
Setelah melepas kepergian Nayla, Aina kembali masuk dan duduk di samping Leona yang tengah memangku Aksa. Aina tersenyum tanpa beban sedikitpun.
"Ma, Aina sudah membicarakannya dengan Nayla. Nayla setuju menjadi madu Aina. Kami bisa tinggal bersama di rumah ini. Mama atur saja waktu yang tepat untuk pernikahan mereka, lebih cepat lebih baik!" ucap Aina kegirangan.
Leona membulatkan matanya lebar, begitupun dengan Arhan. Keduanya bingung melihat reaksi Aina. Bukannya marah, dia justru mendukung suaminya melakukan poligami. Baru kali ini Leona melihat seorang istri yang begitu senang dimadu oleh suaminya.
"Aina, kamu sehat kan Nak?" tanya Leona dengan tatapan tak biasa.
"Tentu saja Aina sehat, sangat sehat malahan. Aina sudah tak sabar menunggu Nayla masuk ke rumah ini."
"Deg Deg"
Jantung Arhan berdegup kencang mendengar pengakuan Aina, darahnya mendidih. Niat hati ingin membuat istrinya cemburu, justru peluru itu malah berbalik pada dirinya sendiri. Hatinya berdenyut perih melihat kebahagiaan di wajah Aina.
...****************...
Siang hari, Aina berbaring di atas tempat tidur setelah menyusui Aksa. Wajahnya tampak gundah. Meskipun dia tau ucapan Arhan tadi hanya untuk memanasi dirinya, tapi tetap saja hal itu membuat hatinya terluka.
Suara kecohan pintu dari luar sana membuat Aina terperanjat, dia bergegas menutup matanya dan berpura-pura tidur agar Arhan tak mengganggunya.
Arhan duduk di sisi ranjang dengan wajah lesunya, menatap wajah istrinya dengan intim. Entah kenapa, dia merasa sedih mendengar kata-kata Aina di bawah tadi.
Arhan menyentuh wajah Aina dengan lembut, lalu berpindah menyentuh bibir ranum istrinya nan menggoda.
Arhan menghela nafas berat, "Abang hanya bercanda, kenapa Aina malah menelan serius perkataan Abang tadi?"
"Mana mungkin Abang tega menduakan Aina? Apalagi dengan sahabat Aina sendiri. Abang tidak sejahat itu!"
Aina berpura-pura menggeliat dan membuka matanya lebar. Kemudian tersenyum menatap wajah Arhan yang masih setia memperhatikannya.
"Apa yang Abang lakukan di sini?" tanya Aina berpura-pura bingung.
Arhan tak menyahut, tatapannya terlihat sendu. Dia merasa kalau Aina tak memiliki perasaan apa-apa terhadap dirinya. Buktinya, Aina malah mengizinkannya berpoligami.
"Abang, hei, apa yang Abang pikirkan?" tanya Aina sembari mengibaskan lima jarinya di depan wajah Arhan.
Arhan tak tau harus berbicara apa, dia membaringkan tubuhnya di samping Aina dan memeluknya dengan erat. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja membasahi pundak Aina.
Aina yang menyadari itu, berusaha keras menahan tawanya. Bagaimanapun, Arhan yang duluan memanasi dirinya. Dia tidak ingin aktingnya terbongkar begitu cepat.
__ADS_1
"Abang kenapa? Kok malah sedih. Bukankah Abang seharusnya bahagia karena sebentar lagi keinginan Abang untuk memiliki banyak istri terpenuhi?"
"Jarang-jarang loh ada seorang istri yang memberikan izin kepada suaminya untuk menikah lagi. Abang seharusnya berterima kasih pada Aina."
"Cukup Aina, jangan membahas itu lagi!" ketus Arhan meninggikan suaranya.
"Loh, kenapa Abang marah? Bukankah ini yang Abang inginkan?" tanya Aina.
Arhan melepaskan pelukannya, lalu melipat sikunya dan menyangga kepalanya dengan telapak tangannya.
"Kenapa Aina terlihat begitu bahagia?" tanya Arhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lalu Aina harus bagaimana? Bukankah menyenangkan hati suami adalah pahala? Aina ingin mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya." ucap Aina sembari tersenyum.
"Tapi Abang tidak bahagia melihat Aina seperti ini." balas Arhan.
"Lalu Abang maunya Aina seperti apa?" tanya Aina.
"Entahlah, Abang juga tidak tau." Arhan merebahkan dirinya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.
...****************...
Setelah meneguk hampir separuh minuman, Arhan berbaring di sofa sembari menatap langit yang bertabur bintang. Perasaannya semakin galau mengingat sikap Aina yang acuh tak acuh terhadap dirinya.
Setelah Aksa tertidur, Aina menaruhnya di dalam box bayi. Lalu melangkah menyusul Arhan yang masih setia menghirup udara malam.
Aina duduk di hadapan Arhan dengan kimono yang dikenakannya. Melihat raut wajah suaminya yang begitu datar, Aina merasa iba. Dia tak tega mempermainkan hati suaminya lebih lama lagi.
Aina menekuk lututnya di lantai, kemudian menyentuh wajah Arhan penuh kelembutan.
"Apa yang Abang pikirkan?" tanya Aina lirih.
"Tidak ada, masuklah! Udara di luar dingin." suruh Arhan.
"Tidak mau, Aina di sini saja menemani Abang!" tolak Aina, kemudian merebahkan kepalanya di lengan Arhan.
Perasaan Arhan semakin berkecamuk melihat sikap Aina yang kadang suka berubah. Dia tak mengerti jalan pikiran istrinya sedikitpun.
Arhan bangkit dari pembaringannya, lalu mengangkat tubuh Aina dan membawanya duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Arhan melingkarkan tangannya di perut Aina, lalu menumpukan dagunya di pundak Aina.
"Abang minta maaf, Abang tidak ada niat sedikitpun menduakan Aina. Abang sayang sama Aina, Abang cinta sama Aina. Tadi Abang hanya bercanda, Abang bermaksud membuat Aina cemburu. Tapi ternyata Abang salah."
"Abang tau Aina tidak memiliki perasaan apa-apa pada Abang, tapi tetap saja hati Abang sakit mendengar pengakuan Aina tadi."
"Jika Aina tidak menginginkan Abang, Abang bisa ikhlas menerima itu. Tapi jangan lagi mengatakan hal seperti tadi, mengizinkan Abang menikahi orang lain. Apapun yang terjadi, hanya Aina lah satu-satunya wanita yang Abang inginkan!"
Dada Aina bergetar mendengar pengakuan Arhan. Apalagi saat merasakan hembusan nafas Arhan yang hangat menyentuh daun telinganya. Membuat bulu kuduk nya merinding.
"Aina tau itu, tadi Aina juga bercanda kok. Memangnya Abang saja yang bisa mempermainkan emosi Aina, Aina juga bisa kali Bang." Aina terkekeh dengan sendirinya, membuat Arhan geram hingga menggigit pundak Aina gemas.
"Astaga Aina, jadi...,"
"Jadi satu sama kan?" Aina tak kuasa menahan tawanya. Dia bangkit dari pangkuan Arhan, lalu berjalan menuju kamar. Sebelum masuk Aina berbalik sembari terus menertawakan suaminya, lalu mengulurkan lidahnya meledek Arhan yang masih terpaku menatap kepergian dirinya.
"Bleeeek,"
Arhan geram sekalipun gemas melihat kelakuan Aina. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu menghela nafas berat.
"Awas ya! Jangan harap Abang mengampuni Aina kali ini!"
Arhan bangkit dari duduknya, kemudian melenggang menyusul Aina. Dengan tatapan tajam seperti mata elang, Arhan menilik wajah Aina yang sedang duduk di sisi ranjang.
Aina yang menyadari itu, bergegas kabur sebelum Arhan menangkapnya. Aina berdiri di samping box bayi Aksa, saat Arhan mendekat, Aina naik ke kasur. Arhan sedikit kesulitan karena Aina terus saja mengelak hingga keduanya saling kejar-kejaran.
"Menyerah lah Aina, jangan membuat Abang marah!" pinta Arhan.
"Marah saja! Emangnya Aina takut?" jawab Aina terkekeh.
Arhan naik ke kasur, Aina melompat ke lantai. Saat Arhan turun, Aina naik lagi ke kasur. Begitulah hingga Arhan benar-benar kesal melihat tingkah istrinya.
"Baiklah, berarti ini yang Aina inginkan." Arhan melucuti satu persatu pakaian yang dikenakannya hingga menyisakan segitiga pengamannya saja. Aina membulatkan matanya melihat itu.
"Apa yang Abang lakukan?" teriak Aina ketakutan.
"Memakan Aina hingga habis!"
Arhan melucuti segitiga pengamannya hingga tubuhnya benar-benar polos. Aina menutup matanya, saat itulah Arhan berhasil menangkapnya.
__ADS_1
"Nah, dapat kan?" gumam Arhan, kemudian menekan tubuh Aina hingga terbaring di atas kasur.