
Pukul 5 pagi Inda sudah terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat karena sebagian tubuh besar Baron menindihnya. Inda sudah mencoba mendorong calon suaminya itu tapi pelukannya malah semakin erat. Inda terperangah, dia tidak mungkin membiarkan Baron memeluknya terus karena dia harus bangun untuk melakukan tugasnya.
"Kak Baron, bangun! Lepasin aku dulu, aku harus bangun dan bekerja!" seru Inda sembari menyentuh rahang Baron dengan tangan lembutnya.
"Hmmm..." Baron hanya bergumam tanpa melepaskan pelukannya.
"Kak Baron sayang, jangan dipeluk terus! Kamu mau liat aku dipecat? Kalau aku dipecat kita gak akan ketemu lagi loh." ucap Inda.
Sontak Baron menggeliat dan membuka matanya perlahan. Senyuman indah terukir di bibirnya meski sebenarnya dia sendiri kesal harus melepaskan tubuh mungil Inda yang sangat nyaman untuk dipeluk apalagi diangkat.
Sebelum melepaskan Inda, Baron menindihnya terlebih dahulu lalu mengecup kening, hidung dan berakhir di bibir merah delima wanitanya itu. Baron melu*matnya dengan nafas memburu, entah kenapa dia sangat candu dengan bibir mungil tipis Inda yang terasa begitu manis menurutnya.
"Lama-lama aku bisa gila karena mu. Kenapa kamu begitu menggoda hah? Ingin sekali aku memakan mu saat ini juga." geram Baron yang sudah kehilangan akal mengendalikan dirinya. Inda benar-benar seperti racun yang sudah merusak saraf otaknya.
"Hehe, jangan gila dulu! Kalau kamu gila, terpaksa aku nyari pria yang lain." seloroh Inda sembari tertawa kecil. Wajah menuntut Baron membuatnya kesulitan menahan tawa.
Baron menggertakkan giginya, kesal mendengar candaan Inda yang menyulut emosinya. Segera Baron menenggelamkan wajahnya di leher Inda dan menggigitnya hingga menyisakan tanpa merah di beberapa titik. Baron bahkan menempelkan dagunya di atas gundukan kenyal milik Inda, lalu menggigitnya geram.
"Aaaaaaa... Kak Baron jangan!" ketus Inda sembari mendorong kepala Baron agar menjauh darinya.
"Makanya kalau ngomong tuh dijaga. Sekali saja aku melihatmu dekat dengan pria lain, maka hari itu juga kalian akan berakhir." ancam Baron dengan tatapan mematikan.
"Hahaha..." Inda malah tertawa terbahak-bahak melihat air muka Baron yang menyeramkan, lalu menarik hidung pria itu gemas.
"Bodoh banget sih, mana ada aku seperti itu? Kalau aku mau, udah dari dulu kali. Udahlah, kasih aku lewat! Aku mau ke dapur nyiapin sarapan."
__ADS_1
Inda menyelinap di bawah ketiak Baron dan beringsut hingga berhasil keluar dari kungkungan pria itu. Ada untungnya juga memiliki tubuh kecil jadi bisa menyelip di mana-mana.
Setelah Inda meninggalkan paviliun, Baron kembali merebahkan diri dengan kedua tangan yang dilipat di bawah kepala. Seulas senyum terukir jelas di bibir mengingat isi otaknya yang benar-benar sudah diracuni oleh Inda. Baron menghela nafas dan menepuk keningnya sendiri.
Pukul 8 pagi, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Gelak tawa menggelegar memenuhi seisi ruangan saat semua orang asik bercengkrama sembari menikmati sarapan mereka masing-masing.
Tapi tidak dengan Aina yang memilih diam dan mengasingkan dirinya sendiri. Aina terus saja menyantap makanannya tanpa mempedulikan siapapun kecuali putra putrinya. Aina menyuapi Avika seperti biasanya, sementara Aksa tengah asik makan sendiri.
Usai mengisi perut dan menyuapi Avika, Aina mohon izin kepada kedua mertuanya dan meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Aina menggendong Avika menuju halaman rumah dan memilih duduk di gazebo dekat kolam.
Aina memangku Avika dan menatap langit dengan mata berkaca. Tangannya terus saja membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Entah apa yang Aina pikirkan? Apa hatinya masih terluka karena kejadian itu?
Arhan mengusap wajahnya kasar, tarikan nafasnya terdengar berat saat memandangi wajah istrinya yang masih menyimpan kesedihan. Entah dengan cara apa Arhan bisa meyakinkan Aina, Arhan tidak sanggup menghadapi sikap dingin istrinya itu.
Arhan mengayunkan langkahnya dan duduk di samping Aina, sebelah tangannya melingkar di pinggang Aina dan sebelahnya lagi mengusap kepala Avika.
"Sayang, sampai kapan Aina seperti ini sama Abang? Abang gak sanggup begini terus. Abang kangen senyuman Aina, Abang rindu canda dan tawa Aina. Jangan hukum Abang seperti ini, Abang mohon!" lirih Arhan dengan tatapan sendu, bahkan air matanya nyaris mengalir.
"Avika sayang, kita ke kamar yuk! Di sini panas, nanti kulit gadis cantik Mama bisa hitam." Aina tak merespon ucapan Arhan, dia malah berbicara pada putrinya dan mengajak si gembul itu ke kamar.
"Sayang, Abang bicara sama Aina loh. Tolong hargai Abang sebagai suami Aina!" Suara Arhan terdengar meninggi hingga darah Aina berdesir karena terkejut.
Aina menelan tangisannya dan memilih bangkit dari duduknya. Saat ini dia tidak mempunyai kekuatan untuk menjawab apalagi melawan. Biarkan saja semua seperti ini sampai batas waktunya tiba.
Saat meninggalkan gazebo, Aina berpapasan dengan Leona. Langkahnya terhenti saat tatapan mereka saling bertemu. Leona menautkan alisnya menyaksikan air muka Aina yang dipenuhi kekecewaan.
__ADS_1
"Aina, kamu kenapa sih Nak? Mama perhatikan sikapmu jauh berubah dari biasanya. Kalau ada masalah jangan dipendam sendiri, tidak baik berlarut-larut seperti ini." Leona mengusap kepala menantunya itu dengan sayang, berharap Aina mau berbagi agar masalahnya segera berakhir.
"Maaf Ma, Aina gak bermaksud membuat Mama sedih. Aina hanya butuh waktu untuk sendiri." jawab Aina sembari menekuk wajahnya.
"Ma, biarin aja! Terserah dia mau ngapain, percuma juga bicara sama wanita keras kepala seperti dia!"
"Deg!"
Aina terlonjak dengan jantung bergemuruh kencang. Seketika air matanya menetes begitu saja.
Segera Aina berbalik dan berkata. "Anda benar, saya memang keras kepala. Lalu untuk apa mempertahankan saya di rumah ini? Harusnya Anda tidak memperistri saya waktu itu, biarkan saja saya membesarkan putra saya sendirian!"
Aina kembali berbalik dan mengayunkan langkah panjang menuju kamar.
"Arhan, apa yang kamu katakan? Bukan begitu cara bicara pada istrimu!" bentak Leona hingga membuat Arhan tersadar.
Arhan mengusap wajahnya berkali-kali, kemudian berlari menyusul Aina yang sudah tiba di kamar.
Aina mengeluarkan sebuah tas dari dalam lemari. Dengan air mata yang terus mengalir, dia memasukkan beberapa pakaian miliknya dan beberapa pakaian Avika, ditambah pakaian Aksa.
Jika memang terserah, berarti Aina bisa menentukan jalannya sendiri. Untuk apa bertahan jika harus saling menyakiti. Aina hanya ingin hidup tenang bersama buah hatinya.
"Braaak!"
Mata Arhan terbuka dengan sempurna, rahangnya mengerat kuat menyaksikan Aina yang tengah berjibaku menyusun pakaian ke dalam sebuah tas.
__ADS_1
Segera Arhan mengambil Avika yang tengah duduk di atas kasur dan membawanya keluar. Aina berlari menyusul namun Arhan sudah lebih dulu mengunci pintu.
"Jangan bawa putriku!" teriak Aina sembari menggedor pintu dengan kuat.