang akan terjadi jika tes DNA itu di lakukan nantinya.
"Kenapa memangnya? Aku 'kan tidak mungkin menceraikan kamu jika anak dalam kandungan kamu itu memang benar anakku. Kenapa sekarang kamu terlihat sudah takut, bahkan sebelum tes itu di lakukan. Apa kamu tidak yakin kalau anak itu memang anak aku?"
Putri Ajeng gelagapan mendengar itu, dia juga tidak bisa menjawab apapun saat ini. Entah harus bagaimana cara dia menjelaskan semuanya. Dia benar-benar bingung dan panik saat ini. Memikirkan jika nantinya dia akan menjadi seorang janda jika Fadil benar-benar menceraikannya.
Melihat kepanikan di wajah Putri Ajeng, jelas membuat Fadil semakin yakin untuk melakukan tes itu dengan anak dalam kandungan Ajeng. Fadil jelas melihat kegelisahan dalam diri Ajeng, bahkan Bimo pun terlihat sama gelisahnya dengan Putri Ajeng.
"Mari kita tunggu anak itu lahir dan kita lakukan tes DNA. Maka aku akan yakin, aku tidak akan menaruh kecurigaan apapun lagi padamu jika memang benar kalau anak yang kamu kandung itu memang anak aku. Kamu tidak perlu takut dan gelisah seperti itu"
Fadil berdiri dan berlalu meninggalkan Putri Ajeng di Restaurant itu. Fadil memilih pergi ke sebuah taman kota. Duduk sejenak di bangku taman yang ada disana. Menatap hamparan rumput hijau di taman itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Fadil seolah melihat Yara yang berdiri di ujung sana dan tersenyum padanya. Namun lambat laun senyuman itu pudar seiring dengan tubuhnya yang hilang. Hayalan dalam diri Fadil sampai dia melihat sosok Yara di tempat yang sebenarnya disana tidak ada orang yang sedang berdiri.
Yara kemana kamu pergi, aku benar-benar merindukan kamu.
Perasaan rindu yang semakin tidak bisa Fadil pendam. Dia begitu merindukan Yara yang telah dia lukai hatinya hingga dia memilih untuk pergi meninggalkannya. Sebenarnya bukan karena Fadil tidak sadar akan kesalahannya yang dia perbuat pada Yara selama ini. Namun semua ini adalah bentuk penyesalannya pada Yara.
"Seandainya waktu bisa aku putar kembali, aku tidak akan pernah melakukan semua ini padamu, Yara. Aku tidak akan terjebak dengan Putri Ajeng yang sebenarnya hanya sebuah persinggahan hatiku saja"
Penyesalan yang masih terus membelenggu hatinya. Fadil yang begitu menyesali semua perbuatan yang dia lakukan pada Yara. Namun, semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin akan bisa di ulang kembali.
Aku hanya ingin bertemu denganmu dan berlutut untuk meminta maaf padamu.
########
"Kamu harus semangat dan tidak boleh menyerah begitu saja. Ingat perjuangan kamu untuk bisa melewati banyak hal dalam hidup kamu ini"
Setiap kali Yara mulai merasa lelah dan sangat ingin menyerah dengan semuanya, selalu ada Keanu yang memberikan dia semangat untuk terus menjalani pengobatan yang melelahkan itu.
"Mas, kenapa kamu mau menjaga aku? Wanita berpenyakitan seperti aku sepertinya tidak pantas untuk kamu"
Keanu memeluk Yara yang sedang duduk di kursi roda dari belakang, tangannya melingkar di dada Yara. "Karena aku suka dengan wanita yang tulus. Dan aku melihat bagaimana kamu yang mempunyai ketulusan sangat besar pada setiap orang"
Aneh, sudah hampir dua bulan bersama. Kenapa aku masih merasa biasa saja ketika Mas Keanu memeluk aku seperti ini. Aku masih tidak merasakan getaran yang sama seperti saat aku bersama dengan Fadil.
__ADS_1
Rasanya yang berbeda, meski Yara sudah mencoba untuk bisa menyamakan perasaan dia pada Keanu dan pada Fadil. Namun kenyataannya, memang berbeda. Yara tidak merasakan apa yang dirasakannya dengan Fadil di saat dia bersama dengan Keanu. Rasa yang berbeda.
"Sebenarnya aku ingin kembali ke rumah sekarang.Tapi kenapa tidak bisa ya"
Keanu mengecup puncak kepala Yara, dia tahu jika Yara pastinya merasa bosan karena harus bolak-balik rumah sakit untuk melakukan pengbatan. Tapi memang itu yang harus dia lakukan sampai dia benar-benar sembuh.
"Sabar ya, mungkin nanti siang kamu sudah boleh kembali ke rumah. Kata Dokter juga 'kan tadi katanya kamu masih lemah jadi tidak bisa pulang pagi ini. Semoga saja siang kamu bisa di izinkan pulang"
Sebenarnya Yara hanya merasa tidak enak pada teman-teman kerjanya di kantor. Dia yang keseringan mengambil cuti, sudah pasti akan menjadi pembicaraan teman-teman kantornya. Tapi mau bagaimana lagi karena dia juga haus melakukan pengobatan ini.
"Ra, apa kamu tidak mau berhenti bekerja saja?"
Pertanyaan yang sudah Keanu tanyakan beberapa kali.Namun jawaban Yara selalu smaa, dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya hanya di rumah sakit. Selama dia masih bisa berdiri dan berjalan, maka Yara akan tetap bekerja. Dia ingin tetap menjalani aktivitasnya setiap hari sampai dia benar-benar tidak bisa melakukan hal itu lagi.
"Mas, kan kita sudah pernah membahasnya. Aku tetap akan bekerja sampai aku benar-benar tidak bisa bekerja lagi"
Dan Keanu memang sudah menduganya, Yara tetap memberikan jawaban yang sama padanya. Dan Keanu juga tidak bisa memaksa Yara, karena dia melihat bagaimana Yara yang terlihat lebih semangat dan ceria ketika dia kembali bekerja jika setelah selesai melakukan pengobatan. Hanya saja yang Keanu takutkan Yara akan kambuh saat dia sedang bekerja.
"Yaudah kalau memang kamu masih ingin bekerja. Aku juga tidak akan memaksa kamu untuk berhenti bekerja kalau memang kamu masih ingin melanjutkan pekerjaanmu itu"
Yara tersenyum mendengar itu, bersyukur karena Keanu mengerti bagaimana keinginan Yara saat ini.
Bersambung
__ADS_1