
Operasi berjalan lancar, bayi perempuan itu sudah keluar hingga tak memberatkan lagi untuk Aina. Semoga saja sebentar lagi Aina bisa bangun dan semoga bayi berbobot satu setengah kilo itu bisa bertahan, bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Setelah Aina dipindahkan ke ruang inap, Arhan pun menghubungi Hendru untuk menanyakan keadaan Nayla. Bagaimanapun Nayla juga korban dari kejahatan penjahat itu meski tidak separah Aina.
Meski berada di rumah sakit yang sama, Arhan tak bisa meninggalkan Aina. Trauma itu masih saja membelenggu di hatinya, bagaimana jika ada orang yang masuk ke ruangan Aina dan menyakitinya lagi?
"Arhan, kau dimana? Apa kau sudah menemukan Aina?" tanya Hendru saat sambungan telepon mereka terhubung, dia juga khawatir memikirkan keadaan Aina.
"Ya, Aina sudah bersamaku. Dia baru saja selesai di operasi. Penjahat itu menyakiti Aina dengan begitu keji, aku tidak akan pernah memaafkan dalang dibalik semua ini!" jelas Arhan.
"Bagaimana keadaan Aina sekarang? Lalu anak kalian bagaimana?" cerca Hendru dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu ketenangan otaknya.
"Aina masih dalam pengaruh obat, doakan saja agar dia cepat sadar. Anak kami masih dalam penanganan dokter, dia terpaksa lahir prematur. Tidak ada tangis, tidak ada gerakan, apa putriku bisa bertahan?" lirih Arhan ketika mengingat kembali wajah putrinya yang sangat cantik. Jangankan memeluknya, menyentuh saja Arhan tidak sempat. Setelah dilahirkan, dokter segera membawanya untuk ditangani.
"Aku turut prihatin, kau harus kuat dan sabar. Kau tidak boleh lemah, Aina sangat membutuhkan dirimu saat ini!" ucap Hendru.
"Iya, kau benar. Lalu bagaimana dengan Nayla? Dia baik-baik saja kan? Kandungannya juga baik kan?" tanya Arhan penasaran.
"Dia baik. Sama seperti Aina, Nayla juga sedang dalam pengaruh obat. Dokter terpaksa mengambil tindakan karena dia terus saja memanggil Aina. Dia syok setelah mengalami kejadian itu. Untung saja janinnya tidak apa-apa." jawab Hendru.
"Syukurlah, aku lega mendengarnya. Jaga dia dengan baik, jangan sampai kejadian ini terulang lagi!" ucap Arhan.
"Kau juga. Jaga Aina, jangan lengah!" sahut Hendru.
"Oh ya, apa kau masih menyimpan nomor Baron?" tanya Arhan.
"Masih," sahut Hendru.
"Share padaku! Aku membutuhkan bantuannya," pinta Arhan.
"Ok, tunggu sebentar!" Hendru mematikan sambungan telepon mereka, setelah itu membuka kontak yang tersimpan di ponselnya.
Tidak lama, notifikasi pesan masuk pun terpampang di layar ponsel Arhan.
Arhan segera menyimpan kontak tersebut, lalu menghubungi Baron yang merupakan teman lamanya. Seorang pria berdarah dingin dan menyimpan sejuta misteri di hidupnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengenali dirinya.
Usai berbicara panjang lebar dengan Baron, Arhan pun mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Arhan memilih berbaring di samping Aina, menatap wajah istrinya yang kini dipenuhi dengan plester. Namun bagi Arhan Aina tetaplah wanita tercantik yang sangat dia cintai. Meski wajah Aina rusak sekali pun, tidak masalah bagi Arhan karena dia mencintai Aina tulus dan menerima segala kekurangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari, Nayla terbangun dari tidurnya. Meski sudut bibirnya masih ngilu, tapi tubuhnya terasa lebih fresh dari sebelumnya.
Nayla bergeming saat mendapati Hendru yang masih tertidur di atas kursi, menggenggam tangannya dengan erat. Seulas senyum terpancar di bibir Nayla.
Sejak kapan Hendru kembali? Nayla sama sekali tidak tau dan tidak menyadari kepulangan suaminya.
"Mas...," Nayla menyentuh pipi Hendru dengan tangan lembutnya.
Hendru tersentak saat tangan Nayla bergerak di pipinya, dengan segera dia membuka mata dan mengucek nya perlahan lalu menatap Nayla dengan intim.
"Sayang, Nayla sudah bangun?" Hendru pun beranjak dari kursinya dan duduk di sisi ranjang.
"Mas kapan pulang? Kok Nayla gak tau?" tanya Nayla dengan suara lembutnya.
"Semalam sayang, Nayla baik-baik aja kan? Apa ada yang sakit?" tanya Hendru balik.
"Nayla gak papa kok Mas, tapi Aina-"
"Tapi Aina sedang kesulitan Mas, dia diculik. Kita cari dia yuk!" ajak Nayla.
"Tidak perlu, Aina sudah ditemukan!" jelas Hendru.
"Benarkah? Dimana dia sekarang? Apa orang-orang itu menyakitinya? Apa kandungannya baik-baik aja? Antar Nayla ketemu Aina ya Mas!" pinta Nayla.
"Iya, tapi nanti ya. Sekarang masih terlalu pagi, Aina mungkin masih tidur. Semalam Aina harus dioperasi untuk mengeluarkan janinnya. Keadaannya sangat memprihatinkan, Mas juga belum liat. Semalaman Mas di sini jagain Nayla dan anak kita."
Nayla mengerutkan keningnya. "Mas udah tau kalau Nayla hamil?"
"Iya, suster yang bilang." jawab Hendru.
Nayla menundukkan wajahnya dengan bibir mengerucut. "Padahal Nayla mau kasih kejutan loh, eh Mas udah tau duluan."
Sadar akan kesedihan di hati istrinya, Hendru pun menarik Nayla ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jangan sedih gitu dong! Nayla sudah memberi kejutan yang sangat besar sama Mas. Bukan terkejut lagi, Mas hampir aja mati berdiri. Sekarang jangan mikir macam-macam, fokus pada anak kita aja! Mas udah gak sabar menunggu kehadiran anak kedua Mas."
Entah dimana salahnya, wajah Nayla mendadak meradang. Dia pun mendorong dada Hendru dengan kasar hingga nyungsep dengan posisi kepala yang duluan menyentuh lantai.
"Nayla, kenapa Mas nya di dorong?" geram Hendru yang masih tergeletak di lantai sembari mengusap kepalanya. Untung saja benturan nya tidak keras, jadi otak Hendru masih berada di tempat yang benar.
Nayla memutar lehernya beberapa derajat ke arah berlawanan. "Nayla pikir Nayla adalah wanita pertama dan satu-satunya buat Mas, ternyata Mas itu pembohong. Mas udah punya anak sebelumnya, kenapa gak bilang dari awal?"
Hendru menautkan alisnya, berpegang pada besi brankar dan bangkit dari duduknya. "Mas gak bohong, Nayla emang wanita pertama dan satu-satunya di hati Mas."
"Bohong! Tadi katanya anak ini adalah anak kedua untuk Mas. Berarti Mas sudah punya wanita lain sebelumnya, dasar suami sialan!" umpat Nayla penuh kekecewaan.
Hendru yang tadinya kebingungan, kini malah tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha..." Membuat Nayla geram dan melemparnya dengan bantal.
"Cie cie, ada yang cemburu nih ye. Hahahaha..." Lagi-lagi Hendru tertawa sepuasnya, nyaris saja dia terkencing di celana saking tak kuat menahan geli yang menggelitik di perutnya. Membuat amarah Nayla kian berapi-api dibuatnya.
Nayla memilih turun dari brankar dan segera berjalan sembari membawa botol cairan infusnya. Belum juga beberapa langkah, Hendru sudah menahannya dengan pelukan hangat dari belakang. Mengusap perut rata Nayla dan menjadikan pundak Nayla sebagai tumpuan dagunya.
"Sayang, jangan marah dong! Nayla itu emang wanita satu-satunya di hidup Mas, gak ada wanita lain sebelum atau sesudah Nayla. Maksud Mas itu, anak kedua kita setelah Aksa. Nayla lupa kalau Aksa juga putra kita?" jelas Hendru.
Wajah yang tadinya kecut, kini beralih mengurai senyuman tipis menahan rasa malu. "Mas yakin?"
"Hehe, tentu aja yakin. Hanya Nayla yang bisa melanglang buana di hati Mas. Sudah tidak ada tempat lagi untuk wanita lain, apalagi sekarang ada anak Mas di dalam sini. Bikin Mas makin cinta dan klepek-klepek."
"Huh, sejak kapan Mas sok-sokan romantis seperti ini? Gak pantes, bikin mual aja!"
Baru saja Nayla menyebutkan kata mual, justru dia malah mual beneran dibuatnya.
"Hueeeek..."
"Sayang, Nayla kenapa?" tanya Hendru.
"Lepasin Nayla Mas! Nayla gak tahan lagi,"
Setelah Hendru melepaskan pelukannya, Nayla pun melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
"Hueeeek..."
__ADS_1
"Hueeeek..."
Hendru segera menyusul dan mengusap punggung Nayla. Jadi begini rasanya melihat seorang istri yang tengah mengandung, Hendru pun tersenyum dan kembali memeluk Nayla dari belakang. Berharap sentuhannya bisa membuat Nayla merasa tenang.