
Yara tidak menjawab, dia masih kesal pada suaminya yang sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan Yara. Padahal dia hanya tidak mau kalau sampai Fadil sakit karena terlalu kelelahan.
Akhirnya Fadil memilih untuk segera bersih-bersih dan berganti pakaian. Dia tidak mau membuat istrinya semakin marah karena terus kekeuh untuk membantunya menggantikan popok Kayra.
Saat Fadil keluar dari ruang ganti, dia melihat Yara yang baru saja menidurkan kembali Kayra di dalam box bayi. Fadil menghampirinya dan memeluk Yara dari belakang. Tentu saja dia tidak akan pernah mau melihat istrinya yang terus diam seperti ini.
"Sudah ya, jangan marah terus menerus. Aku minta maaf karena tidak mendengarkan ucapanmu. Tapi sungguh, pekerjaan itu memang harus segera selesai" ucap Fadil.
Yara menghela nafas pelan, dia berbalik dan menatap suaminya dengan lembut. Dia mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Sayang, aku seperti ini hanya karena tidak mau kalau sampai kamu sakit. Kamu tahu 'kan, kalau aku tidak punya siapapun kalau bukan kamu. Jadi kamu jangan pernah sakit ya"
Mendengar itu, Fadil langsung terdiam. Mungkin memang selama ini Yara hanya bisa bergantung padanya saja. Begitupun sebaliknya. Karena keduanya itu tidak mempunyai keluarga lain selain mereka berdua yang saling menyayangi dan saling melindungi.
Bahkan dulu aku pernah berpaling dan dia pastinya tidak mempunyai siapapun. Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan.
Seolah Fadil baru teringat dengan apa yang pernah dia lakukan di masa lalu. Pastinya akan sangat melukai hatinya, Yara yang selalu bergantung padanya karena dia hanyalah seorang anak sebatang kara yang tidak mempunyai keluarga. Begitupun dengan Fadil sendiri. Namun bodohnya saat itu Fadil malah meninggalkannya dan membuat Yara merasa seorang diri.
Fadil langsung memeluk Yara, dia mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Sayang, aku tidak akan pergi kemana pun. Kamu akan selalu bersamaku, begitupun aku yang akan selalu bersama denganmu"
Yara mengangguk dalam pelukan suaminya, dia yang sejak dulu selalu bergantung pada Fadil pada beberapa hal. Jadi sekarang dia tidak mungkin bisa hidup tenang ketika tidak ada Fadil disampingnya. Ingatlah, Yara ini hanya seorang diri dan tidak ada lagi yang bisa dia mintai tolong selain Fadil seorang.
__ADS_1
"Terima kasih karena selalu mengerti aku dan selalu bisa berada disampingku" ucap Yara, dia mendongak dan memberikan kecupan di dagu Fadil.
Fadil menatap mata istrinya dengan lekat, meski sekarang Yara sudah terlihat bahagia bersamanya. Tapi bekas luka yang dulu pernah Fadil ciptakan padanya, tentu saja masih terlihat jelas. Fadil menangkup wajah Yara dan menatapnya lekat.
"Karena hanya kamu yang paling mengerti aku. Hanya kamu yang bisa membuat aku bahagia sampai saat ini. Ketulusan kamu yang jelas hanya untuk aku. Meski aku sudah menimbulkan luka yang besar di hatimu"
Yara hanya tersenyum saja, untuk sekarang dia ingin menghindari membahas untuk kisah masa lalu. Karena dia tidak ingin sampai membuat Fadil kembali tidak nyaman dengan ucapannya yang terkadang tidak bisa Yara kontrol jika menyangkut masa lalu itu.
Pagi ini, Yara menatap suaminya yang masih terlelap, jelas sekali dia begitu lelah karena semalaman hampir tidak tidur hanya karena pekerjaan. Beruntung sejak bangun terakhir kali, Kayra tidak lagi rewel. Dia tidur dengan nyaman hingga pagi menjelang.
Yara mengganti pakaian bayinya setelah memandikannya. Lalu memberikannya asi dan Kayra pun kembali terlelap setelah mandi dan perut kenyang meminum asi Ibunya. Setelah merawat anaknya selesai, Yara tinggal memperhatikan suaminya. Dia menyiapkan sarapan untuk Fadil dan membawanya ke dalam kamar, tahu jika suaminya masih begitu lelah pagi ini.
Yara mengelus kepalanya dengan lembut, mengecup kening dan pipi Fadil untuk membangunkan suaminya itu. "Sayang, ayo bangun. Bukannya kamu harus bekerja hari ini?"
Fadil menggeliat pelan, rasanya kepalanya sangat berat dan matanya yang begitu rapat untuk bisa terbuka. Tidur hampir dini hari, membuatnya tidak bisa bangun di pagi hari seperti ini.
Yara tersenyum melihat suaminya yang seolah sulit untuk bangun pagi ini. Dia kembali mengecup pipinya beberapa kali, biasanya cara seperti ini sangat jitu untuk bisa membangunkannya. Dan benar saja, Fadil mulai menggeliat pelan dan mengerjapkan matanya.
"Kalau kamu tidak bilang hari ini ada pekerjaan penting, mungkin aku tidak akan membangunkanmu" ucap Yara, dia mengelus lembut kepala suaminya. Merapikan rambut Fadil yang berantakan.
__ADS_1
Fadil menghembuskan nafas kasar, tentu saja dia sangat merasa malas untuk bekerja hari ini. Tapi dia juga ingat jika hari ini ada pekerjaan cukup penting. Jadi, mau tidak mau dia tetap harus pergi bekerja.
"Aku sangat malas ke Kantor, tapi ya sperti katamu barusan. Aku ada pekerjaan cukup penting hari ini" ucap Fadil, dia menatap langit-langit kamar dengan hembusan nafas pelan.
Yara membaringkan tubuhnya disamping Fadil, menyandarkan kepalanya di dada suaminya. "Sepuluh menit saja ya, aku berikan ekstra energi untuk kamu agar lebih semangat bekerja hari ini"
Fadil terkekeh lucu mendengar ucapan Yara barusan. Dia mengelus rambut istrinya dengan lembut, mengecup puncak kepalanya yang berada di dadanya itu. Tentu saja pelukan seperti ini membuat Fadil lebih semangat lagi, tapi sayangnya dia masih belum bisa melakukan hal yang benar-benar akan mengisi energi semangatnya dengan full.
"Kapan aku bisa mengisi penuh energi aku ini? Kalau hanya pelukan tidak akan bisa terisi penuh" ucap Fadil dengan manja.
Yara tersenyum, tentu saja dia mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya ini. Yara mendongak dan menatap Fadil dengan tatapan penuh arti.
"Tunggu sebentar lagi ya"
Fadil langsung cemberut mendengarnya, meski hanya sebentar lagi. Tentu saja masih butuh beberapa hari lagi, membuat dia merasa lemas dengan semuanya. Dia sudah terlalu lama libur, hingga dia sudah ingin melanjutkan kegiatan itu lagi. Kegiatan yang selalu membuat energi semangatnya full seratus persen.
Yara mencubit gemas pipi Fadil, melihat wajah kecewa suaminya itu, sungguh membuat Yara merasa gemas dan lucu. "Jangan cemberut seperti itu Sayang, benar-benar hanya sebentar lagi saja. Kalau nanti sudah waktunya, pasti aku akan memberikan kejutan yang spesial untuk kamu"
Bersambung
__ADS_1