
"Semua perjuangan dan usaha kita selama ini telah membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Yara di nyatakan bersih dari kanker, kita sudah melakukan pengecekan sampai beberapa kali. Dan memang kanker di tubuhnya sudah benar-benar mati dan hilang"
Beberapa bulan berlalu, akhirnya Yara benar-benar bisa melewati semua ini. Keajaiban dari Tuhan yang benar-benar nyata terjadi pada Yara. Tidak ada rasa syukur yang lebih dari apapun lagi yang bisa Yara ucapkan selain hari ini.
Fadil memeluk Yara dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dia pungkiri. Bagaimana dia yang sudah berjuang sama-sama dengan Yara selama ini. Tentu saja kabar ini telah menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi Fadil dan Yara.
"Terima kasih, Tuhan"
Fadil mencium kening Yara, lalu memeluknya dengan kebahagiaan yang dia rasakan dalam dirinya. Setidaknya dia bisa merasa jika perjuangan dia dan Yara selama ini benar-benar tidak sia-sia.
Tidak dapat berkata apapun lagi, Yara hanya mampu menangis dalam pelukan Fadil. Tentu sebuah tangisan bahagia yang tidak bisa lagi dia ungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.
Fadil langsung membawa Yara pulang ke rumah dengan bahagia. Akhirnya, saat ini tiba juga. Dimana saat Fadil dan Yara menerima kabar terbaik dari semua perjuangan yang mereka lakukan selama ini.
Yara masih tidak menyangka dengan kabar hari ini. Yara yang sudah banyak berjuang untuk kesembuhan penyakitnya ini. Namun ternyata semua perjuangannya memang tidak sia-sia. Setelah banyaknya rasa sakit yang dia rasakan selama menjalani pengobatan,
"Sayang..." Fadil masuk ke dalam kamar, berlutut di depan Yara yang sedang duduk di atas sofa. Meraih tangan Yara dan memegangnya. "...Sekarang kamu percaya kalau semua perjuangan kita ini pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan"
Yara mengangguk, sekarang dia merasa sangat bersyukur dan berterima kasih pada Fadil yang selalu memberinya semangat di saat Yara mulai menyerah dengan semua yang dia jalani.
"Terima kasih Sayang, karena kamu sudah menemani aku sampai saat ini. Terima kasih banyak karena sudah begitu sabar dengan semua yang kita lewati selama ini"
__ADS_1
Fadil mengecup punggung tangan Yara, tentu saja dia juga merasakan kebahagiaan yang sama. "Sekarang tidak ada lagi yang perlu kamu ragukan dari aku. Kamu harus siap untuk menikah dengan aku"
Yara mengangguk, mungkin selama ini memang dia yang selalu menolak ajakan Fadil untuk segera menikah hanya karena dia yang tidak yakin jika penyakitnya akan benar-benar sembuh atau tidak. Yara yang takut hanya akan membuat Fadil kesusahan dan menyesal setelah menikah dengannya.
"Fadil, karena sekarang Dokter sendiri sudah mengatakan jika aku telah sembuh, Aku bersedia untuk menikah dengan kamu"
Fadil berdiri, dia beralih duduk di samping Yara. Mengelus kepala Yara yang tentunya masih menggunakan penutup kepala karena memang rambutnya yang sudah hampir habis.
"Sebenarnya ini alasan kamu tidak menerima ajakan menikah dari aku beberapa bulan lalu. Hanya karena kamu yang takut jika penyakit kamu tidak bisa sembuh, iya 'kan?"
Yara menyandarkan kepalanya di bahu Fadil yang duduk di sampingnya. Memang tidak pernah terpikirkan oleh Yara jika dia akan benar-benar sembuh. Tapi ternyata keajaiban Tuhan itu masih ada dan nyata Yara rasakan saat ini.
"Sayang, sudah banyak penyesalan yang aku alami selama ini. Tapi bukan karena aku bersama denganmu, tapi penyesalan karena aku yang meninggalkan kamu demi wanita lain yang ternyata tidak lebih baik dari kamu"
Yara hanya tersenyum mendengar itu, sekarang ini yang terpenting adalah dirinya yang bisa menjalani semuanya dengan baik dan bisa kembali bersama dengan Fadil. Pria yang sangat dia cintai dan tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapa pun.
#######
Yara baru saja selesai mandi, dia duduk di depan meja rias dan menatap wajahnya. Pipinya yang masih tirus dan tentunya belum kembali normal. Apalagi ketika rambutnya yang sudah hampir habis terlepas dari kulit kepalanya.
Terkadang Yara ingin berteriak dengan semua takdir yang dia jalani selama ini. Tentang dirinya yang harus menjalani kisah yang rumit ini dan sebuah penyakit yang semakin membuat kacau kehidupannya. Namun, saat ini bukan saatnya untuk Yara mengeluh. Bersyukur saja karena dia bisa melewati semua masa sulitnya ini.
__ADS_1
"Ada apa hmm?" Fadil memeluk Yara dari belakang, dia yang baru masuk ke dalam kamar dan melihat Yara yang terdiam di balik meja rias.
Yara tersenyum, dia memegang tangan Fadil yang melingkar di dadanya. "Aku rindu mempunyai rambut panjang lagi, kapan ya aku bisa mempunyai rambut lagi? Aku malu dengan keadaan aku yang seperti ini sekarang"
"Kenapa harus malu? Kamu cantik dan akan tetap cantik bagaimana pun keadaan kamu saat ini"
Yara menghela nafas pelan, dia menatap Fadil dari balik pantulan cermin. "Nanti kalau kita jadi menikah, aku mohon sama kamu untuk tidak mengadakan acara pernikahan yang mewah dan di ketahui banyak orang ya. Cukup orang-orang terdekat saja yang mengetahuinya"
Fadil sedikit mengerutkan keningnya mendengar ucapan Yara barusan. "Loh kenapa Sayang? Justru aku ingin kalau pernikahan kita ini bisa di ketahui banyak orang. Biar kita bisa berbagi kebahagiaan bersama orang lain"
Yara melepaskan pelukan Fadil dan dia berbalik menghadap pria itu. Menatap Fadil dengan helaan nafas pelan. "Sayang, apa kamu tidak mau jika nanti kita menikah tapi dengan keadaan aku yang seperti ini? Aku hanya tidak mau membuat kamu malu nantinya"
Fadil menghembuskan nafas pelan, dia menangkup wajah Yara dan menatapnya dengan lekat. "Sayangku, jangan pernah berpikir jika aku akan malu dengan keadaan kamu ini. Karena mau bagaimana pun keadaan kamu, aku tidak akan pernah malu sedikit pun. Karena aku sadar, bukan sebuah penampilan luar saja yang bisa membuat kita bahagia. Tapi ketulusan dari hati kamu ini yang membuat aku selalu merasa bahagia saat bersama denganmu"
Yara terrdiam mendengar ucapan itu, tentu saja dia merasa sangat terharu dengan ucapan Fadil saat ini. "Fadil, apa ada ya obat yang bisa menumbuhkan rambut aku lagi? Aku tidak mau membuat kamu malu dengan penampilan aku yang seperti ini"
"Aku sudah konsultasi sama Dokter, dan rambut kamu akan kembali tumbuh. Dokter juga menyarankan beberapa shampo dan vitamin rambut untuk kamu. Jadi nanti rambut kamu akan kembali tumbuh lagi kok"
Yara langsung tersenyum lebar mendengarnya. "Benarkah? Kalau begitu aku bisa mempunyai rambut lagi ya, seperti orang lain"
Bersambung
__ADS_1