
Pukul 7 malam, semua anggota keluarga kembali berkumpul di meja makan. Sedang nikmatnya mencicipi masakan Inda, tiba-tiba ponsel Baron berdering.
"Maaf, permisi sebentar!" ucap Baron, lalu memilih menjauh dari semua orang.
Tidak ada yang aneh bagi yang lainnya, namun tidak untuk Arhan. Matanya menangkap sesuatu yang aneh dari gelagat Baron, dia sangat yakin bahwa telepon itu berasal dari anak buah Baron sendiri.
Sementara di teras sana, Baron nampak mengangguk-angguk sembari terus mengoceh tanpa henti. Entah apa yang mereka bicarakan?
Setelah sambungan telepon itu terputus, Baron kembali ke meja makan dan melanjutkan makannya. Terlihat santai seperti tak terjadi apa-apa, justru hal itu kian membuat Arhan curiga.
Usai makan malam, Baron memilih pergi lebih dulu dan kembali ke paviliun. Dia mengenakan pakaian serba hitam, lalu mengarahkan kakinya menuju garasi.
Sebuah motor sport keluar dari dalam sana. Beberapa menit kemudian langsung menghilang meninggalkan gerbang.
"Baron...," teriak Arhan.
Telat selangkah saja, Baron tak bisa mendengar teriakan Arhan karena kepalanya ditutupi helm, belum lagi suara knalpot yang sangat berisik.
"Kemana dia?" batin Arhan dengan kening berkerut.
Arhan mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Baron, sayangnya tak diangkat karena Baron meninggalkan ponselnya di paviliun.
"Sial, kenapa cucunguk itu tak mengatakan apa-apa padaku?" geram Arhan sembari mengepalkan tangannya.
Satu jam kemudian, Baron tiba di sebuah gudang tua. Dengan tubuh tegap, dia melangkah memasuki sebuah ruangan yang sangat gelap. Terdengar teriakan wanita yang memohon minta dilepaskan.
"Bajingan, cepat lepaskan aku!"
"Tek!"
Lampu menyala terang sehingga Tasya merasa silau dan mengedipkan matanya beberapa kali.
"Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita itu.
"Dasar banci! Beraninya sama wanita," teriak Tasya sembari tersenyum miring, lalu membuang ludahnya ke hadapan Baron.
Baron mengelak dan meremas rahang Tasya dengan kasar. "Ini hanya salam perkenalan sayang, lawan mu bukan aku." geram Baron dengan senyuman tak kalah miringnya.
"Prok Prok"
__ADS_1
Terdengar derap langkah kaki setelah Baron bertepuk tangan.
"Bereskan iblis betina ini!" titah Baron kepada dua orang wanita tomboi yang sudah berdiri di belakangnya.
"Siap Bos," sahut keduanya bersamaan.
Setelah Baron meninggalkan ruangan sempit itu, dua wanita itu pun mendekati Tasya dan mulai melakukan aksi mereka.
Aneh memang, keduanya bahkan tak melakukan kekerasan sedikitpun pada Tasya. Mereka justru memperlakukannya dengan sangat lembut.
"Cantik sekali," gumam salah seorang wanita itu sembari mendekati bibir Tasya.
"Apa yang kalian lakukan? Tolong, jangan sakiti aku!" pinta Tasya memelas.
"Oh, jangan takut sayang! Tidak ada yang akan menyakitimu, justru kami akan mengajakmu bersenang-senang." bisik wanita satunya sembari mencium tengkuk Tasya.
"Deg!"
Seakan ditimpuk dengan sekarung pasir, pusing, lemas, hilang akal, begitulah rasa yang tercipta di tubuh Tasya saat ini.
"Apa kalian-?"
"Jangan takut, ini tidak akan menyakitkan!"
"Tek!"
Sementara di luar sana, Baron masih duduk manis menunggu kedua wanita itu menyelesaikan tugasnya. Baron juga menyediakan minuman untuk anak buahnya yang sudah bersusah payah menangkap mangsanya.
"Minumlah, ini semua untuk kalian!" seru Baron sembari tersenyum licik.
"Wah, makasih loh Bos. Bos gak minum sekalian?" ucap salah satu dari mereka.
"Bos udah insaf, kalian saja yang minum!" timpal Tobi.
"Kau gak ikut minum, kapan lagi dapat bonus plus plus begini?" seloroh Baron sembari melirik Tobi.
"Gak ah, Bos aja kalau mau. Masa' aku harus berbagi dengan mereka, apalagi barang bekas begitu. Jahat-jahat begini, seleraku masih tinggi." jawab Tobi, dia tidak mau menjadi bagian dalam rencana yang satu ini.
"Hahaha... Cobain dulu! Siapa tau keenakan?" seloroh Baron sembari tertawa terbahak-bahak.
"Gak ah, menjijikkan. Aku keluar dulu," Tobi memilih keluar dari gudang dan duduk di bawah pohon besar.
__ADS_1
Tidak selamanya dia akan jadi penjahat seperti ini. Dia juga ingin insaf dan melanjutkan hidupnya dengan wanita baik-baik, mengarungi bahtera rumah tangga. Namun sebelum menemukan wanita yang tepat, dia akan tetap setia bersama Baron.
Satu jam sudah berlalu, beberapa anak buah Baron nampak kepanasan, bahkan ada yang sampai membuka baju saking gerahnya.
"Bos, kenapa ruangan ini panas sekali?"
"Apa ada air es di sini?"
"Tolong nyalain AC nya dong bos! Gerah nih,"
"Akhh... Kenapa kepalaku pusing sekali?"
"Panas...,"
Satu persatu dari lima orang anak buah Baron mengerang saat merasakan panas di tubuh mereka. Bahkan seperti ada yang mengganjal di dalam celana masing-masing. Apa yang salah dengan mereka? Apa minuman itu mengandung obat perangsang?
"Kreeek!"
Pintu ruangan tempat Tasya disekap pun terbuka. Dua wanita tadi keluar dengan langkah sedikit gontai.
"Makasih Bos. Lain kali kalau ada barang seperti ini lagi, jangan lupa hubungi kami!" seru salah satunya, kemudian melanjutkan langkah mereka meninggalkan gudang.
Jangan tanya apa yang baru saja mereka lakukan di dalam sana! Author masih polos, jadi gak tau apa-apa ya! Hahaha....
Tasya meringkuk sembari meraung sejadi-jadinya. Tubuhnya terasa remuk, bahkan intinya terasa begitu perih. Dua wanita itu memperlakukannya seperti binatang. Apa ini balasan atas dosa yang sudah dia perbuat kepada Aina?
"Woi, masuklah! Sekarang giliran kalian," seru Baron kepada kelima anak buahnya yang masih mengerang kepanasan.
"Kami Bos?" sahut salah satunya dengan suara terdengar berat.
"Iya, itu pun kalau kalian mau. Kalau tidak juga gak papa, tahan saja sampai kepala kalian pecah!" ucap Baron dengan entengnya, dia sendiri yang menyuruh Tobi memasukkan obat perangsang agar anak buahnya menggila.
Salah satu dari mereka mulai berdiri dan masuk ke dalam ruangan, segera pria itu membuka pakaian dan mendekati Tasya dengan tatapan menuntut.
"Apa yang kau lakukan di sini? Tolong pergilah, jangan sentuh aku!" isak Tasya sembari menutupi bagian sensitifnya yang masih menganga.
"Layani aku dulu, aku sudah tidak tahan!" gumam pria itu, lalu segera mengukung Tasya di bawah kendalinya.
"Jangan, aku mohon!" tolak Tasya sembari meronta-ronta.
Terlambat jika harus memohon belas kasih sekarang, semua sudah terjadi dan inilah hukuman yang harus dia terima. Lebih parah dan lebih menyakitkan dari apa yang sudah dia perbuat kepada Aina.
__ADS_1
Sementara pria itu tengah beraksi, empat pria lainnya ikut masuk dan menjadikan Tasya sebagai piala bergilir. Bahkan otak kelima pria itu sudah tak berfungsi sama sekali, imajinasi mereka jadi liar dan menjadikan Tasya seperti wanita binal yang melayani lebih dari satu orang pria sekaligus.