Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 107.


__ADS_3

Baron melangkah dengan lesu, sudah 6 bulan tapi hidupnya masih saja tidak jelas arah tujuannya. Dia hanya bisa menatap Inda dari kejauhan tapi tak bisa memilikinya. Ingin sekali Baron mengundurkan diri jadi pengawal pribadi Aina, namun dia tak punya kekuatan untuk mengatakannya pada Arhan.


Semakin lama di rumah itu, semakin membuat hatinya tersiksa. Kadang terpikir untuk melakukan hal gila terhadap Inda, tapi lagi-lagi Baron tak bisa melakukannya. Rasa hormatnya terhadap wanita begitu tinggi, dia tidak mungkin merusak seorang wanita sebelum menghalalkannya. Prinsip Baron begitu kokoh, susah dileburkan meski terkadang hasratnya memberontak ingin dimanjakan dengan sentuhan lembut seorang wanita.


Beberapa pasang mata memandangi Baron. Ada yang tertawa, ada yang menganga, ada pula yang berdebar-debar melihat ototnya yang terlihat jelas dibalik singlet yang dia kenakan. Bahkan bagian betisnya yang berbulu membuat para wanita terkesima.


"Astaga, siapa dia? Macho banget,"


"Aneh, ke rumah sakit pakaiannya begitu. Apa dia pikir ini tempat gym?"


"Aduh, bikin meleleh aja tuh cowok."


"Uhhhh, bikin merinding ih."


Baron menyadari tatapan para wanita yang mengarah pada dirinya, namun pria itu sama sekali tak merespon. Jika dia mau, dia bisa saja memacari beberapa orang diantara wanita itu. Lagi-lagi Baron tak bisa melakukannya, sepertinya yang Baron inginkan hanyalah Inda. Wanita cantik yang selalu membuat jantungnya berdenyut tak tentu arah.


Di ruangan, Hendru tengah memeluk istrinya dengan erat. Nayla hampir saja kehabisan nafas ulahnya. Tak terbilang betapa bahagianya Hendru saat ini, apalagi setelah mengadzani putri cantiknya yang kini tengah tertidur di samping Nayla.


"Makasih sayang, maaf karena Mas telat datangnya. Nayla harus berjuang sendiri tanpa Mas." lirih Hendru penuh penyesalan.


"Apaan sih Mas? Gak papa kok, yang penting sekarang Mas udah ada di sini." jawab Nayla sembari tersenyum, lalu mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di wajah Hendru. Hendru pun mengecup pucuk kepala Nayla dengan sayang.


Aina menyusul masuk bersama Arhan. "Halo, selamat datang putri cantik Mama Ina."


Aina mengambil bayi cantik itu dan menggendongnya. Seulas senyum mengambang di wajah ibu dua anak itu, kini dia sudah memiliki dua putri yang akan tumbuh bersama di rumah yang sama pula.


"Bagaimana keadaan kamu Nayla?" tanya Arhan yang ikut bahagia menyambut kedatangan putri asisten, sahabat, sekaligus adik angkatnya itu.


"Baik Bang, sakitnya sebelum keluar aja. Sekarang mah udah plong," jawab Nayla yang membuat semua orang tertawa.


"Kayak kentut aja," seloroh Hendru sembari menarik hidung istrinya.


"Hahahaha..."

__ADS_1


Kembali tawa mereka pecah memenuhi seisi ruangan.


"Permisi Pak, Bu, bisa keluar sebentar? Kami mau memindahkan Bu Nayla ke ruang inap," sapa seorang suster yang baru saja masuk, disusul rekannya yang lain.


"Iya Sus, bayi ini biar sama saya aja! Boleh kan?" seru Aina yang masih ingin menggendong putri bungsunya.


"Iya Bu, boleh." sahut suster.


Arhan dan Aina keluar lebih dulu, sementara Hendru masih di dalam membantu suster memindahkan Nayla ke brankar dorong.


Setelah beberapa menit, semua keluar sembari mendorong brankar menuju ruang inap. Malam ini Nayla harus bermalam di rumah sakit untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.


Arhan dan Aina menyusul dari belakang, ibu dua anak itu masih fokus memandangi putri kecilnya yang masih tertidur dengan lelap.


"Senang banget ya punya putri lagi?" celetuk Arhan sambil memandangi wajah istrinya yang selalu tersenyum sedari tadi.


"Siapa yang gak senang sih Bang? Pasti setelah ini rumah kita akan ramai dengan suara tangis dan tawa putra putri kita." sahut Aina dengan polosnya. Aina memang tipe penyayang, jadi semakin ramai rumah mereka maka akan semakin membuatnya bahagia.


"Apaan sih Bang? Avika aja baru delapan bulan, masa' harus dikasih adik secepat ini." Aina memanyunkan bibirnya. Arhan pun tersenyum melihat ekspresi menggemaskan istrinya, jika tidak memikirkan tempat umum mungkin sudah Arhan telan Aina hidup-hidup.


Kini Nayla sudah berbaring di ruangannya, para suster pun meninggalkan mereka.


"Makasih Sus," ucap Nayla dan Hendru bersamaan.


Baru saja Aina mau duduk, tangisan bayi cantik itu sudah menggelegar memenuhi seisi ruangan.


"Cup cup cup, putri Mama haus ya. Mau ne*nen sama Bunda?" celoteh Aina dengan bibir maju mundur membuat Arhan semakin gelisah tak menentu. Bisa-bisanya Arhan memikirkan hal aneh di tempat umum seperti ini.


"Abang tunggu di luar ya," Arhan tau dia tidak boleh berlama-lama di ruangan itu karena Nayla harus belajar menyusui putrinya.


Setelah Arhan meninggalkan ruangan. Aina meminta Hendru untuk memperbaiki posisi Nayla agar nyaman menyusui putrinya. Aina kemudian menaruh bayi mungil itu di pangkuan Nayla.


Tidak lama, ponsel Aina berdering. Dia menjauh dan segera mengangkat telepon yang ternyata dari rumah. Setelah berbicara cukup lama, Aina menyimpan kembali ponselnya.

__ADS_1


"Nayla, Hendru, aku pulang dulu ya. Barusan Inda nelpon, katanya Avika rewel gak mau susu formula. Kalian gak papa kan aku tinggal?" ucap Aina yang sebenarnya masih ingin menemani Nayla, namun dia juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.


"Gak papa kok Aina, pulang aja! Kasihan Avika, dia kalau nangis suka kejang." jawab Nayla yang tau pasti bagaimana putri kecil itu kalau menangis.


"Aina, makasih ya udah cepat bawa Nayla ke sini. Harusnya aku yang melakukan itu, tapi aku malah-"


"Apaan sih Hendru? Ngomong kok kayak sama orang lain aja." potong Aina yang tidak ingin mendengar kelanjutan ucapan Hendru. Aina segera berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan.


"Mas ini kenapa sih? Dari tadi ngomongnya itu-itu aja," Nayla menaikkan sebelah alisnya dengan mata menyipit mengamati wajah Hendru.


"Maaf sayang, Mas ngerasa bersalah karena gak bisa jadi suami siaga buat kalian." keluh Hendru.


"Mas mau jadi suami siaga? Kalau begitu mulai besok gak usah kemana-mana, gak usah kerja, duduk aja di rumah dua puluh empat jam penuh." gerutu Nayla yang mulai naik pitam mendengar keluhan suaminya.


"Gak gitu juga sayang, kalau Mas gak kerja-"


"Makanya gak usah lebay begitu! Sekarang intinya Nayla dan putri Mas udah di sini, Mas bisa liat sendiri kalau kami baik-baik aja kan. Udah, jangan bahas yang lain lagi!"


"Iya, iya, maafin Mas ya." Hendru mengusap pucuk kepala Nayla dan mengecupnya, lalu memandangi sang putri yang masih bergelayut di ujung dada sang bunda.


Di luar sana, Arhan terperanjat saat mendengar suara pintu bergeser. Dia segera menghampiri Aina yang sudah berdiri di depan pintu lalu melingkarkan tangannya di pinggang istri cantiknya itu.


"Pulang yuk Bang!" ajak Aina sembari merebahkan kepalanya di pundak Arhan. Tubuhnya cukup lelah, dia belum sempat makan karena mengkhawatirkan keadaan Nayla.


"Aina udah gak sabar ya mau bikin dede bayi lagi?" seloroh Arhan sambil mengusap punggung istrinya.


"Mulai deh otaknya kendor. Siapa yang mau bikin dede? Avika nangis di rumah, lagian Aina lapar banget dari tadi belum makan." keluh Aina dengan wajah cemberut nya.


Arhan mengangkat kepalanya. "Ini nih yang bikin Abang kesal sama Aina. Mikirin orang lain tapi gak mikirin diri sendiri, ingat Aina itu masih menyusui!"


"Iya, Aina tau. Tapi jangan diomelin juga! Kalau gak mau pulang ya udah, Aina bisa pulang sendiri kok." Aina mendorong dada Arhan hingga pelukan mereka terlepas.


"Kebiasaan, baru dibilangin udah merajuk." Segera Arhan menggenggam tangan Aina dan menariknya menuju parkiran.

__ADS_1


__ADS_2