
Usai sarapan, Arhan berpamitan kepada istrinya. Aina mencium punggung tangan suaminya, Arhan membalasnya dengan memberikan kecupan sayang di kening Aina.
"Abang pergi dulu ya. Sore nanti dandan yang cantik untuk Abang!" ucap Arhan dengan tatapan menggoda.
"Memangnya sekarang Aina tidak cantik?" sahut Aina sembari memanyunkan bibirnya.
"Cantik sayang, siapa bilang istri Abang tidak cantik? Pokoknya setiap pulang kerja Abang mau lihat Aina sudah rapi, cantik dan wangi." Arhan mendekati bibir Aina, lalu mengesap nya .
"Baiklah, tapi pulangnya jangan lama-lama ya!" pinta Aina sembari melebarkan senyumannya.
"Kenapa? Aina mau lagi?" goda Arhan sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Husst, apaan sih Bang? Malu tau, kalau ada yang dengar gimana?" Aina melotot tajam.
"Biarkan saja, Abang tidak peduli!" Arhan terkekeh.
"Aina tenang saja, nanti malam Abang kasih double! Siap-siap saja!"
Arhan kembali mengesap bibir Aina. Setelah puas, dia pun masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya. Aina membalas lambaian tangan Arhan sembari mengulum senyumannya.
...****************...
Di ruang keluarga, Aina duduk di samping Leona yang tengah bermain dengan Aksa. Keduanya kompak menjaga Aksa yang kini semakin aktif.
Aksa sudah bisa memiringkan tubuhnya, dia mulai peka terhadap berbagai macam ransangan. Setiap ada yang merayunya, dia selalu tertawa dengan lucunya.
"Aina, Mama masih kepikiran dengan kata-kata kamu kemarin. Apa benar kamu mengizinkan Arhan menikah lagi?" tanya Leona menautkan alisnya.
"Tidak Ma, mana mungkin Aina mau dimadu?" jawab Aina, kemudian terkekeh dengan sendirinya.
"Loh, bukankah kemarin kamu bilang mau?" Leona tampak semakin kebingungan.
"Aina hanya meluruskan ucapan Abang. Eh, taunya Abang sendiri yang kena batunya." jelas Aina.
"Kena batunya bagaimana?" tanya Leona penasaran.
"Aina tau Abang sengaja membuat Aina cemburu. Karena Aina mengatakan siap dimadu, Abang jadi sedih sendiri." Senyuman Aina melebar mengingat kejadian kemarin.
"Mama tau gak, semalam wajah Abang terlihat menyedihkan sekali. Lucu deh pokoknya, Aina sampai kesulitan menahan tawa. Salah sendiri mempermainkan emosi Aina." Aina kembali terkekeh, tak ada canggung sedikitpun meski di depan mertuanya sekalipun.
"Astaga Aina, jadi kamu sengaja mempermainkan suamimu. Mama pikir kamu serius loh Nak, mana ada seorang istri yang mau dimadu oleh suaminya. Jantung Mama hampir copot mendengar ucapan kamu kemarin."
__ADS_1
Leona ikut terkekeh mendengar pengakuan Aina, kemudian mengusap kepala menantunya dengan penuh kasih sayang. Aina pun merebahkan kepalanya di lengan Leona.
"Apa kamu bahagia Nak?" tanya Leona layaknya seorang ibu kandung.
"Aina bahagia Ma, sangat bahagia. Aina bersyukur mempunyai suami seperti Abang. Aina juga bersyukur mendapat mertua seperti Mama. Aina seperti merasakan kasih sayang dari orang tua Aina sendiri." Mata Aina berkaca-kaca mengungkapkan itu.
"Syukurlah Nak, Mama senang mendengarnya. Apapun yang terjadi, kami adalah orang tua kamu. Jangan sungkan sama Mama dan Papa!" Leona mengusap punggung Aina, lalu mengecup pucuk kepala menantunya dengan sayang.
...****************...
Di kantor, Arhan begitu bersemangat di hari pertamanya kerja setelah menikah. Wajahnya berseri-seri, dia tak hentinya menebar senyum kepada setiap karyawan yang menyapanya.
Sangat berbeda dengan Arhan yang dulunya kaku dan pemarah. Sepertinya Aina sudah berhasil merubah kepribadian suaminya menjadi lebih baik. Cinta mengubah segalanya.
Setelah jam makan siang usai, Arhan kembali ke kantor bersama Hendru. Seseorang tiba-tiba datang dan masuk ke ruangannya dengan leluasa.
Arhan membuka matanya lebar, keningnya mengkerut dengan rahang mengerat kuat. Suasana hatinya yang tadi adem ayem, kini menjadi panas melihat wajah wanita yang sangat dia benci itu.
"Siang Tuan Arhan, boleh aku duduk?" ucap wanita itu sembari tersenyum miring.
"Untuk apa kamu ke sini? Aku sedang sibuk. Jika tidak ada kepentingan, lebih baik tinggalkan ruangan ini!" geram Arhan meninggikan suaranya.
"Jangan kasar gitu dong! Apa kamu tidak merindukan aku?"
Tangannya bergerak menyentuh pundak Arhan, lalu merabanya hingga turun ke dada bidang Arhan.
Sontak saja Arhan terkejut, lalu menepis tangan wanita itu dengan kasar.
"Jangan melewati batasan mu!" bentak Arhan, lalu bangkit dari duduknya.
Saat hendak melangkah pergi, wanita itu mengejarnya, lalu memeluknya dari belakang.
"Arhan, aku sangat merindukanmu. Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?" pinta wanita itu, tangannya bergerak meremas dada Arhan.
Arhan semakin naik pitam, kemudian mencengkram kuat tangan wanita itu, lalu menyentaknya dengan kasar. Arhan berbalik dengan tatapan sangat tajam.
"Wanita tidak tau diri! Apa kau tidak punya malu menyentuhku seperti tadi?" bentak Arhan meninggikan suaranya.
"Kenapa harus malu? Dulu kita bahkan melakukan hal yang lebih dari itu." ucap wanita itu.
"Cih, dasar wanita gila! Jangan membahas cerita dulu padaku! Semua sudah terkubur dalam, tidak ada yang tersisa sedikitpun!" jelas Arhan mengeratkan rahangnya kuat.
__ADS_1
"Kenapa? Dulu kamu sangat mencintaiku. Tidak mungkin rasa itu hilang begitu saja, aku tau kamu masih mencintaiku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita!" pinta wanita itu sembari meraih tangan Arhan.
"Terlambat, kesempatan itu sudah tak ada lagi. Berkali-kali aku memberimu kesempatan, berkali-kali juga kamu mengkhianati ku." tekan Arhan, kemudian menepis tangan wanita itu.
"Kali ini tidak lagi, aku akan bercerai dengan suamiku. Tolong Arhan, satu kesempatan saja!" Wajah wanita itu memelas.
"Percuma memohon padaku! Kau pikir aku suka memungut barang yang sudah aku buang ke tempat sampah?" Arhan tersenyum licik, lalu memalingkan wajahnya.
Arhan meninggalkan wanita itu di ruangannya, amarahnya memuncak melihat wanita yang sangat dia benci itu. Kenapa dia kembali hadir setelah Arhan menemukan kebahagiaannya yang baru.
Arhan masuk ke ruangan Hendru, dia menghempaskan pintu dengan kasar. Membuat Hendru terlonjak dengan mata melotot tajam.
"Tuan, apa kamu ingin membuatku jantungan?" kesal Hendru meninggikan suaranya.
"Diam Hendru! Mau mulutmu aku sumpal?" Arhan mengacungkan kepalan tangannya ke wajah Hendru, mata elangnya terlihat semakin tajam.
"Astaga, apa yang terjadi dengan orang ini? Tidak bisa ditebak," batin Hendru menggerutu.
Baru saja Arhan terlihat begitu bahagia dengan senyumannya yang menawan. Tiba-tiba saja keadaan berbalik 360 derajat. Membuat Hendru bingung sembari menautkan alisnya.
Arhan menghempaskan tubuhnya di sofa. Hembusan nafasnya terdengar kasar. Raut wajahnya tampak masam dengan rahang mengerat kuat.
"Kenapa wanita itu datang mengganggu ketenangan ku?" tanya Arhan, Hendru dapat mendengarnya dengan jelas.
Hendru bergeming, dia malas meladeninya. Ujung-ujungnya dia juga yang menjadi sasaran kemarahan Arhan.
"Hei, apa kau sudah tuli? Tidak dengar aku bicara padamu?" bentak Arhan meninggikan suaranya.
"Apa Tuan sedang bicara denganku?" tanya Hendru sembari menoleh ke arah sofa.
"Tentu saja aku bicara padaku. Apa ada orang lain di ruangan ini?" ketus Arhan.
"Siapa tau saja Tuan sedang bicara dengan makhluk halus? Bukankah tadi Tuan menyuruhku diam?" Hendru tersenyum miring, membuat Arhan semakin kesal.
"Brengsek! Kau pikir aku makhluk astral?" geram Arhan.
"Bisa jadi, atau mungkin Tuan memiliki kepribadian ganda? Tadi saja senyum-senyum sendiri, kenapa sekarang malah marah-marah sendiri?" Hendru menautkan alisnya.
"Apa aku perlu membawamu ke psikiater?" tanya Hendru meledek.
"Sialan kau!"
__ADS_1
Arhan meraih bantal yang terletak di sofa, lalu melemparnya ke wajah Hendru.