Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
Memberinya Waktu?!


__ADS_3

Seolah dapat tamparan besar, Fadil merasa dunianya hancur ketika dia mendengar ucapan Yara barusan. Bagaimana Yara yang berkata jika dirinya sudah terbiasa hidup tanpa dirinya. Padahal Fadil tahu jika selama ini Yara selalu bergantung padanya. Tapi apa yang di ucapkan oleh Yara barusan benar-benar membuat Fadil sadar jika waktu yang hampir satu tahun lamanya dia berpisah dengan Yara, telah membuat gadis itu tidak lagi membutuhkannya.


"Yara, aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat padamu. Jangan begini, Yara. Aku tidak mau kehilangan kamu lagi"


Fadil memeluk tubuh Yara yang membelakangi dirinya. Terdengar isak tangis dari Yara. Fadil tahu jika wanitanya itu tidak benar-benar yakin untuk menyuruh Fadil untuk meninggalkannya.


"Sayang, aku tahu jika kamu tidak akan pernah serius untuk menyuruh aku meninggalkanmu"


"Lepas Fadil..Hiks.. Jangan membuat aku terus terjebak dengan kamu. Ingat Fadil kamu sudah menikah dan mempunyai keluarga"


Fadil menggeleng dengan air mata yang menetes di sudut matanya, menetes mengenai pipi Yara yang dia peluk. "Aku tidak akan pergi meninggalkan kamu lagi Yara. Cukup sekali aku melakukan kebodohan itu, karena aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama"


Air mata Yara semakin tidak tertahan lagi ketika dia mendengar uacapan Fadil barusan. Bukan karena dia yang tidak mau kembali lagi dengan Fadil, tapi Yara yang tidak mau menjadikan dirinya sebagai perusak rumah tangga orang lain. Dan hal lain yang membuat Yara tidak mau kembali dengan Fadil, karena dirinya yang tidak mau menjadi beban hidup Fadil dengan keadaannya yang sebenarnya tidak tahu akan sampai kapan dia bisa benar-benar sembuh.


Akhirnya Yara tenang juga dan dia terlelap, mungkin juga karena pengaruh obat yang dia minum beberapa saat sebelum Fadil datang. Fadil mengelus kepala Yara dengan perlahan, hatinya berdenyut nyeri ketika beberapa helai rambut yang terus rontok di tangannya ketika dia mengelus kepala Yara. Rambutnya yang semakin menipis hingga kulit kepalanya yang sudah mulai terlihat.


"Sayang, aku tidak akan meniggalkan kamu lagi. Cukup sekali aku menjadi pria yang sangat bodoh dan tidak tahu diri. Aku sudah mendapatkan kamu yang begitu tulus padaku, tapi aku malah memilih wanita lain hanya karena tergoda sesaat olehnya. Maafkan aku Yara"


Fadil mengusap ujung matanya yang kembali berair. Entah kenapa Fadil berubah menjadi pria yang sangat lemah ketika dia berhadapan dengan Yara. Fadil menoleh pada pintu ruangan yang terbuka, Keanu yang masuk ke dalam ruangan itu. Fadil langsung berdiri dan menghampiri Keanu.


"Ada apa dengan Yara?"


Fadil duduk di atas sofa di ruangan itu, dia mengusap wajah kasar. "Tadi dia sedikit beontak dan meminta aku untuk pergi meninggalkannya. Tapi jelas aku tidak mau, aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi"


Keanu berjalan mendekati Fadil, dia menepuk bahunya dengan pelan. "Dia masih shock dengan kedatangan kamu yang tiba-tiba. Beri dia waktu, pasti dia akan bisa menerima kamu kembali. Aku tahu jelas bagaimana dia yang begitu mencintaimu"

__ADS_1


Fadil menatap ke arah ranjang pasien, dimana Yara masih terlelap disana. "Aku yang telah melukainya hingga dia merasa ragu dengan aku yang tiba-tiba kembali"


"Ya, mungkin kamu harus memberinya waktu untuk itu"


Fadil mengangguk, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Keanu. Dia harus sabar menunggu hingga Yara benar-benar bisa kembali percaya padanya.


######


Yara terbangun ketika dia merasakan tangannya yang berat. Dan ternyata seseorang yang duduk di kursi samping ranjang pasien itu tertidur dengan kepalanya yang berada di pinggir ranjang. Tepat mengenai tangan Yara. Dengan perlahan Yara menggerakan tangannya hingga Fadil yang tertidur disana langsung terbangun dengan gerakan tangan Yara.


"Sayang, kamu sudah bangun ya"


Yara menatap Fadil yang mengelus keningnya dengan lembut, lalu memberikan kecupan disana. Sebenarnya Yara tidak menyangka jika Fadil masih berada disana dan menunggunya.


Reaksi Fadil benar-benar diluar dugaan Yara, dia malah tersenyum ketika mendengar ucapan Yara itu. Tangannya masih mengelus keningnya dengan ibu jarinya.


"Aku akan menunggu kamu sampai kamu benar-benar percaya lagi denganku"


"Fadil, aku tidak mau kembali lagi bersam..."


"Shutt..." Fadil menaruh jari telunjuknya di bibir Yara, dia tidak mau mendengar kelanjutan dari ucapan Yara yang sudah dia tahu kemana tujuannya. "...Aku akan tetap bersamamu dan tetap bersabar menunggu kamu kembali lagi percaya padaku"


Yara terdiam, dia menatap Fadil dengan lekat. Telunjuk pria itu masih menempel di bibirnya. Mata Yara mulai kembali berkaca-kaca. Entah harus bagaimana dia menafsirkan perasaannya saat ini. Yang jelas dia menginginkan Fadil, namun dia sadar jika keadaan saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk kembali dengan Fadi. Yara tidak mau melawan keadaan yang sedang terjadi saat ini.


"Sekarang makan dulu ya, mau makan apa? Biar aku belikan"

__ADS_1


"Pecel ayam"


Fadil tersenyum mendengar itu, ternyata kesukaan wanitanya itu masih sama. Fadil mengecup kening Yara. "Yaudah, aku belikan dulu untuk kamu"


Setelah Fadil pergi, Yara mencoba bangun hingga dia bisa duduk menyandar di atas ranjang pesakitan itu. Air mata yang tiba-tiba saja menetes di pipinya, Yara yang tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Dia sendiri bingung dengan hati dan perasaannya sekarang.


Dia hanya tidak ingin mengganggu kehidupan Fadil lagi, dia hanya ingin Fadil juga hidup tenang dan bahagia bersama anak dan istrinya. Tanpa harus terbayang-bayang oleh masa lalunya dengan Yara. Namun, apa boleh buat ketika hatinya tetap tidak bisa menerima semua yang telah di putuskan oleh pikirannya. Karena hati dan pikirannya tidak sejalan.


Pintu ruangan kembali terbuka, Fadil datang dengan makanan yang di pesan oleh Yara. Ketika itu Yara langsung menghapus sisa air matanya. Dia tidak mau Fadil melihat dirinya menangis.


"Sayang, ini pesanan kami. Aku suapi ya"


"Aku bisa sendiri, sebaiknya kamu per..."


Fadil langsung menggeleng dan menatap Yara dengan tatapan yang sangat lekat. Membuat Yara tidak melanjutkan ucapannya itu.


"Aku akan tetap disini dan tidak akan mau pergi, meski kamu menyuruh aku pergi sampai puluhan kali pun, aku tetap tidak akan pergi lagi dari kehidupan kamu"


Fadil langsung menyuapi Yara satu sendok makanan yang dia bawa. Dan mau tidak mau, Yara tetap membuka mulutnya dan memakan makanan itu.


"Kenapa tidak ada sambalnya?" Tanya Yara, yang paling dia suka dari pecel ayam adalah sambalnya. Tapi saat dia makan, dia tidak merasakan adanya sambal di makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2