Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
TAMAT...


__ADS_3

Keesokan harinya, Inda sudah berada di kamar Aksa menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa. Tidak banyak, hanya satu koper pakaian dan satu koper barang-barang penting Aksa yang tidak bisa dia tinggalkan.


Setelah semua beres, Inda turun bersama Aksa dan memasukkan koper tersebut ke dalam mobil lalu keduanya kembali ke dalam rumah menikmati sarapan bersama untuk terakhir kalinya.


Entah kapan lagi mereka bisa berkumpul seperti ini. Enam tahun bukan waktu yang singkat bagi Aksa melanjutkan kehidupannya di Korea sana. Apakah dia bisa bertahan atau malah kembali sebelum waktunya?


Tidak lama, Arhan dan Aina menyusul turun dan bergabung dengan semua orang. Rencananya Arhan akan tinggal beberapa hari di sana sebelum akhirnya kembali ke ibukota. Dia sendiri tidak membawa apa-apa karena pakaiannya sudah ada di sana.


Suasana pagi ini terasa hangat tapi mampu membuat hati semua orang bergetar tak karuan. Aksa sendiri terlihat begitu santai, berbeda dengan anggota keluarga lain yang justru merasa sedih melepas kepergian putra sulung keluarga itu. Selama ini mereka tidak pernah berpisah apalagi dalam waktu yang cukup lama.


Usai sarapan, mereka semua berpindah ke ruang keluarga. Pesawat yang akan membawa Aksa ke Korea berangkat sekitar pukul sepuluh pagi. Masih ada waktu dua jam untuk mereka saling bercengkrama mencairkan suasana.


Avika mendekati Aksa dan memeluknya dengan erat, Aryan dan Bara ikut menyusul hingga membuat suasana di ruangan itu mengharu biru. Berbeda dengan Inara yang malah terpaku di tempat duduknya. Meski selama ini Aksa sudah tidak pernah lagi menjahili dirinya, tetap saja dia merasa takut karena tau Aksa tidak menyukainya.


"Kak Aksa, kenapa Kakak harus pergi meninggalkan kami? Apa Kakak tidak sayang lagi sama kami semua?" cerca Avika dengan pertanyaan, hal itu membuat semua orang tak sanggup lagi menyembunyikan kesedihan mereka.


Aksa mengukir senyum di wajahnya. "Anak bodoh, tentu saja Kakak sayang sama kalian semua. Kakak pergi untuk melanjutkan sekolah, suatu hari nanti Kakak akan kembali dan kita semua bisa berkumpul lagi seperti ini."


"Tapi butuh waktu yang lama Kak, apa Kakak yakin tidak akan melupakan kami setelah tiba di sana?" timpal Aryan dengan wajah cemberut nya.


"Kenapa kalian ini jadi bodoh begini sih? Mana mungkin Kakak melupakan kalian? Kalian semua adalah orang-orang yang sangat Kakak sayangi," jawab Aksa dengan mode cool nya, lalu mengacak rambut Aryan hingga berantakan.


"Nanti kalau Kakak sudah tiba di sana, aku titip mainan ya." sambung Bara dengan lucunya. Dia sama sekali belum mengerti, dia pikir Aksa hanya pergi untuk beberapa hari saja dan akan kembali secepatnya.


"Hahahaha..."

__ADS_1


Ucapan Bara itu mendadak membuat suasana menjadi gaduh, para orang dewasa tertawa terbahak-bahak mendengar kepolosan bocah TK itu.


"Mainan aja pikirannya, sekolah dulu yang benar." sela Baron kepada putra semata wayangnya itu.


"Biarkan saja, kau ini seperti tidak pernah kecil saja." timpal Arhan sambil menyipitkan matanya. Dia memang selalu memanjakan kelima anak-anaknya itu tanpa pandang bulu, baik Inara ataupun Bara sudah dianggapnya seperti darah dagingnya sendiri.


Waktu terus berlalu, Aksa berpamitan dan memeluk satu persatu orang tua yang sudah melahirkan, membesarkan dan menyayanginya itu. Mulai dari Aina, Nayla, Inda, Hendru dan juga Baron. Lalu berlanjut memeluk adik-adiknya.


"Inara, kenapa kamu masih diam di situ? Kamu gak mau meluk Kakak?" seru Aksa yang membuat mata Inara membulat seperti buah anggur.


Mendengar itu, semua mata langsung tertuju pada Inara, matanya nampak berkaca menatap Aksa. Seumur hidup baru kali ini Aksa memanggil namanya bahkan memintanya untuk memeluk sang kakak.


Seketika cairan bening di sudut matanya jatuh begitu saja, dia berhamburan sambil merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Aksa dengan erat.


"Kak..." lirih Inara di dalam dekapan Aksa.


"Kakak gak benci lagi sama Inara?" tanyanya sambil terisak.


"Siapa bilang Kakak benci sama kamu? Kakak itu sayang sama kalian semua." jelas Aksa hingga membuat tangisan Inara semakin pecah.


Pertama kali baginya merasakan sentuhan tangan sang kakak, itupun disaat-saat terakhir seperti ini. Jika boleh meminta, dia tidak mau Aksa pergi meninggalkan semua orang tapi apa yang bisa dilakukan oleh anak sekecil dirinya.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Aksa kemudian berjalan menuju halaman rumah diikuti yang lainnya. Mereka semua ikut mengantarkan Aksa dan Arhan sampai bandara.


Satu mobil diisi oleh Tobi, Arhan, Aksa, Aina, Avika, Aryan, Inara dan juga Bara. Sedangkan satu mobil lagi diisi oleh Baron, Hendru, Nayla dan juga Inda.

__ADS_1


Lola dan Mia yang merupakan pelayan di rumah itu pun ikut menangis melepas kepergian Aksa. Meskipun remaja itu selalu bersikap dingin terhadap semua orang, tapi dia tidak pernah memperlakukan pelayan dengan kasar. Dori dan Andi juga ikut menangis setelah mobil tersebut meninggalkan gerbang.


Di dalam perjalanan menuju bandara, Aksa tak lepas dari pelukan Aina. Sulit sekali rasanya berpisah untuk pertama kali apalagi dalam waktu yang cukup lama. Meski sebenarnya Aina bisa saja mengunjunginya kapanpun dia mau tapi tetap saja dia belum siap berjauhan dengan putranya itu.


"Aksa baik-baik ya di sana. Belajarlah dengan giat agar Aksa bisa lulus dengan hasil terbaik. Jangan nakal, Aksa harus nurut sama Opa Airlangga dan juga Oma Leona." lirih Aina dengan mata berkaca.


Aksa mengangguk lemah dan membenamkan wajahnya di dada Aina, dia ingin menangis tapi tak sanggup mengeluarkan air matanya. Dia tidak ingin Aina terbebani hingga akhirnya semakin berat melepas kepergiannya.


"Aksa janji, Aksa akan jadi pria hebat seperti Papa. Mama jaga diri dengan baik, jangan sampai sakit! Aksa sayang sama Mama,"


Pemandangan haru itu tiba-tiba membuat empat kurcaci di belakang sana terenyuh. Mereka berempat menangis dan berdiri di belakang sandaran jok sambil memegangi bahu Aina dan juga Aksa.


Setengah jam berlalu, mobil yang dikendarai Baron dan Tobi sudah menepi di depan pintu bandara. Mereka semua turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam sana.


Tobi dan Baron membawakan koper Aksa, sedangkan Aksa sendiri masih berjalan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Aina.


Setelah Arhan melakukan check-in, Baron dan Tobi menyerahkan koper Aksa kepada petugas lalu mereka semua menunggu di kursi tunggu.


Tidak lama, terdengar suara petugas yang menyerukan nama Arhan dan Aksa untuk masuk ke dalam area penerbangan karena pesawat akan take off dalam beberapa menit ke depan.


Aina kembali memeluk Aksa dan menciumnya bertubi-tubi, lalu beralih memeluk Arhan saat Aksa berpamitan kepada yang lainnya. Tangisan semua orang pecah saat Aksa dan Arhan menjauh dari mereka. Aina sendiri sampai terisak melepas kepergian putra dan suaminya itu.


"Daaaaaah..."


"Sampai jumpa lagi..."

__ADS_1


Aksa berbalik dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Senyuman yang sangat manis hingga membuat semua orang ikut tersenyum meski penuh dengan air mata.


TAMAT...


__ADS_2