
"Makasih ya Dok, kalau begitu kami permisi dulu"
"Baiklah, untuk pengobatan selanjutnya akan di lakukan dua hari lagi. Siap-siap ya Ra, kita akan tambah dosis lagi"
Mendengar itu wajah Yara langsung lemas, sudah merasa lelah dengan semua pengobatan yang di lakukan. Namun dia tidak bisa melakukan apapun karena memang dirinya sudah berjanji pada Fadil untuk tetap melakukan pengobatan.
"Baik Dok" jawab Yara pasrah
Di dalam mobil, Fadil melihat Yara yang terlibat murung selepas mereka dari rumah sakit. "Sayang, kenapa?"
Yara menoleh dan tersenyum, lalu dia menggeleng pelan sebagai jawabannya atas pertanyaan Fadil barusan. Yara hanya tidak ingin mengeluh pada Fadil yang sudah berusaha memberikan Yara semangat lagi untuk melakukan pengobatan.
Padahal pada kenyataannya Yara bersemangat hanya karena untuk dirinya, bukan karena Yara yang memang benar-benar yakin jika dirinya akan sembuh. Rasanya sudah terlalu banyak pengobatan yang dia lakukan, namun semuanya seolah sia-sia saja.
"Aku mau sate ayam di tempat kita dulu sering jajan pas lagi kuliah dong" Yara mencoba menghilangkan kecanggungan ini. Karena pastinya Fadil akan terus bertanya padanya tentang dia yang tiba-tiba saja murung. Dan Yara tidak siap untuk menjelaskan semuanya pada Fadil.
"Yaudah ayo kita pergi kesana"
Yada merangkul lengan Fadil dan menyandarkan kepalanya di lengan Fadil. Rasanya sudah sangat lama sekali dia tidak melakukan ini. Suasana seperti ini sudah sangat lama tidak dia alami.
"Terima kasih ya Fadil, karena kamu selalu menjadi penyemangat dalam hidupku"
Fadil mengecup kepala Yara yang bersandar di lengannya itu. "Tentu saja, karena kamu juga yang selalu ada dalam setiap kesulitan yang aku jalani. Kamu yang tidak pernah mengeluh menghadapi sikap aku yang terkadang membuat kamu kesal dan marah"
Memang hanya Yara yang bisa bersabar dengan sikap Fadil yang terkadang suka marah-marah tidak jelas kalau sedang ada masalah atau ada hal yang mengganggu pikirannya. Dan cara Yara menenangkan Fadil itu sangat berbeda dari kebanyakan wanita di luar sana.
Ketika wanita di luar sana langsung bertanya apa masalahnya dan lama-lama malah berujung keributan. Tapi, Yara selalu membiarkan Fadil sendiri dan tidak menanyakan hal apapun. Membiarkan Fadil tenang dan nantinya dia akan bercerita sendiri tanpa di suruh.
"Sebenarnya aku sempat sangat marah dan ingin sekali membenci kamu. Tapi entah kenapa hatiku tidak bisa melakukannya, meski pikiran aku terus berkata untuk membenci kamu, tapi nyatanya hati aku tidak bisa melakukan itu"
__ADS_1
Fadil tersenyum mendengar itu, tentu saja dia semakin sangat bersyukur karena Yara mau kembali padanya dan menerimanya. Setelah apa yang Fadil lakukan padanya.
Aku berjanji Tuhan, jika aku tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak akan membuat Yara terluka lagi.
Janji yang Fadil ucapkan dalam hatinya, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Sampai Fadil bisa menyembuhkan penyakit Yara, dan dia akan membuatnya bahagia. Selamanya.
"Yeay sudah sampai akhirnya. Ayo turun Fadil, aku sudah tidak sabar untuk makan sate ayam disini. Sudah lama sekali"
"Tadi aja manggilnya Sayang, kalau lagi ada maunya. Sekarang kok manggil nama lagi si"
Yara tertawa lucu mendengar ucapan Fadil, apalagi ketika dia melihat wajah Fadil yang sedang merajuk. Yara mengelus pipi Fadil dengan lembut.
"Uhh kok gemes banget ya lihat kamu cemberut begini. Yaudah, Sayang ayo kita turun" kata Yara dengan lembut, suaranya yang selalu membuat Fadil candu.
"Kamu bisa jalan memangnya? Kaki kamu 'kan sedang sakit"
Tapi sepertinya Fadil memang tidak bisa tenang jika membiarkan Yara berjalan sendiri. Fadil turun duluan dari dalam mobil dan menggendong Yara untuk masuk ke dalam kedai sate disana.
"Sayang, aku bisa jalan kok, kenapa kamu harus menggendong aku segala. Aku 'kan malu di lihat banyak orang" bisik Yara di telinga Fadil
"Aku tidak peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Yang aku pedulikan hanya kesehatan kamu"
Fadil mendudukkan Yara di kursi yang tersedia disana. Ada sebuah meja panjang dan kursi panjang yang bisa di duduki empat orang. Fadil segera memesan sate ayam pada si penjual.
"Tunggu sebentar ya, aku sudah pesankan"
Yara hanya menunduk dengan wajahnya yang memerah, ketika Fadil yang berkata seperti itu sambil mengelus pipinya. Sementara di sebrangnya ada beberapa orang yang pastinya akan melihat adegan itu. Tentu saja Yara malu dengan perlakuan Fadil ini, malu karena di depan banyak orang. Kalau hanya mereka berdua, ya tidak papa.
Cup..
__ADS_1
Seolah sengaja ingin membuat iri para orang-orang yang berada disana, Fadil malah mengecup kepala Yara dengan cukup lama. Seolah menunjukan pada semua orang jika wanita di sampingnya ini adalah miliknya.
"Fadil, malu ih. Kamu apaan si pake cium aku di depan banyak orang" bisik Yara
Bukannya berhenti, Fadil malah semakin menjadi. Dia memegang tangan Yara yang berada di atas meja, mengecup punggung tangan Yara beberapa kali. Hal itu tentu saja membuat orang-orang yang ada disana berteriak dalam hati. Makian dari para jomblo yang sangat teriris hatinya melihat adegan itu.
Ya Tuhan, aku ingin mendapatkan kekasih seperti itu juga.
Apa dia tidak mikir ya, ini tempat umum. Benar-benar tidak menghargai perasaan jomblo sepertiku.
Lah, kenapa suamiku tidak romantis seperti itu si. Sepertinya aku harus mencari suami baru. Waduh, tapi jangan deh.
Teriakan batin orang-orang yang ada disana ketika melihat kelakuan Fadil pada Yara yang seolah sengaja sedang pamer kemesraan.
Sate ayam pesanan Fadil datang juga, dia langsung mengambil satu dan meniupnya perlahan karena sate yang masih panas. Lalu menyuapi Yara dengan lembut.
"Sayang, aku bisa sendiri. Kamu makan sendiri saja"
"Sudah, kamu menurut saja sama aku. Saat ini kamu sedang sakit, jadi biar aku suapi ya"
Yara hany tersenyum masam mendengarnya, akhirnya dia tetap tidak bisa membantah keinginan Fadil untuk menyuapinya. Jadi Yara menerima saja suapan dari Fadil. Sakit si, tapi aku tetap bisa makan sendiri. Tangan aku masih kuat untuk mengangkat satu tusuk sate saja. Gerutu Yara dalam hati.
"Aaa.. Makan yang banyak ya"
Yara hanya tersenyum saja, sebenarnya dia sudah sangat malu dengan keadaan orang-orang sekitar atas apa yang Fadil lakukan ini. Tapi Yara juga bisa apa, saat Fadil sudah tidak bisa dia bantah. Jadi dia hanya menurut saja.
Sampai satu porsi sate ayam habis, Yara sama sekali tidak menyentuh makanan itu. Karena memang dirinya yang tidak diperbolehkan untuk makan dengan sendiri oleh Fadil.
Bersambung
__ADS_1