
Di dalam mobil suasana yang masih hening, terlihat sekali Fadil yang masih mencoba memedam amarahnya. Masih belum berniat untuk melajukan mobilnya, Fadil masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya.
Yara perlahan mengelus pipi Fadil dengan lembut, dia tahu kalau suaminya marah. Tapi tidak ada gunanya juga untuk terus marah, karena tidak mungkin Yara bisa menuruti ucapan orang-orang yang menilai buruk tentang keadaan Yara.
"Kenapa kamu tidak melawan tadi? Katakan dengan lantang jika kau adalah istriku dan wanita yang aku cintai" ucap Fadil, mendesah kesal.
Yara tersenyum, dia menangkup wajah Fadil dan menolehkannya agar dia menatap ke arah Yara. "Sayang, tidak perlu semua orang tahu kalau kamu menicntaiku. Karena cukup aku saja yang merasakan cintamu ini. Dan untuk perkataan orang-orang yang menilai buruk padaku, aku juga tidak bisa melarangnya untuk itu. Biarkan saja mereka menilai aku seperti apa, yang terpenting suamiku sendiri tahu bagaimana aku yang sebenarnya"
Fadil menghela nafas, dia memegang tangan Yara yang berada di pipinya. Mengecup telapak tangan itu dengan lembut. "Aku tetap tidak rela saat ada yang menjelekan kamu seperti itu"
Yara tersenyum, memang dia harus lebih sabar menghadapi Fadil yang sedang diselimuti amarah seperti ini. "Apa yang Nona Muda itu katakan memang benar 'kan? Tidak ada yang salah, aku memang penyakitan. Jadi mendebat pun hanya akan sia-sia, karena memang aku seorang wanita yang berpenyakit"
Fadil langsung menggeleng pelan, air matanya tiba-tiba saja menetes mengenai telapak tangan Yara yang masih berada di pipnya. "Seharusnya kau tidak pernah sakit parah seperti ini kalau saja aku tidak menghina fisikmu saat itu. Sungguh aku merindukan tubuh kamu yang berisi, pipi kamu yang chubby. Buka malah tirus seperti ini"
Yara tersenyum, tangan Fadil yang mengelus pipi tirusnya ini membuat Yara langsung memegangnya. "Semuanya sudah menjadi cerita yang ditulis untuk hidupku ini. Sekarang aku bisa sembuh juga berkat kamu, kalau saja kamu tidak memberikan satu ginjal padaku yang sudah hampir mati itu, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini"
Fadil menggeleng cepat, air matanya kembali menetas. "Jangan pernah membahas tentang kematian. Kau akan berumur panjang dan aku akan terus berusaha agar kamu bisa pulih kembali dan benar-benar sembuh"
Yara tersenyum mendengar itu, namun matanya berkaca-kaca.Begitu dia terharu pada Fadil yang selalu saja memberikan kesempurnaan dalam hidupnya. Meski pernah Fadil melakukan kesalahan, namun dia benar-benar menebus semua kesalahan yang dia perbuat pada Yara dengan memberikan semua kasih sayang dan cinta tulusnya untuk Yara.
"Terima kasih sudah menerima keadaan aku yang seperti ini. Dan terima kasih karena kamu tidak pernah malu mengatakan jika aku adalah istrimu pada orang-orang"
Yara hanya cukup tahu diri jika Fadil tidak mau mengakui dirinya sebagai istri di depan rekan kerjanya. Melihat penampilan Yara saja, pastinya Fadil akan merasa malu. Jadi Yara menganggap wajar jika Fadil tidak mau mengakui dirinya sebagai istri. Tapi nyatanya Fadil tidak seperti itu. Cinta dan kasih sayangnya memang begitu tulus untuk Yara.
"Kau adalah istriku dan jangan pernah ragu kau mengakui itu. Bilang pada semua orang jika kau adalah wanita yang aku cintai" tegas Fadil.
__ADS_1
Yara hanya tersenyum saja, memang banyak sekali perubahan dalam diri Fadil setelah banyak rintangan yang mereka lalui selama ini.
"Lalu, sekarang kita akan kembali masuk ke dalam? Pestanya juga belum selesai, aku tidak papa loh kalau harus kembali masuk ke dalam" ucap Yara sambil menatap keluar jendela, dimana gedung itu masih terlihat ramai dengan tamu-tamu yang baru datang. Karena Pesta juga baru saja akan dimulai, namun sudah terlanjur ada kejadian ini hingga Fadil membawa Yara keluar dari aula gedung.
"Kita pulang saja, aku malas kembali ke sana. Aku tidak mau kembali ke tempat dimana istriku sendiri tidak dihargai" ucap Fadil.
"Yaudah kita pulang saja kalau begitu" ucap Yara.
Dan Fadil pun mulai melajukan mobilnya, Yara hanya terus menggenggam sebelah tangan Fadil yang masih terlihat kesal itu atas kejadian tadi.
"Sayang, bagaimana kalau kita makan dulu di depan sana" ucap Yara, menunjuk sebuah kedai ayam gorang di pinggir jalan itu.
Fadil menoleh sekilas pada Yara, karena terlanjur ada kejadian tidak mengenakan, membuat Fadil dan Yara tidak sempat makan di Pesta itu.
Yara menggeleng pelan. "Sayang, kita makan disana saja. Tidak perlu ke Restaurant, disana makanannya juga enak. Lagian pas lagi kuliah dulu, bukannya kita sering makan disana. Ayo kita kenang masa kuliah disana"
Fadil mengerutkan keningnya, dia menghentikan mobilnya di dekat kedai ayam goreng itu. Bahkan Fadil lupa kalau kedai ayam goreng itu ternyata tempat yang sering mereka kunjungi saat kuliah, dulu. Tempatnya memang sedikit berubah, ada yang di renovasi di beberapa bagian.
Yara menatap suaminya itu dengan lekat. "Sayang, jangan bilang kalau kamu lupa dengan kedai ini?"
Fadil menoleh dan tersenyum cengengesan. "Tempatnya berubah Sayang, jadi aku tidak ingat kalau tempat ini adalah tempat kita sering makan saat jaman kuliah"
Yara menggeleng pelan, memang daya ingat suaminya untuk hal-hal kecil dan sepele seperti ini selalu saja dilupakan. "Kamu ini, padahal tempat ini banyak menyimpan kenangan loh. Makanya jangan banyak kerja Sayang, jadi lupa sama masa-masa indah kita dulu"
Fadil hanya tersenyum, dia meraih kepala Yara dan memberikan kecupan di pundak kepalanya. "Karena aku hanya memikirkanmu saja. Jadi untuk yang lainnya aku tidak terlalu mengingat-ngingatnya"
__ADS_1
"Dasar kamu ini"
Mereka pun turun dan masuk ke dalam kedai yang cukup ramai di jam makan malam. Namun lebih banyak yang makanannya dibungkus, tidak dimakan langsung di kedai ini.
"Kamu duduk dulu disana, biar aku yang pesan" ucap Fadil.
Yara hanya mengangguk saja, dia berjalan ke arah meja di ujung. Duduk disana dan menatap ke arah belakang kedai yang ada kolam ikan disana dengan air mancur sederhana di tengahnya. Namun cukup menarik perhatian dan membuat mata merasa sejuk menatapnya. Hal ini yang membuat Yara suka sekali makan disini. Selalu merasa tenang.
Yara tersenyum tipis ketika dia mengingat jaman kuliah dulu bersama suaminya.
Hari itu hujan di malam hari, setelah Yara pulang bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan. Lalu mereka mampir di kedai ini sekalian untuk meneduh. Maklumlah saat itu Fadil hanya mempunyai motor metic biasa.
"Tempatnya enak ya, ada air mancur disana. Makanannya juga murah dan enak. Aku mau kesini lagi deh kalau kita ada waktu" ucap Yara saat itu.
Dan Fadil hanya tersenyum melihat kebahagiaan kekasihnya yang sangat sederhana ini.
"Sayang, minum teh hangat dulu"
Yara mengerjap saat Fadil datang dan membawanya teh hangat untuknya. Yara tersenyum dan mengambil teh hangat itu. "Terima kasih ya. Lihat deh Sayang, tempatnya masih sama seperti dulu"
Fadil hanya tersenyum saat melihat ke arah tunjuk Yara. Kolam ikan sederhana dengan air mancur sederhana itu bisa membuat istrinya tersenyum bahagia seperti ini.
Yaraku masih sama seperti dulu, bahagianya sangat sederhana.
Bersambung
__ADS_1