
Ketika akhir pekan ini mereka cukup mempunyai waktu senggang, maka mereka langsung memutuskan untuk pergi ke rumah Putri Ajeng. Ingin melihat anak mereka yang baru saja lahir.
Yara selalu saja terlihat antusias ketika dia melihat seorang bayi mungil seperti ini. Pastinya wajahnya itu selalu terlihat bahagia saat dia bisa menggendong seorang bayi. Apalagi jika nanti dia bisa menggendong anaknya sendiri. Pasti kebahagiaan akan lebih bersinar di matanya.
"Sayang, lucu sekali ya bayinya" ucap Yara yang menoleh pada Fadil.
Fadil mengangguk, dia mengelus kepala bayi mungil dalam gendongan istrinya itu, lalu dia berbisik. "Nanti anak kita akan lebih lucu dari ini"
Yara hanya tersenyum mendengar ucapan Fadil barusan. Tentu saja, semoga saja dia akan bisa merasakannya. Menggendong anak kandungnya sendiri. "Semoga saja kita akan segera mendapatkan bayi kita sendiri"
Fadil menganguk, dia mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Kalau ingin segera mendapatkan apa yang kita inginkan. Maka harus banyak berusaha, nanti malam kita berusaha lebih keras lagi"
Mata Yara langsung terbelalak mendengar itu, suaminya ini selalu saja mengaitkan semuanya pada sebuah kegiatan panas malam hari. Memang tidak habis-habisnya dia untuk terus membuat Yara kelelahan setiap malam, selalu dengan alasan jika dirinya itu harus banyak berusaha agar Yara bisa segera hamil.
"Itu si keinginan kamu, bukannya setiap malam kita melakukannya ya. Mungkin karena terlalu sering, jadi belum ada yang berbuah di rahimku. Sebaiknya satu minggu ini jangan dulu melakukannya" ucap Yara sambil terkekeh.
"Jangan harap!" tekan Fadil.
*******
Waktu terus berlalu sampai tidak terasa kapan waktu itu berputar dan berjalan sesuai porsinya. Karena selama ini Yara yang selalu merasa nyaman dengan kehidupannya yang bahagia ini. Bersama dengan pria yang dia cintai, tentunya tidak akan pernah membuat Yara menyesal karena sudah memberikan kesempatan pada Fadil yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu.
"Sayang, besok malam kita rayakan lagi Anniversarry ke 3 tahun ini. Aku tidak menyangka akan bisa menikmati hidup pernikahan denganmu seperti ini" ucap Fadil, dia terlihat sangat begitu antusias dengan hari pernikahan mereka dilaksanakan beberapa tahun lalu.
Meski pernikahannya terjadi sedikit mendadak dan dengan keadaan Yara yang sedang tidak baik-baik saja. Namun setidaknya hari itu tetap menjadi hari yang berkesan bagi mereka berdua yang sudah melewati banyak rintangan selama perjalanan hidupnya. Hingga akhirnya bisa sampai di hari itu.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, tapi maaf ya karena setelah tiga tahun pernikahan bahkan aku belum bisa memberikan apa yang kamu mau" lirih Yara di akhir kalimatnya dengan nada bicara yang penuh rasa bersalah.
Fadi langsung mengelus kepala istrinya dengan lembut. Lalu dia mengecup keningnya. "Jangan berpikiran seperti itu, karena hanya kamu yang akan menjadi hadiah terbaik dalam hidupku. Karena selama ini, hanya kehadiran kamu dalam hidupku yang akan menjadi hadiah terindah dalam kehidupanku ini. Jadi, tidak perlu memikirkan tentang semua hal yang tidak penting.
Yara tersenyum, setiap mendekati hari pernikahan yang selalu mereka rayakan dengan makan malam romantis di sebuah Restaurant atau sengaja membuat dinner sendiri. Namun, sampai tiga tahun pernikahannya ini. bahkan Yara masih belum terlihat tanda-tanda kehamilan. Padahal dia selalu berharap akan bisa memberikan hadiah itu di saat hari Anniversarry pernikahannya.
Kapan ya, aku bisa memberikan hadiah seorang anak untuk Fadil. Namun sepertinya Tuhan belum mengizinkan semuanya.
Fadil mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Jangan berpikiran apapun. Semuanya akan baik-baik saja dan terasa bahagia saat kita bisa menerima satu sama lain. Aku sudah bahagia saat bisa bersama denganmu"
Yara hanya tersenyum mendengarnya, mungkin memang dirinya dan suaminya ini memang bahagia asal mereka bersama. Namun tetap saja, Yara ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Dia juga ingin memberikan seorang keturunan. Meski sepertinya masih belum waktunya dia memberikan itu untuk Fadil.
"Sudahlah, jangan banyak pikiran. Aku mau berangkat kerja dulu sekarang. Pokoknya besok malam kita harus merayakan hari pernikahan kita dengan bahagia. Tidak ada lagi kesedihan di wajahmu ini" ucap Fadil sambil mengelus pipi Yara.
********
Pagi ini tiba-tiba Yara merasakan sangat mual dan tidak nyaman. Lalu dia segera bangun dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Namun entah kenapa tidak banyak yang dia muntahkan selain cairan bening saja.
"Ada apa denganku? Tidak biasanya seperti ini"
Yara kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat suaminya yang sedang berada di atas tempat tidur. Fadil masih terlelap di akhir pekan, mungkin karena sedang berada di hari libur.
Yara langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan sarapan pagi ini. Meski sebenarnya dia sedang sedikit tidak enak badan. Namun Yara tetap harus melakukan kewajibannnya sebagai seorang istri.
"Aduh, kenapa aku jadi pusing begini"
__ADS_1
Yara memijat pelipisnya ketika dia merasa pusing dengan bau bawang goreng dan bumbu-bumbu yang dia buat. Padahal tidak biasanya dia seperti ini. Tapi entah kenapa sekarang malah merasa pusing dan mual saat mencium bau bawang goreng.
Mata Yara terasa berkunang-kunang ketika dia mulai tidak bisa menahan rasa pusingnya. Sampai akhirnya, Yara tidak bisa mengendalikan pusingnya lagi dan dia jatuh pingsan.
Mbak pelayan yang melihat itu langsung berteriak panik, dia langsung mematikan kompor yang menyala. "Nona, bangun. Aduh, kenapa tiba-tiba seperti ini?"
Mbak pelayan langsung berlari ke arah tangga dan memanggil Fadil di kamarnya. "Tuan, tolong. Nona pingsan"
Dan sekejap pintu kamar langsung terbuka saat Fadil mendengar teriakan Mbak pelayan barusan. Dia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian, bahkan rambutnya saja belum di sisir.
"Dimana dia?"
"Ada di dapur"
Fadil langsung berlalu dengan wajah yang begitu panik. Berlari menuruni anak tangga, hingga ketika dia berada di dapur dan melihat Yara yang masih tergeletak di atas lantai. Saking paniknya, bahkan Mbak pelayan tidak memindahkan dulu Yara ke sofa.
"Sayang bangun, kamu kenapa tiba-tiba seperti ini"
Tangan Fadil bergetar saat dia mengangkat tubuh Yara ke dalam gendongannya. Bahkan sampai sekarang dia tidak bisa melihat Yara seperti ini, karena dirinya akan begitu tegang karena semua bayangan di masa lalu saat Yara sedang sakit parah, tentunya langsung melintas dalam ingatannya.
"Sayang pliss.. Jangan membuat aku khawatir dan cemas seperti ini. Aku sangat takut kehilanganmu. Kamu harus baik-baik saja, kamu tidak boleh sakit seperti ini lagi"
Bayangan masa lalu yang kembali melintas dimana Yara yang hampir meninggal karena sakitnya.
Bersambung
__ADS_1