Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)

Fadil Dan Yara (Dikhianati Karena Gendut)
S2 Bab 43 (Bahagia Saat Bisa Merasakan Hamil)


__ADS_3

Fadil langsung mendongak ketika mendengar suara lirih istrinya itu. Dia menggeleng pelan melihat Yara yang mulai tidak percaya diri lagi dengan dirinya sendiri.


"Memangnya kalau berat tubuh kamu terus naik, apa salahnya? Yang terpenting kamu dan bayi kita sehat. Jadi tidak peduli dengan bentuk tubuhmu akan seperti apa" ucap Fadil.


"Tapi 'kan kamu tidak akan mengerti perasaanku. Aku itu sudah berusaha sekali untuk menjaga berat tubuhku yang dulu, tapi pas mengandung aku malah tidak bisa menahan diri hingga berat tubuhku terus naik" ucap Yara dengan kepala menunduk.


Mendengar itu, Fadil hanya menghembuskan nafas pelan. Tentu saja dia bisa melihat bagaimana Yara yang begitu tidak percaya diri dengan keadaannya saat ini.


"Sayang, dengarkan aku..." Fadil meraih tangan istrinya di atas meja. Menggenggamnya dengan lembut. "...Tidak ada yang salah dengan berat badanmu itu. Lagian kesehatan kamu dan bayi kita yang terpenting, bukan tentang bentuk tubuhmu lagi"


Yara menatap Fadil dengan lekat, dan dari tatapan Yara itu, Fadil dapat melihat sebuah ketakutan yang besar. Mungkin karena Yara yang sangat takut kalau Fadil akan kembali berkhianat hanya karena bentuk tubuhnya yang kembali berisi seperti sekarang ini.


"Sayang, kamu jangan terus menyamakan aku yang sekarang dengan aku yang dulu. Kamu tahu sendiri, kalau dulu aku juga menyesal karena sudah melakukan itu. Padahal jelas aku tidak pernah yakin dengan keputusanku yang aku ambil waktu itu" ucap Fadil, seolah mengerti ketakutan Yara.


"Janji ya kalau kamu tidak akan meninggalkan aku demi wanita lain, hanya karena tubuhku yang sekarang ini" ucap Yara.


Fadil langsung mengecup punggung tangan Yara beberapa kali. "Mau kamu gendut atau kurus, aku akan tetap mencintaimu"


Yara terdiam, dia sedikit lega dengan ucapan suaminya itu. Setidaknya dia harus percaya dengan ucapan suaminya barusan. Meski hatinya yang selalu dipenuhi rasa takut. Mungkin orang-orang akan berpikir jika dia terlalu manja.


Tapi mereka tidak tahu bagaimana menjalani hidup dengan rasa trauma yang selalu menghantuinya. Selalu merasa takut dirinya tidak pantas dan akhirnya akan kembali dikhianati. Hanya itu yang akan selalu membuat Yara selalu takut jika suaminya akan kembali berpaling seperti sebelumnya.


Bahkan terkadang Yara sering meminta pada Tuhan, untuk menghilangkan ketakutan dan rasa trauma itu. Karena dia tidak mau terus dipenuhi rasa insecure seperti ini. Tapi nyatanya sebuah trauma akan hilang begitu saja ketika sudah tertanam di dalam hati.


"Sekarang makan saja, setelah ini kita akan pergi ke mal dan membeli beberapa perlengkapan bayi yang kamu inginkan" ucap Fadil.

__ADS_1


Dan akhirnya Yara mulai menikmati makan malam ini. Meski hatinya yang belum bisa  berhenti gelisah atas trauma yang terus menghantuinya selama ini. Tapi dia tetap menjaga kesehatannya dan bayinya dengan makan dengan teratur.


Setelah selesai makan malam, Fadil langsung menepati janjinya. Dia membawa Yara ke mal untuk membeli beberapa perlengkapan bayi mereka. Tentu hal ini membuat Yara terlihat sangat bahagia, mungkin karena dia yang selalu mendambakan hari ini. Bisa membeli perlengkapan bayi untuk anaknya sendiri. Setelah sekian lama dia menantikan seorang anak hadir dalam pernikahan mereka.


Akhirnya aku bisa membeli semua ini untuk anakku sendiri.


*******


"Kenapa makanmu sedikit sekali? Apa kau sedang mencoba untuk menurunkan berat badanmu?" tanya Fadil dingin, ketika dia melihat Yara yang makan cukup sedikit malam ini.


Yara menggeleng pelan, dia menatap suaminya itu. "Aku sudah gampang sekali kenyang kalau makan, kamu gak lihat perutku sudah sebesar ini. Jadi aku sudah gampang sekali begah dan kenyang meski hanya makan sedikit"


Jawaban itu membuat Fadil menghela nafas pelan, dia takut sekali kalau sampai Yara ingin mencoba untuk menurunkan berat badannya lagi dengan menyiksa dirinya sendiri. Cukup sekali Fadil melihat Yara yang pernah tersiksa karena dia yang terlalu ingin menurunkan berat badannya karena Fadil, meski dengan cara yang cukup membahayakan baginya.


"Awas saja kalau kau mencoba untuk menurunkan berat badanmu lagi. Apalagi sekarang kau sedang hamil besar, kau harus mengingat tentang kesehatan bayi kita. Tidak peduli kalau badanmu gendut atau tidak. Karena aku akan selalu menerima kamu apa adanya" tekan Fadil.


"Aku kenyang sekali, mungkin karena aku memang sudah hamil besar ya. Jadi sulit sekali makan banyak, gampang engap" ucap Yara.


Fadil berdiri dan mengelus kepala istrinya itu, dengan tubuh Yara yang pendek pastinya mempunyai perut yang besar seperti ini akan sangat sulit baginya.


"Sebentar lagi Sayang, nanti kita akan bisa menggendong anak kita ini" ucap Fadil sambil mengelus kepala istrinya.


Yara mengangguk, dia mengelus perutnya dan selalu merasakan sebuah tendangan dari dalam sana dan dia selalu bahagia sekali ketika merasakannya.


"Ya ampun, aku bahagia sekali karena sudah diberikan kesempatan untuk merasakan hamil" ucap Yara.

__ADS_1


Fadil mengecup kening istrinya, tentu saja kebahagiaan Yara adalah kebahagiaannya juga. "Aku juga sangat bahagia. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia Sayang. Kamu akan dipanggil Ibu dan aku dipanggil Ayah. Sebentar lagi, kita hanya perlu menunggu sebentar lagi"


Yara mengangguk, dia menatap suaminya dengan senyuman penuh kebahagiaan. Tidak sia-sia ternyata perjuangannya dan kesabarannya selama ini, akhirnya dia bisa merasakan kehamilan ini.


"Sayang, ayo kita ke kamar. Aku jadi ngantuk setelah makan" ucap Yara.


Fadil langsung sigap saat melihat Yara yang sedikit kesulitan untuk berdiri dari duduknya. Dia langsung menggendong istrinya itu.


"Sayang, aku berat loh" ucap Yara, menatap suaminya dengan lembut. Tangannya melingkar di leher Fadil.


"Lebih berat lagi kalau aku hanya diam saja melihat kau kesulitan. Kamu seperti ini karena sedang mengandung anakku, jadi tidak perlu merasa bersalah karena apapun. Karena aku akan selalu mencintai kamu apa adanya" ucap Fadil.


Yara hanya tersenyum saja, mungkin memang kebahagiaan ini seperti yang begitu mencintainya. Mungkin memang Yara tidak perlu lagi takut Fadil berpaling. Tapi ya karena hati dan dirinya yang sudah merasa trauma, maka dia tidak akan bisa melepaskan rasa takut itu begitu saja.


*******


Ketika pagi ini Yara terbangun dengan kakinya yang terasa pegal dan sedikit kebas. Saat dia melihat kakinya yang membekak membuat Yara hanya menghela nafas pelan. Dia sudah pernah konsultasi dengan Dokter dengan keadaan ini. Namun Dokter juga menjelaskan jika memang ada beberapa Ibu hamil yang mengalami seperti ini juga. Jadi tidak perlu khawatir untuk ini.


"Sayang, ada apa?"


Fadil yang menyadari ketidak nyamanan istrinya membuat dia langsung terbangun dan melihat kaki Yara yang memang membekak. "Sakit lagi kakinya? Kita ke Dokter saja ya"


Yara menggeleng pelan, tentu saja dia tidak mau pergi lagi ke Dokter dengan kendala kakinya yang bengkak, karena Dokter juga mengatakan semua ini biasa di alami beberapa Ibu hamil.


"Kan Dokter juga udah menjelaskan kalau semua ini biasa di alami beberapa Ibu hamil. Jadi tidak perlu ke Dokter" ucap Yara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2