
Dan Fadil benar-benar bisa membuat Yara di izinkan untuk pulang oleh Dokter dan menjalani rawat inap saja. Namun sebenarnya bukan hanya karena ini adalah keinginan dari Yara , tapi memang Fadil ingin lebih dekat lagi dengan Yara dengan membawa dia tinggal di rumah yang tetap menjadi rumah impian keduanya. Jika saja pengkhianatan Fadil itu tidak terjadi, mungkin saja Yara sudah tinggal di rumah itu sejak lama.
"Fadil, aku bisa cari kosan saja, tidak perlu tinggal satu rumah dengan kamu. Ingat Fadil, sudah banyak dosa yang kita lakukan selama hubungan kita ini. Aku takut kita akan semakin terjerumus pada kesalahan yang sama"
Ya, Yara merasa jika memang dirinya sedang mendapatkan teguran dari Tuhan untuk dirinya. Dia yang banyak melakukan kesalahan saat masih berpacaran dengan Delano. Bagaimana Yara yang bahkan melakukan hal yang di luar batas dengan Fadil.
Semuanya memang karena dirinya yang terlalu dibutakan oleh cinta. Dan Yara menganggap apa yang dia alami saat ini adalah bentuk teguran dari Tuhan atas apa yang dia lakukan selama ini.
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu, karena kita akan melakukannya jika sudah menikah nanti"
Lagi-lagi Yara terdiam ketika dia mendengar perkataan dari Fadil. Fadil yang mengatakan akan menikahinya itu malah membuat Yara bingung dan takut. Yara takut akan terlalu berharap pada Fadil dan akhirnya dia akan kembali terluka dan kecewa lagi.
"Aku sakit Fadil, tidak seharusnya kamu memilih aku daripada istri kamu yang jelas bisa memberikan kebahagiaan untuk kamu. Bahkan dia sudah memberikan seorang anak untuk kamu"
Fadil berlutut di atas lantai di depan Yara yang sedang duduk di atas kursi roda itu. Fadil meraih tangan Yara dan mengecupnya dengan lembut. "Kamu tidak tahu apa yang telah aku alami selama ini, Yara. Dan sekarang aku sadar, jika kebahagiaan aku memang hanya kamu dan tidak ada lagi siapapun yang bisa membuat aku bahagia seperti kamu"
Yara terdiam, dia menatap Fadil yang juga menatapnya dengan sangat lekat. "Fadil, jangan terus memberikan aku harapan yang lebih jika akhirnya nanti kamu akan membuat aku terluka juga. Aku tidak akan pernah mau untuk kedua kalinya jatuh cinta begitu dalam, dan pada akhirnya aku harus benar-benar kecewa dan terluka"
Fadil mengecup punggung tangan Yara cukup lama, dia tahu bagaimana luka yang dia ciptakan dalam hati gadis itu. Sampai Fadil jelas melihat bagaimana Yara yang sangat rapuh karena terlalu banyak luka yang dia alami selama hidupnya.
Tes..
__ADS_1
Yara merasakan ada cairan yang menetes ke atas punggung tangannya. Membuat dia langsung menatap Fadil. Apa dia menangis? Memang bukan yang pertama kalinya Yara melihat Fadil menangis seperti ini. Saat berada di rumah sakit dan Yara yang terus meminta Fadil untuk pergi meninggalkannya, pria itu bahkan menangis tersedu-sedu sambil terus memeluknya. Seolah dia memang sangat takut untuk kehilangan Yara lagi.
"Fadil.."
Fadil mengangkat wajahnya dengan mengusap sisa air mata di wajahnya itu. Dia menatap Yara sambil tersenyum. "Sayangku, pliss untuk tetap mau tinggal di rumah kita ya. Aku janji akan selalu menjaga kamu dan aku juga akan meyakinkan kamu jika saat ini aku sudah benar-benar menyesali apa yang pernah aku lakukan padamu selama ini"
Fadil mengecup kembali tangan Yara dengan lembut. "Izinkan aku untuk merawat kamu"
Yara terdiam mendengar itu, hatinya yang memang sudah bimbang sejak awal, semakin bimbang saat dia mulai bisa merasakan ketulusan Fadil. Pikirannya yang terus menolak Fadil karena dirinya yang juga takut jika Fadil akan melukainya kembali, mengkhianati cinta yang telah mereka bangun selama ini.
Tapi hati kecilnya berkata lain, seolah hatinya yang merindukan kehadiran Fadil dalam hdiupnya. Fadil yang selalu melindungi dirinya selama ini. Yara yang lemah dan selalu dapat perlindungan dari Fadil, membuat dia menyimpan banyak harapan pada Fadil dan dia terus bergantung pada Fadil.
"Sayang, sekarang kita pulang ya. Aku sudah mengurus semuanya, sekarang kita langsung pulang ya"
Yara menatap Fadil yang sedang mengemudi, hal ini dulu sering dia lakukan. Fadil yang sering mengantarkan dirinya bekerja atau pergi kemana pun. Situasi yang Yara rindukan, hal kecil seperti ini saja sudah membuat Yara sangat merindukan masa-masa dirinya bersama dengan Fadil. Meski hatinya yang masih sangat ragu untuk menerima kembali pria itu dalam hidupnya.
"Kamu belum pernah lihat rumahnya 'kan?"
Yara mengangguk, dia hanya pernah melihat lewat foto saja yang di berikan oleh Fadil. Dan dia memang menyukai model rumah itu, hanya saja Yara tidak pernah melihat langsung rumah impian mereka itu.
"Nanti kita lihat ya, kamu pasti suka karena memang sesuai dengan ekpestasi kita"
__ADS_1
Yara hanya mengangguk saja menanggapi Fadil yang terus mengajaknya berbicara. Fadil hanya menghela nafas pelan ketika melihat Yara yang begitu cuek dan dingin padanya, padahal dia sudah mengeluarkan banyak topik untuk pembicaraan mereka selama di perjalanan ini. Tapi Yara tetap hanya menjawab seperlunya saja.
"Kita sudah sampai Sayang"
Fadil membantu Yara untuk turun dari dalam mobilnya, Namun ketika dia akan mnedudukan Yara dia atas kursi roda, Yara langsung menolak.
"Aku bisa kok berjalan, tidak harus memakai kursi roda"
Fadil mengelus kepala Yara yang menggunakan penutup kepala itu. Lalu dia memberikan kecupan di kening wanitanya iu. "Aku tahu, tapi kamu tidak boleh banyak bergerak dulu. Meski kamu bisa berjalan, tapi tubuh kamu masih terlalu lemah untuk banyak berjalan. Pakai kursi roda saja ya"
Yara menatap Fadil yang mengelus pipinya dengan lembut itu dengan matanya yang berkaca-kaca. Yara tidak bisa menghindari perasaan haru yang dia rasakan dengan perlakuan Fadil ini.
"Iya Fadil"
Akhirnya Yara menurut saja apa perkataan Fadil. Duduk di atas kursi roda dengan Fadil yang mendoronya dari belakang, Fadil membawa masuk Yara ke dalam rumah mereka ini.
Rumah minimallis dengan gaya eropa dan halaman yang luas. Ada kolam berenang di bagian belakang rumah, seperti yang Yara harapkan. Ketika Yara masuk ke dalam rumah ini, dia tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Sungguh Yara tidak pernah menyangka akan tinggal juga di rumah impian dirinya bersama Fadil ini.
Ya Tuhan, akhirnya aku bisa masuk juga ke rumah ini.
Rasanya Yara masih tidak menyangka jika dirinya bisa masuk ke dalam rumah impian dirinya dan Fadil setelah cintanya tetkhianati.
__ADS_1
Bersambung