Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 69.


__ADS_3

Mendengar itu, hati Aina menjadi semakin panas. Tangannya mengepal erat, lalu memukuli dada Arhan berulang kali.


"Pergi saja temui dia! Setelah itu, jangan harap bisa melihat kami lagi di rumah ini!" geram Aina dengan tatapan mematikan.


"Loh, kenapa mengancam Abang? Bukankah Aina sendiri yang menyuruh Abang menemui dia?" ucap Arhan sembari mengulum senyumannya.


"Dasar suami tidak punya hati! Bukannya minta maaf, malah kesenangan disuruh menemui wanita itu," gerutu Aina.


"Hahahaha, makanya jangan bicara sembarangan! Aina pikir Abang mau menemui dia? Ogah amat," jelas Arhan sembari tertawa begitu lepas.


Mendengar pengakuan Arhan barusan, seulas senyum terukir jelas di wajah Aina.


Melihat itu, Arhan ikut tersenyum, kemudian membawa Aina ke dalam dekapan dadanya.


"Satu hal yang perlu Aina ingat, Abang tidak akan pernah mengkhianati Aina! Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain, mereka hanya ingin menghancurkan rumah tangga kita!" jelas Arhan sembari mengusap belakang kepala Aina.


"Kata wanita itu kalian sering bertemu, bagaimana mungkin Aina tidak marah mendengar itu?" lirih Aina.


"Itu tidak benar, kapan Abang bertemu dia? Aina tau sendiri kan kalau Abang selalu bersama Hendru, tanya sendiri sama Hendru jika Aina masih ragu!"


"Jujur, kemaren sore Abang memang bertemu dia saat di mall. Kebetulan dia sedang belanja di toko yang sama, tapi Abang tidak meresponnya sama sekali. Mungkin sebab itulah dia mengusik Aina karena gagal mendekati Abang." ungkap Arhan.


"Abang tidak bohong kan?" tanya Aina memastikan.


"Tidak sayang, Abang tidak pernah berbohong pada Aina. Cuma Aina wanita yang Abang inginkan di dunia ini." jelas Arhan meyakinkan istrinya.


"Apa Abang yakin?" tanya Aina dengan manja, lalu mendongakkan kepalanya menatap lekat wajah Arhan, mencari kejujuran di mata suaminya.


"Kalau Abang tidak yakin, tidak mungkin Abang menikahi Aina. Apa Aina pikir pernikahan ini hanyalah sebuah permainan?" tanya Arhan dengan kening sedikit mengkerut.


"Tidak, Aina hanya takut Abang berpaling dari Aina. Bukankah dulu Abang suka sekali berganti pasangan?" jawab Aina yang secara tidak langsung mengingatkan Arhan akan masa lalunya yang kelam.


Arhan menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar.


"Abang memang bejat, tapi itu dulu sebelum kita bertemu. Sekarang Abang sudah sadar, percayalah pada Abang!" lirih Arhan dengan mata berkaca-kaca.


"Aina percaya, tapi terkadang keraguan itu muncul di hati Aina. Aina takut Abang berpaling, Aina tidak sanggup hidup tanpa Abang, Aina tidak punya siapa-siapa lagi. Kemana Aina harus pergi jika Abang meninggalkan Aina?"


Seketika, tangisan Aina pecah di dalam dekapan Arhan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dia tanpa Arhan.

__ADS_1


"Sssttt, jangan bicara seperti itu! Abang tidak akan pernah meninggalkan Aina, kebahagiaan Abang ada di tangan Aina dan Aksa. Kalian berdua adalah nafas Abang, Abang tidak akan bisa hidup tanpa kalian!"


Arhan mempererat pelukannya, tak terasa air matanya jatuh begitu saja membasahi pundak Aina. Mana mungkin dia sanggup berpisah dengan istri yang sudah menemaninya selama satu tahun lebih. Justru kini rasa cintanya semakin dalam untuk Aina dan putranya.


Setelah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara keduanya, Arhan membawa Aina berbaring di atas kasur. Keduanya saling memeluk sembari menatap Aksa yang masih terlelap di samping mereka.


"Sayang," panggil Arhan.


"Ya," sahut Aina.


"Abang pengen punya anak perempuan," pinta Arhan.


"Secepat ini?" jawab Aina.


"Apa salahnya? Aina tau sendiri kan umur Abang sudah tidak muda lagi. Abang ingin melihat mereka tumbuh hingga dewasa nanti." ucap Arhan.


"Kenapa bicara seperti itu? Abang masih terlihat muda kok," jawab Aina.


"Tapi umur gak bisa bohong sayang," keluh Arhan.


"Hehehe, iya juga ya. Aina lupa kalau Abang tuh sudah tua," goda Aina sembari tertawa kecil.


"Kenapa musti malu? Belajarlah menerima kenyataan!" Aina kembali terkekeh mendengar pengakuan Arhan.


Kesal karena Aina tak henti menertawakan dirinya, Arhan pun menarik pinggang Aina hingga tubuh keduanya semakin merapat, kemudian mengangkat sebagian tubuhnya dan mengunci Aina dalam kungkungannya.


"Apa yang Abang lakukan?" tanya Aina dengan mata terbuka lebar.


"Memakan Aina, emangnya kenapa?" jawab Arhan sembari tersenyum kecil.


"Jangan gila Bang, ini masih siang! Ada Aksa juga di sini, apa Abang tidak malu?" keluh Aina menolak keinginan suaminya.


"Kalau begitu kita ke kamar mandi aja!" ajak Arhan dengan tatapan menuntut.


"Tapi Aina lagi gak mood Bang, perut Aina rasanya gak enakan sejak tadi malam." jelas Aina.


"Aina sakit? Kenapa gak bilang sama Abang?" tanya Arhan sembari menautkan alisnya, dia mulai resah memikirkan keadaan Aina.


"Gimana mau bilang, Abang aja gak di sini semalaman." keluh Aina dengan bibir sedikit manyun.

__ADS_1


"Maafin Abang ya, semalam kepala Abang benar-benar pusing melihat tingkah Aina. Sekarang kita ke dokter ya!" ajak Arhan, kemudian bangkit dari tidurnya.


"Gak usah Bang, Aina cuma butuh istirahat aja kok. Mungkin ini efek kelelahan, nanti juga hilang dengan sendirinya."


"Tapi sayang...,"


"Gak apa-apa kok Bang, Aina masih kuat kok."


"Aina yakin?" tanya Arhan memastikan.


"Iya, Abang gak perlu khawatir!" tekan Aina.


"Ya udah, nanti kalau perutnya berulah lagi kasih tau Abang ya!" pinta Arhan.


"Iya, Abang tenang aja. Oh ya, Abang gak kembali ke kantor?"


"Malas ah, mood Abang udah hilang. Abang pengen di rumah aja sama kalian."


"Jangan gitu Bang! Bukankah pekerjaan Abang lebih penting?"


"Tidak ada yang lebih penting dari kalian berdua."


"Sekarang Abang mau istirahat sebentar, semalam Abang gak tidur gara-gara mikirin Aina. Ngantuk Abang nih,"


Arhan kembali merebahkan diri di samping Aina, kemudian memeluk tubuh istrinya dengan erat. Selang beberapa menit, Arhan pun tertidur tanpa melepaskan pelukannya.


Melihat wajah lelap suaminya, hati Aina terenyuh dibuatnya. Dia sadar akan keegoisannya yang terlalu dini mengambil kesimpulan.


Sebenarnya dia sendiri tak percaya dengan ucapan Tasya, tapi hati kecilnya seakan memberontak sebab wanita itu adalah mantan istri suaminya. Bisa saja Arhan kembali terperdaya olehnya.


Namun Aina sendiri juga meyakini bahwa suaminya tidak akan pernah mengkhianati pernikahan mereka. Arhan sudah berjanji untuk tetap di sisinya apapun yang terjadi.


Seketika, rasa bersalah pun hinggap di hati Aina. Jika saja dia lebih dewasa menyikapi permasalahan yang ada, tentu saja kesalahpahaman ini tidak akan terjadi diantara keduanya.


Aina mengusap pipi Arhan dengan jemarinya, kemudian melayangkan sebuah kecupan sayang di sana.


"Maafin Aina ya Bang, Aina benar-benar takut kehilangan Abang. Cuma Abang yang Aina punya di dunia ini."


Aina memeluk suaminya dengan erat, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Arhan.

__ADS_1


Tidak lama, Aina pun ikut tertidur di dalam pelukan Arhan.


__ADS_2