
Gelap berganti terang, matahari mulai muncul seiring siulan burung-burung yang bernyanyi dengan merdu. Sepasang mata terbuka saat bias cahaya menyentuh wajahnya.
"Hendru, kamu udah bangun?" tanya Nayla sambil menatap lekat wajah suaminya.
"Udah dari tadi," sahut Hendru dengan senyuman khasnya, tampan sekali.
"Udah dari tadi?" Nayla mengulangi ucapan suaminya sembari mengerutkan dahi. "Kenapa gak bangunin aku?"
"Tidurmu nyenyak banget, mana tega aku membangunkan mu?" jawab Hendru dengan santainya, lalu mengecup kening Nayla yang masih berada dalam dekapannya.
Nayla menatap jarum jam yang tergantung di dinding, seketika matanya terbuka dengan lebar.
"Astaga Hendru, ini sudah jam 8 pagi. Kenapa tidak membangunkan ku lebih awal saja?" Nayla mendorong dada Hendru dan segera bangkit dari pembaringannya.
"Loh, kok nyalahin aku?" tanya Hendru yang ikut bangkit dari tidurnya.
"Bukan nyalahin, ah sudahlah! Aku mandi dulu," Dengan cepat Nayla melompat dari tempat tidur, lalu berlari ke kamar mandi dengan tubuh yang masih polos usai pertempuran semalam.
Hendru hanya bisa menatap sembari mengerutkan keningnya, lalu mengacak rambutnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Nayla keluar dengan handuk yang melingkar di sebagian tubuhnya. Membuka pintu lemari dan bergegas mengenakan pakaian.
"Kenapa buru-buru?" tanya Hendru yang masih bingung melihat kelakuan istrinya.
"Jangan banyak tanya, cepat mandi!" suruh Nayla. "Malu tau, udah tinggal numpang, eh bangunnya kesiangan pula." imbuh Nayla tanpa menoleh ke arah suaminya yang masih duduk di sisi ranjang.
Usai mengenakan pakaian, Nayla duduk di meja rias. Menyisir rambut basahnya yang terurai panjang, lalu melukis lipstik di bibirnya. Sementara Hendru sudah masuk ke kamar mandi setelah kenyang mendengar omelan istrinya.
Di kamar yang berbeda, Arhan dan Aina nampak sudah rapi dan wangi. Begitupun dengan Aksa yang kian hari kian menunjukkan ketampanannya. Masih kecil saja sudah segitu tampannya, bagaimana jika dewasa nanti? Pasti akan menjadi rebutan para wanita cantik di luar sana.
"Aksa gak ne*nen dulu?" tanya Aina sebelum membawa putranya keluar dari kamar.
"Dak au," jawab Aksa dengan comelnya.
Sejak beberapa hari terakhir Aksa memang sudah jarang meminta ASI pada sang mama. Entah karena kehamilan Aina, atau yang lainnya. Aina terkadang bingung, sementara produksi ASI nya masih melimpah ruah. Semalam saja sudah membuat Aina tersiksa menanggung sakit.
"Kok gak mau sih sayang? Aksa belum waktunya berhenti ne*nen loh." lirih Aina.
__ADS_1
"Dak au, aak." Maksud Aksa, dia gak mau karena jijik.
"Loh, kok gitu sih sayang?" Aina mengerutkan keningnya bingung.
"Hahahaha,"
Seketika tawa Arhan menggelegar mendengar ocehan putranya. "Anak pintar, berarti mulai hari ini ne*nen nya buat Papa aja ya! Iya kan Ma?"
"Plak!"
Pukulan keras mendarat bebas di lengan Arhan. "Sayang, kok suaminya dipukulin sih? Jahat banget," keluh Arhan sembari mengusap lengannya yang terasa sedikit panas.
"Makanya kalau ngomong tuh dipikirin dulu. Depan anak ngomongnya begitu, apa urat malu Abang udah putus?" kesal Aina dengan bibir mengerucut.
"Haha, cantik banget istri Abang kalau begini. Jadi pengen nih," goda Arhan sembari menarik hidung Aina gemas.
"Abang...! Bisa gak sih sedikit berwibawa di depan anak. Kasih contoh tuh yang baik, bukan pecicilan seperti ini!" geram Aina, lalu mencubit pinggang Arhan sekuat tenaga.
"Aduh, au, ampun sayang. Sakit," rintih Arhan dengan mata terpejam menahan panas di kulitnya.
"Rasain, dasar suami gak ada akhlak!" gerutu Aina.
"Eh, mau ngapain?" Arhan dengan cepat mengambil alih Aksa dari gendongan Aina.
Sejak mengetahui kehamilan istrinya, Arhan memang sengaja melarang Aina melakukan pekerjaan berat, tidak terkecuali menggendong Aksa sekalipun.
Bukan berniat menjauhkan Aksa dari Aina, tapi semata-mata untuk menjaga kandungan istrinya. Dia takut Aksa kebanyakan bergerak dan tak sengaja menendang perut sang mama. Bahkan di kamar mereka pun sudah disediakan satu ranjang lagi bila Aksa ingin tidur bersama mereka.
Kini ketiganya sudah tiba di ruang makan. Setelah menarik kursi untuk Aina, Arhan pun mendudukkan Aksa di kursinya. Dia pun duduk setelahnya.
Tidak lama, Leona dan Airlangga datang dan bergabung bersama mereka.
"Pengantin baru kita belum turun?" seloroh Leona yang sudah duduk di kursinya.
"Ah, Mama nih kayak gak pernah muda aja. Masih hangat tau Ma," jawab Aina, lalu terkekeh dengan sendirinya.
"Tek!"
__ADS_1
Aina terdiam sembari mengusap keningnya, bisa-bisanya Arhan menjitak keningnya begitu saja.
"Apaan sih Bang? Sakit tau," keluh Aina dengan bibir mengerucut kesal.
"Makanya ngomong tuh dipikir dulu! Udah jelas ada mertuanya di sini, gak malu ngomong asal begitu?" geram Arhan dengan tatapan tajam.
"Maaf, Aina hanya bercanda doang kok." lirih Aina sembari menekuk wajahnya.
"Sudah, kalian ini apa-apaan sih? Gak malu sama anak?" kata Airlangga menengahi.
"Abisnya bibir menantu Papa nih usil banget. Pagi-pagi udah ngelantur aja pikirannya," ucap Arhan masih dengan tatapan yang sama.
"Sudah, lebih baik kita sarapan dulu!" timpal Leona.
Beberapa menit berselang, nampak Hendru dan Nayla menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tangan yang tadinya saling menggenggam, seketika terlepas saat tiba di meja makan.
"Pagi Ma, Pa," sapa Nayla dan Hendru bersamaan.
"Pagi, ayo duduk! Makan sekalian," sahut Airlangga dan Leona bersamaan pula.
Baru saja Nayla dan Hendru duduk di kursi mereka, mulut Aina kembali berkicau dengan santainya. "Cie, cie pengantin baru akhirnya turun juga. Nyenyak banget ya tidurnya semalaman,"
"Deg!"
Seketika wajah Nayla bersemu kemerahan, kesal bercampur malu. Apalagi mengingat ada Airlangga dan Leona diantara mereka.
"Ya Tuhan, Aina kesambet apa sih? Apa rem nya udah blong?" geram Arhan yang lagi-lagi menatap Aina dengan tajam.
Aina membulatkan mata dengan telapak tangan yang sudah berada di mulutnya. Dia sendiri juga bingung, kenapa akhir-akhir ini suka sekali meracau gak karuan.
"Hehe, maaf ya Bang. Ma, Pa, Aina izin ke kamar duluan ya!" Aina segera bangkit dari duduknya setelah menghabiskan sarapan yang ada di piringnya.
"Arhan, kamu jangan berlebihan gitu! Tidak ada yang salah dengan ucapan istrimu, mungkin dia sedang ingin bercanda. Setiap wanita hamil itu perubahannya berbeda, bisa jadi pengaruh hormon. Untung saja dia tidak menyuruhmu tidur di luar, Papa yang sudah merasakannya." jelas Airlangga sembari menoleh ke arah Leona.
"Hahaha, Mama ingat itu. Kasihan banget Papamu waktu mohon-mohon minta dibukakan pintu." Leona malah tertawa terbahak-bahak mengingat masa-masa itu.
Arhan terdiam menelaah kata-kata kedua orang tuanya barusan. Benarkah begitu?
__ADS_1
Ah, jangan sampai dia merasakan hal yang sama. Mana bisa matanya terpejam tanpa Aina di sampingnya.
Arhan menyudahi makannya, dengan segera dia meninggalkan meja makan setelah menitipkan Aksa pada sang mama. Jangan sampai Aina merajuk dan menyiksa dirinya.