
Aina menaruh Aksa di dalam box bayinya, baby boy itu sudah tertidur dengan lelap. Aina pun bisa beristirahat dengan nyaman.
Setelah mencuci wajahnya dan menggosok gigi, Aina keluar dengan pakaian tidur yang cukup seksi. Aina berbaring di atas kasur dengan posisi miring menghadap Aksa, kemudian memejamkan matanya perlahan.
Arhan menyusul istrinya ke kamar. Sebelum naik, dia berbincang sedikit dengan Airlangga di bawah sana. Mau tidak mau, Arhan terpaksa menceritakan tentang Tasya kepada papanya.
Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Arhan berbaring di samping istrinya. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Aina, kemudian mengecup kepala Aina dengan sayang.
Aina bergeming di dalam dekapan suaminya, hatinya tiba-tiba ragu dengan kejujuran Arhan. Entah kenapa, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya itu.
"Aina sudah tidur ya? Kenapa tidak menunggu Abang dulu sih?" tanya Arhan sembari mengusap punggung Aina.
"Aina ngantuk Bang, biarkan Aina tidur dulu!" sahut Aina, nada bicaranya terdengar dingin.
"Kenapa sayang? Aina sengaja menghindar dari Abang?" tanya Arhan ingin tau.
"Tidak, Aina hanya lelah." balas Aina sembari bergeser dari posisinya, tubuh keduanya sedikit merenggang.
Arhan menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar. Dia bingung dengan sikap Aina yang tiba-tiba berubah terhadapnya. Tidak seperti biasa yang selalu ceria dan suka menjahili dirinya.
"Aina marah ya sama Abang? Kalau ada yang mengganjal di hati Aina, bicarakan saja! Jangan seperti ini, Abang tidak suka!" pinta Arhan.
Aina memutar tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan. Dia menatap mata Arhan dengan intens, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang membelit di benaknya.
"Apa Abang yakin tidak menyembunyikan sesuatu dari Aina?" tanya Aina menuntut penjelasan.
"Deg Deg"
Jantung Arhan berdegup kencang, wajahnya memerah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya.
"Kenapa Aina bertanya seperti itu? Aina tidak percaya sama Abang?" tanya Arhan dengan tatapan tak biasa.
"Entahlah Bang, Aina ingin sekali percaya sama Abang. Tapi hati Aina mengatakan ada sesuatu yang Abang sembunyikan." lirih Aina.
__ADS_1
"Tidak sayang, Abang tidak menyembunyikan apa-apa dari Aina." ucap Arhan, dia dilema harus jujur atau tidak kepada istrinya.
"Baiklah, Aina percaya. Tapi satu hal yang harus Abang ingat, Aina tidak suka dibohongi. Lebih baik jujur walau kenyataannya sangat pahit!" Aina kembali memunggungi Arhan.
Mata Arhan membulat mendengar itu. Dia sama sekali tak berniat membohongi Aina, dia hanya ingin menjaga perasaan istrinya. Dia tidak ingin Aina terluka dan salah paham terhadap dirinya.
"Maafkan Abang Aina, maafkan Abang sayang. Abang tidak bermaksud membohongi Aina." Arhan memeluk Aina dengan erat, matanya berkaca-kaca.
"Kenapa Abang minta maaf? Bukankah tadi Abang bilang tidak menyembunyikan apa-apa dari Aina?" tanya Aina sembari memutar tubuhnya, keningnya mengkerut menatap wajah Arhan.
Keduanya kembali saling berhadapan, Arhan membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.
"Maafkan Abang ya, Abang memang menyembunyikan sesuatu dari Aina. Abang melakukan ini untuk menjaga perasaan Aina, Abang tidak ingin Aina sedih ataupun marah." jelas Arhan, kemudian mengecup pucuk kepala Aina dengan sayang.
"Memangnya apa yang Abang sembunyikan dari Aina?" tanya Aina penasaran.
Arhan memeluk Aina dengan erat, kemudian menghela nafas berat. Dia mulai menceritakan setiap detail yang terjadi kepada istrinya tanpa kurang satu kata pun.
"Oh, jadi itu masalahnya. Pantas saja dari tadi hati Aina tidak tenang." Aina mendorong dada Arhan, matanya menyala tajam bak seekor elang yang siap mencabik mangsanya.
"Sayang, jangan marah ya! Itulah sebabnya kenapa Abang tidak mau menceritakan ini pada Aina. Abang tidak ingin kita bertengkar gara-gara ini. Lagian Abang tidak meresponnya sedikitpun kok, sumpah!"
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis dahi Arhan, dia mengacungkan dua jarinya saat menyebut kata sumpah.
Aina bangkit dari tidurnya, lalu menarik baju Arhan hingga ikut terduduk di hadapannya. Aina merangkak naik dan duduk di pangkuan Arhan, tatapannya sangat sulit untuk ditebak.
"Bagaimana rasanya disentuh sama mantan istri? Enak?" tanya Aina sembari tersenyum miring.
"Ti, tidak sayang, jangan marah! Dia menyentuh Abang saat Abang sedang lengah, bukan keinginan Abang!" jawab Arhan terbata, keringatnya kian mengucur deras.
"Bohong! Laki-laki mana yang tak tergoda jika bagian sensitif nya disentuh wanita cantik, apalagi mantan istrinya sendiri." geram Aina, kemudian menarik baju Arhan hingga tubuh keduanya saling menempel.
"Sumpah sayang, Abang tidak merasakan apa-apa. Abang justru merasa jijik melihat wanita itu." jawab Arhan, deru nafasnya kian memburu saat wajah Aina sudah sangat dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
"Bagian mana yang disentuh wanita itu tadi? Ayo, tunjukkan pada Aina!" geram Aina dengan tatapan membunuhnya.
"Cukup sayang, jangan marah begini dong! Sentuhan itu tak berarti apa-apa bagi Abang." Arhan berusaha keras meyakinkan Aina.
"Tunjukkan pada Aina! Jika tidak, Abang akan tau sendiri akibatnya!" geram Aina dengan nada mengancam.
"I, iya sayang. Ini," Arhan menunjuk bahunya.
"Lalu apa lagi?" tanya Aina dengan suara sangat lembut, membuat tubuh Arhan bergetar menahan gai*rah yang mulai bangkit di dirinya.
"I, ini," Arhan menunjuk dadanya.
"Setelah itu apa lagi?" tanya Aina dengan suara yang sangat menggoda.
"Tidak ada lagi sayang, cuma itu." jawab Arhan, kemudian menghela nafas berat.
Aina menarik kasar kaos yang dikenakan Arhan hingga robek. Hal itu membuat Arhan bergeming, nyalinya semakin menciut melihat kemarahan di wajah istrinya.
Tangan Aina bergerak menyentuh bahu suaminya. Mengelusnya dengan lembut, lalu mengecupnya dengan penuh perasaan. Membuat tubuh Arhan berdenyut ngilu.
"Apa rasanya sama?" tanya Aina dengan tatapan tak biasa.
"Ti, tidak sayang," jawab Arhan, lalu menelan ludahnya kasar. Sentuhan Aina barusan membuat li*bi*do nya meningkat drastis.
Tangan Aina semakin bergerak dengan leluasa. Kini tangannya sudah berada di dada bidang suaminya. Mengelusnya dengan lembut, lalu memutar-mutar jemarinya pada tahi lalat yang menempel di ujung sana. Membuat Arhan mengerang menikmati sensasi yang luar biasa. Bahkan batang rudalnya mulai bereaksi di bawah sana.
"Kalau begini, apa rasanya sama?" tanya Aina dengan suaranya yang kian menggoda.
"Aina, cukup sayang! Jangan menyiksa Abang seperti ini!" Arhan menghela nafas berat, dia tak sanggup lagi menahan gai*rah yang kian memuncak di jiwanya.
"Tidak ada yang sama sayang, sentuhan wanita itu membuat Abang jijik. Abang tidak suka," Suara Arhan mulai terdengar serak.
"Abang merasakan sesuatu hanya saat bersama Aina, sentuhan Aina, deru nafas Aina, semuanya Abang suka. Jangan membandingkan istri Abang dengan wanita gila itu!"
__ADS_1
Arhan mulai kesal melihat tingkah Aina, dia juga kesal karena Aina tak ngeh dengan batang rudalnya yang sudah berdiri menunggu absen.