Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 6 (Tidak Ada Kecocokan Selain Kita Bersama)


__ADS_3

Ketika malam ini Fadil terbangun karena merasa tubuhnya yang tidak enak. Tenggorokannya yang terasa kering, membuat dia bangun meski tubuhnya terasa remuk redam, mencoba meraih gelas di atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Namun Fadil yang sedikit lemah membuat dia tidak erat memegang gelas itu hingga akhirnya jatuh ke atas lantai dan pecah.


Suara pecahan gelas yang menggema itu membuat Yara langsung terbangun. Dia terkejut saat suaminya terlihat sedang mencoba untuk mengambil pecahan gelas di atas lantai.


"Sayang, ada apa?" Yara langsung menahan tubuh Fadil agar tidak turun dari atas tempat tidur, dia baru tersadar jika tubuh suaminya itu sangat panas.


"Kamu demam ya, diam saja dulu disini. Sebentar biar aku bereskan pecahan gelasnya. Kamu mau minum? Biar aku ambilkan sebentar"


Yara langsung mengambil penutup kepalanya, memakainya sebelum dia keluar kamar untuk mengambilkan minum dan juga sapu untuk membersihkan pecahan gelas yang berserak di lantai kamar.


Kembali ke dalam kamar, Yara membantu Fadil untuk minum. "Kamu tidur lagi saja, nanti aku carikan obat penurun panas. Tapi sekarang aku bersihkan dulu pecahan gelasnya"


Fadil hanya mengangguk, entah kenapa dia merasa begitu tersentuh oleh perlakuan Yara. Mengingat bagaimana dulu saat dia masih menikah dengan Putri Ajeng yang tidak terlalu memperdulikan Fadil.


Bahkan di saat sakit seperti ini, Putri Ajeng hanya memanggilkan Dokter dan selebihnya dia menyuruh pelayan untuk merawat Fadil. Meski mungkin sekarang ini, Putri Ajeng sudah mulai berubah lebih baik lagi. Tapi memang Fadil tidak pernah bisa mendapatkan kenyamanan dan kecocokan yang sama ketika dia bersama Yara.


"Sayang, terima kasih ya" ucap Fadil sambil menatap istrinya yang sedang menyapu lantai yang dipenuhi pecahan gelas.


Yara hanya tersenyum saja, dia melanjutkan menyapu dan langsung membuang pecahan gelas itu. Setelah selesai, barulah Yara mencarikan obat untuk suaminya yang sedang demam saat ini.


"Minum dulu obatnya Sayang, kamu pasti terlalu kecapean sampai sakit kayak gini. Besok jangan dulu bekerja ya" ucap Yara.

__ADS_1


Fadil hanya mengangguk saja, dia menuruti apa yang diucapkan istrinya. Karena memang itu yang terbaik untuknya. Setelah dia meminum obat dari istrinya, Fadil segera merebahkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur. Memang hari yang masih cukup malam.


"Sini, aku tidak bisa tidur kalau tidak peluk kamu" ucap Fadil yang merentangkan tangannya di atas tempat tidur dan ingin Yara masuk ke dalam pelukannya.


Yara hanya tersenyum dan menurut saja keinginan Fadil itu. Di masuk ke dalam pelukan suaminya yang selalu menjadi tempat ternyaman dalam tidurnya. Menjadikan tangan Fadil sebagai bantalan.


Fadil mengecup kening istrinya dengan lembut. "Tidurlah, ini masih malam"


Yara mengangguk, dan mereka pun tidur dengan saling berpelukan. Fadil yang mulai merasa nyaman ketika Yara berada di dalam pelukannya kembali. Karena memang hanya Yara yang selalu membuatnya nyaman dalam hal apapun.


Hingga tidak terasa, pagi sudah datang. Yara bangun lebih dulu, dia langsung mengecek suhu tubuh Fadil yang masih terasa cukup panas. Suhu tubuhnya belum turun sepenuhnya meski dia sudah minum obat semalam.


Yara menatap wajah suaminya yang semakin tampan, tidak pernah terbayangkan dalam hidup Yara sebelumnya jika dia benar-benar bisa menikah dengan Fadil. Semuanya yang dia berikan hanya pada pria ini selama mereka masih berpacaran hingga sekarang.


Jadi ketika sekarang dia telah menikah dengan Fadil, Yara bersyukur sekali karena setidaknya dia tidak memberikan harapan palsu pada pria lain dan tidak akan mengecewakan pria lain yang benar-benar tulus padanya, seperti Keanu dulu. Bersyukur sekarang Keanu bisa mendapatkan Sarah yang sejak dulu sudah mencintainya.


"Mungkin memang kamu pernah begitu jahat padaku. Menghancurkan segala harapan dalam hidupku saat bersama denganmu. Hingga sekarang aku mengerti kenapa Tuhan memberikan cobaan seperti itu di waktu dulu. Agar kamu bisa tahu dan mengerti jika tidak akan ada kecocokan yang lebih selain kita bersama. Karena ketika kita bersama dengan orang lain, maka tidak akan mendaptkan kecocokan seperti kita berdua"


Keputusan sepintas yang diambil pada saat itu, menikahi Putri Ajeng dan meninggalkan Yara yang sudah dua tahun lamanya bersama dia dan tinggal bersama. Susah, senang sudah mereka lewati bersama. Tapi Fadil lebih memilih keputusan sepintas yang akhirnya malah menghancurkan hidupnya sendiri. Masih beruntung karena dia bisa kembali lagi bersama dengan Yara.


Yara mengelus kepala Fadil dengan lembut, lalu dia mengecup kening suaminya itu. "Aku mencintaimu, Fadil"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Yara langsung turun dari tempat tidur dan berlalu ke ruang ganti untuk mandi dan berganti pakaian. Sementara di atas tempat tidur, Fadil membuka matanya, jelas dia mendengar semua ucapan Yara tadi. Hanya saja dia sengaja tetap memejamkan matanya karena ingin mendengar keseuruhan ucapan Yara tadi.


"Ya Sayang, kamu benar. Aku tidak menemukan kecocokan dan kenyamanan yang sama ketika aku bersama orang lain. Karena hanya denganmu aku mendapatkan kecocokan dan kenyamanan ini"


Penyesalannya masih ada ketika Fadil mengingat bagaimana dirinya yang meninggalkan Yara yang selama ini menemaninya dari titik nol. Penyesalan yang mungkin tidak akan bisa hilang begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Yara keluar dari ruang ganti. Dia sudah selesai mandi. "Sudah bangun Sayang? Sebentar ya, aku akan buatkan bubur untuk kamu"


"Minta Mbak saja, kamu gak perlu repot-repot membuatkan aku bubur segala. Kamu hanya perlu menemani aku disini" ucap Fadil, menatap Yara yang sedang duduk di meja rias untuk memakai krim.


Pipi tirus Yara terlihat jelas, berat tubuhnya yang masih belum bisa kembali pulih sejak dia sakit parah. Bahkan pengaruh obat yang masih dia konsumsi selama ini, masih memberikan efek tidak bagus untuk tubuhnya. Rambutnya saja belum benar-benar tumbuh semua, masih beberapa helai saja. Tapi Fadil tidak peduli dengan penampilan istrinya, yang terpenting Yara bisa sembuh total dan bisa menemaninya selamanya.


"Iya Sayang, nanti aku minta Mbak saja" ucap Yara sambil tersenyum padanya.


Fadil turun dari tempat tidur dan menghampiri Yara, memeluknya dari belakang dan mencium pipinya dengan gemas. Meski pipi Yara sudah tidak empuk lagi seperti saat Yara masih bertubuh sedikit berisi.


"Sayang, kamu ngapain si? Tiduran saja di tempat tidur. Kamu harus banyak istirahat biar segera sembuh" ucap Yara.


Fadil menatap mata Yara dari pantulan cermin, kelopak mata yang hitam itu masih sedikit terlihat. "Jangan pernah tinggalkan aku ya. Apapun yang terjadi kamu akan tetap menjadi milikku"


Yara tersenyum mendengar itu, dia memegang tangan Fadil yang melingkar di dadanya. "Aku tidak akan pernah meninggallkan kamu. Kecuali memang kamu yang meninggalkan aku atau meminta aku untuk pergi dari kehidupan kamu"

__ADS_1


"Tidak akan pernah terjadi. Cukup sekali aku melakukan kebodohan dan kesalahan yang besar. Tidak akan pernah aku mengulangi hal yang sama"


Bersambung


__ADS_2