
Pukul 3 sore, mobil yang dikendarai Arhan sudah terparkir di halaman rumah. Segera dia turun dan melangkah menuju paviliun. Sayangnya langkah Arhan terhenti saat mendapati Baron yang tengah tertidur bersama Aksa.
"Kenapa putraku kian menempel saja sama cucunguk itu?" batin Arhan penuh tanda tanya. Padahal keduanya belum lama saling mengenal, namun Aksa terlihat begitu nyaman bersama Baron.
Tak ingin mengganggu tidur putranya yang begitu lelap, Arhan akhirnya berbalik dan memilih memasuki rumah.
"Nayla, kamu sendirian aja? Aina mana?" tanya Arhan saat melewati ruang keluarga.
"Aina di kamar Bang, kayaknya lagi tidur." sahut Nayla yang tengah asik menonton televisi.
"Oh, kamu kenapa nonton terus? Banyakin istirahat, ingat di perutmu ada janin!" ucap Arhan sembari menautkan alisnya. Bagaimanapun Nayla sudah dianggapnya seperti adik sendiri, jadi Arhan tak merasa segan menegur istri Hendru itu.
"Iya Bang, aku baru turun kok. Tadi udah tidur, terus pengen nonton aja bawaannya." jelas Nayla.
"Oh, ya udah. Aku ke atas dulu," Arhan melanjutkan langkahnya menuju lift. Naik tangga rasanya terlalu lama dan tentunya menguras tenaga.
Baru saja menginjakkan kakinya di dalam kamar, senyuman di bibir Arhan mengambang saat mendapati Aina yang tengah asik menyusui putrinya. Aina pun spontan membalas senyuman suaminya.
"Sayang Abang gak tidur?" ucap Arhan sembari melangkah menuju sofa.
"Udah tadi, kebangun dengar tangisan putri Abang yang sangat kencang." seloroh Aina.
Arhan membuka jasnya dan menaruhnya di atas sofa, kemudian membuka beberapa baris kancing dan menyingsingkan lengan kemejanya. Setelah itu membuka sepatu dan kaos kaki, lalu menaruhnya di ujung kaki sofa dan melangkah menghampiri Aina.
"Tumben pulangnya cepat, ini baru jam 3 loh." celetuk Aina.
"Aina udah pikun atau gimana sih? Bukannya Aina sendiri yang minta Abang pulang cepat tadi?" Arhan menautkan alisnya sembari menatap Aina dengan intim.
"Mana ada? Perasaan Abang aja kali. Bilang aja Abang kangen sama Aina!" sanggah Aina seakan tak bersalah sedikitpun.
Arhan menggertakkan giginya dengan rahang mengerat kuat. Ingin sekali dia mengunyah Aina hingga tak bersisa. Enteng sekali jawaban itu, padahal ucapan Aina tadi pagi masih terngiang jelas di telinganya.
Apa Aina sengaja menguji kesabarannya? Tidak bisakah Aina melihat situasi dan kondisi sebelum memancing singa lapar itu keluar dari sarangnya?
"Ya udah, kalau begitu Abang pergi dulu. Jangan ditunggu, Abang akan pulang malam!" seru Arhan sembari memutar tubuhnya dan berjalan menuju sofa.
__ADS_1
"Deg!"
Aina terlonjak dengan dada berdenyut nyeri. Pulang malam? Apa Arhan akan pergi bersenang-senang di luar sana? Aina ingat Arhan pernah melakukan itu sekali, pulang-pulang dalam keadaan mabuk berat.
"Stop! Awas aja kalau Abang berani keluar dari kamar ini!" ancam Aina dengan tatapan mematikan.
"Gak ngaruh dengan ancaman receh itu, Abang bebas mau ngapain aja di luar sana. Bahkan untuk mencari kesenangan baru, Aina tidak punya hak mengatur hidup Abang!" jawab Arhan dengan entengnya, lalu berpura-pura merapikan kemeja sembari terus membelakangi Aina.
Aina membulatkan matanya dengan sempurna, sementara bibirnya mengerucut dengan tangan mengepal erat.
"Ok, pergi aja! Mau bersenang-senang, silahkan! Mau main perempuan, lakukan!" teriak Aina penuh kekesalan.
"Aina yakin?" tanya Arhan sembari menahan tawanya.
"Tentu aja yakin, gak rugi pun lepas dari pria tua seperti Abang. Masih banyak pria lain di luar sana yang menginginkan Aina. Abang lupa Aina masih muda? Jangankan duda, brondong aja banyak yang kepincut sama Aina." tegas Aina penuh penekanan.
Memangnya cuma Arhan saja yang bisa memanasi dirinya, Aina juga bisa meskipun perkataan itu membuatnya sedikit sedih.
Sekalipun tak pernah terbersit di otaknya untuk berpaling dari Arhan. Pria yang sudah memberikan kebahagiaan berlimpah dalam hidupnya yang sempat berubah kelam.
"Deg!"
"Sekali lagi bicara seperti itu, Abang-"
"Abang apa hah?" tantang Aina memotong pembicaraan Arhan. Bahkan nada bicaranya terdengar meninggi.
"Braaak!"
Arhan masuk ke kamar mandi dan membanting pintu dengan kasar. Kepalanya serasa ingin meledak saking jengkelnya mendengar penuturan Aina tadi.
Bisa-bisanya Aina mengatakan bahwa banyak brondong yang mau bersama dirinya. Enak saja, dia pikir Arhan sebodoh itu melepaskan intan permata hanya demi sebongkah batu. Sudah jelas dia cuma bercanda, Aina malah membalasnya dengan pernyataan menyakitkan.
Meski Arhan tau kalau ucapan itu hanya sebatas gurauan belaka, namun tetap tak bisa diterima oleh nalurinya.
Arhan membuka pakaiannya dan segera menyalakan shower. Berdiri di bawah guyuran air dingin mungkin bisa membantu meredakan amarahnya yang tengah meletup.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, Arhan keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Segera dia mengenakan celana pendek dan kaos oblong, lalu berbaring di atas kasur dengan posisi memunggungi Aina.
Aina yang masih duduk di sisi ranjang hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya. Dia yang duluan memancing keributan, dia pula yang merajuk. Seperti anak kecil saja, pikir Aina sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang Mama liat kan? Papa itu sama aja dengan Kak Aksa, hehe..." seloroh Aina sembari tertawa kecil, lalu mengecup pipi putrinya dengan sayang.
Arhan mengeratkan rahangnya, kenapa istrinya memancing keributan disaat seperti ini? Arhan kan jadi tidak bisa melampiaskan kekesalannya. Coba dalam keadaan yang berbeda, sudah dia buat Aina merengek minta ampun.
"Sabar Arhan, kuatkan dirimu! Percuma juga melawan kalau ujung-ujungnya gak dapat apa-apa." batin Arhan menggerutu, lalu memejamkan matanya.
Puas menahan hatinya, Arhan akhirnya tertidur membawa kemarahannya. Sementara Aina mencoba berjalan dan menaruh putrinya di dalam box bayi, lalu memilih masuk ke kamar mandi dengan langkah yang masih gontai.
Setibanya di kamar mandi, Aina berusaha membuka pakaiannya. Lalu menekuk kakinya di kursi plastik yang sengaja disediakan untuk dirinya.
Agak sedih memang karena biasanya Arhan lah yang membantunya membersihkan diri, tapi kali ini dia harus berjuang sendiri karena sang suami lebih memilih mempertahankan egonya.
Sepuluh menit berlalu, Aina mematikan shower dan menarik handuk untuk menutupi tubuhnya. Kenapa rasanya sedikit aneh? Apa mulai hari ini tak akan ada lagi suami yang selalu memanjakan dirinya? Seketika, air mata Aina menetes begitu saja.
Di luar sana, Arhan menggeliat dan membuka matanya perlahan. Kosong, tak ada siapapun. Bahkan kursi roda Aina masih tersandar rapi di sudut kamar.
"Deg!"
Arhan terperanjat dan segera bangun dari tidurnya. Sontak saja dia berlari ke kamar mandi dan mendapati Aina yang tengah menangis di tempat duduknya.
"Aina,"
Segera Arhan berjongkok dan menarik Aina ke dalam pelukannya.
"Hiks... Hiks...," isak Aina.
"Sssttt... Jangan nangis sayang! Abang gak marah kok sama Aina," Arhan mengusap punggung Aina yang masih basah, kemudian mengangkat Aina dan membawanya keluar.
Setelah mendudukkan Aina di sisi ranjang, Arhan dengan cepat mengeringkan tubuh dan rambut Aina, lalu membantunya mengenakan pakaian agar tidak masuk angin.
"Maafin Abang ya, Abang gak marah kok. Abang hanya sedikit cemburu karena Aina bilang masih banyak yang mau sama Aina, Abang pikir Aina gak sayang lagi sama Abang." bujuk Arhan sembari mencubit dagu istrinya. Aina hanya diam dan memanyunkan bibirnya beberapa senti.
__ADS_1