Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 51.


__ADS_3

Malam berlalu begitu cepat, tepat pukul 6 pagi Aina terbangun dari tidurnya. Kicauan burung yang bernyanyi terdengar merdu di telinga, ditambah lagi debur ombak yang menghempas batu karang, membuat suasana hati Aina menjadi damai.


Aina membuka matanya perlahan, seulas senyum terukir indah di wajahnya melihat Arhan yang masih terlelap dengan posisi memeluknya erat. Dengkuran tipis yang keluar dari mulut Arhan seketika membuatnya gemas.


Aina menyentuh pipi Arhan yang memiliki bulu tipis, mengusapnya, lalu mengecupnya dengan sayang. Pelan-pelan, Aina beringsut dari posisinya dan merangkak menuruni tempat tidur. Tak lupa juga dia mencium Aksa dengan penuh kasih sayang.


Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Aina keluar meninggalkan kamar. Dia berjalan menuju pantai yang tak jauh dari resort, di sana dia bisa menikmati sejuknya udara pagi dan pemandangan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.



Mengingat sinar matahari pagi yang sangat baik untuk kesehatan, Aina memilih berjemur sembari merebahkan diri di bangku yang sudah tersedia di pinggir pantai.


"Hmmm, hufftt," Aina menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan. Begitu seterusnya hingga beberapa kali, jarang-jarang dia bisa menikmati udara sesejuk ini.


Tidak lama, Nayla muncul dari belakang. Gadis itu duduk di bangku yang ada di sebelah Aina, kemudian melakukan hal yang sama dengan sahabatnya itu.


"Tumben jam segini sudah di luar?" tanya Nayla.


"Loh, bukankah kita ke sini untuk berlibur? Ya harus dinikmati dong," sahut Aina dengan mata tertutup rapat.


"Iya juga sih, hehehe." Nayla tertawa dengan lepas.


"Oh ya, Aksa mana?" tanya Nayla sembari menoleh ke arah Aina.


"Masih tidur, kasihan kalau dibangunin." sahut Aina.


Di kamar sana, Hendru baru saja keluar dari kamar mandi. Saat membuka pintu, seulas senyum terukir indah di wajahnya. Dia berniat menyusul Nayla ke tepi pantai, tapi tiba-tiba langkahnya tertahan ketika mengingat kejadian semalam.


Hendru mengurungkan niatnya dan memilih duduk di depan kamarnya saja. Dia tidak ingin lagi mendekati Nayla sesuai ucapan yang keluar dari mulutnya tadi malam.


Sementara di kamar lain, Aksa baru saja terbangun dari tidurnya. Karena tak melihat Aina di kamar itu, Aksa akhirnya memanjat perut papanya, lalu melompat di atasnya. Sontak saja Arhan terperanjat kaget dan membuka matanya lebar.


"Sayang, Aksa sudah bangun ya?" tanya Arhan dengan senyumnya yang menawan. Arhan bangkit dari pembaringannya, lalu mengangkat tubuh mungil putranya dan mendudukkan Aksa di pangkuannya.


"Pa pa?" ucap Aksa yang belum bisa berbicara. Dia baru bisa mengucap kata papa dan mama saja, itupun masih terputus.


"Iya sayang, jagoan Papa pintar banget ya. Bangun tidur gak pake nangis," Arhan mengusap kepala Aksa dengan lembut, lalu mengecupnya dengan sayang. Setelah itu Arhan menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Aina, tapi tak melihat batang hidung istrinya di mana-mana.

__ADS_1


"Pa, Ma ma," Aksa menanyakan mamanya kepada Arhan.


"Iya sayang, Mama mungkin di kamar mandi. Aksa peluk Papa ya, kita cari Mama sama-sama!" Arhan menggendong Aksa dalam dekapan dadanya, kemudian bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah membuka pintu, Arhan mengerutkan keningnya melihat kamar mandi yang kosong, tidak ada Aina di dalam sana.


"Ma ma," Lagi-lagi Aksa mengoceh memanggil Aina.


"Mama tidak ada di sini sayang, kita cari Mama di luar yuk!" ajak Arhan, kemudian menutup pintu kamar mandi dan berjalan menuju pintu utama.


Sesaat setelah pintu terbuka lebar, seulas senyum terukir indah di wajah Arhan. Dari kejauhan, dia sudah bisa mengenali istrinya.


"Aksa, itu Mama lagi berjemur. Kita ke sana ya!" ajak Arhan, kemudian melenggang menyusul Aina yang masih berbaring di atas bangku.


"Ma, Ma ma," Suara lembut Aksa membuat Aina terperanjat, dia membuka matanya lebar, kemudian bangkit dan menoleh ke belakang.


"Aksa, sayang Mama udah bangun ya?" sapa Aina, kemudian menyusul Arhan dan mengambil Aksa dari gendongan suaminya itu.


"Ma ma," Aksa lagi-lagi mengoceh di dalam gendongan Aina, lalu mengalungkan tangan mungilnya di leher sang mama.


"Tidak sayang, Aksa gak ganggu kok. Memang sudah waktunya bangun kan?" jawab Arhan dengan muka bantalnya, kemudian memeluk Aina dan mencium kening istrinya dengan lembut.


Saat Aina membawa Aksa duduk di bangku yang tadi dia duduki, Nayla segera bangkit dari posisinya.


"Aksa, ponakan Aunty udah bangun ya? Mau main sama Aunty gak?" ajak Nayla, kemudian merentangkan tangannya.


Aksa tersenyum melihat Nayla, lalu ikut merentangkan tangannya. Nayla pun mengambilnya dari pangkuan Aina.


Nayla bangkit dari duduknya, lalu membawa Aksa duduk di hamparan pasir yang membentang luas. Tubuh keduanya sampai basah diterpa debur ombak.


Aksa terkekeh saat air laut menyapu tubuh mungilnya, begitupun dengan Nayla. Keduanya asik bermain tanpa menghiraukan Aina dan Arhan yang tengah duduk memperhatikan mereka.


"Lihat putra Abang! Aksa bahkan tidak takut sedikitpun." ucap Aina dengan seulas senyum yang terukir di wajahnya.


"Hehehe, iya ya. Padahal ini pengalaman pertama baginya bermain di pantai seperti ini." sahut Arhan, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Aina.


"Oh iya Bang, Hendru mana? Kenapa dia tidak keluar?" tanya Aina, sudah sedari tadi dia berjemur di luar, tapi tak melihat batang hidung Hendru sama sekali.

__ADS_1


"Entahlah, apa dia masih tidur?" jawab Arhan dengan pertanyaan pula.


Arhan melepaskan pelukannya dari pinggang Aina, kemudian bangkit dari duduknya.


"Aina tunggu di sini ya, Abang mau melihat Hendru sebentar!" ucap Arhan sembari mengacak rambut Aina hingga kusut.


"Iya Bang, pergilah!" sahut Aina.


Arhan memutar tubuhnya dan melenggang menuju kamar Hendru. Baru beberapa langkah berjalan, dia sudah melihat Hendru yang tengah duduk di bangku yang ada di depan kamar.


"Kenapa duduk di sini? Ayo, ikut kami! Temani Nayla bermain bersama Aksa!" ajak Arhan yang hanya berjarak sekitar 3 meter dari Hendru.


"Malas ah, aku di sini saja!" sahut Hendru dengan ekspresi datarnya.


Arhan menautkan alisnya, dia bingung melihat sikap Hendru yang tak seperti biasanya.


"Hei, apa yang terjadi denganmu? Bukankah biasanya kau paling senang mengganggu Nayla?" tanya Arhan penasaran.


"Sekarang tidak lagi, aku menyerah." jawab Hendru yang seakan sudah putus asa mendekati Nayla.


Arhan kembali menautkan alisnya, kemudian menekuk kakinya di bangku kosong yang ada di sebelah Hendru.


"Dasar pecundang, baru segitu aja sudah menyerah! Kau tidak ingat bagaimana perjuanganku mendapatkan Aina dulu? Aku bahkan harus bolak-balik keluar kota," ungkap Arhan mengingatkan Hendru.


"Kasus kita berbeda, jangan disama ratakan! Aina wanita yang lembut, berbeda dengan gadis itu. Selain keras kepala, dia juga psikopat. Pria mana yang berani mendekati dia?" keluh Hendru, kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Berarti kau itu pengecut, mungkin caramu salah mendekatinya. Coba dengan cara yang lebih lembut!" saran Arhan.


"Kurang lembut bagaimana lagi? Dasar gadis itu saja yang kasar, tidak bisa membedakan mana pria baik dan mana yang tidak. Dia menganggap ku brengsek hanya karena kejadian di jet kemarin, aku hanya melindunginya karena dia takut. Tau begini, lebih baik aku biarkan saja dia menggigil ketakutan." geram Hendru.


"Hahaha, jangan begitu! Bagaimanapun, dia tetaplah seorang wanita. Dekati dia dengan cara yang lebih halus, bila perlu buat tubuhnya bergetar saat bersamamu!" ucap Arhan sembari tersenyum geli.


"Brengsek kau! Kau pikir aku pria apaan?" umpat Hendru dengan tatapan mematikan.


"Hahaha, apa salahnya jika itu bisa membuatnya luluh? Tapi jangan sampai kebablasan, cukup aku dan Aina saja yang melakukan kesalahan itu!" pesan Arhan, tawanya terdengar lepas.


"Dasar gila, pergilah temani istrimu! Aku mau mandi dulu," umpat Hendru, dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Arhan begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2