
Waktu terus berlalu seiring kebahagiaan yang terus tercipta di tengah keluarga besar Airlangga. Rumah yang dulunya hampa kini menjadi ramai penuh kasih dan cinta.
Beberapa jam menuju akad, Nayla sudah duduk di meja rias dengan seorang MUA yang membantunya berdandan. Wajah cantik Nayla nampak tegang menahan ketakutannya. Ada rasa was-was menuju pergantian status yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
"Aina, aku rasanya gak sanggup menghadapi ini. Bisa-bisa, aku mati berdiri sebelum acara berlangsung." gumam Nayla yang masih duduk di depan cermin, sementara MUA yang tadi mendandaninya sudah berlalu meninggalkan kamar.
"Jangan takut sayang, dibawa santai aja ya! Dulu aku juga sama sepertimu, percayalah! Setelah ini semuanya akan indah, kamu bisa bernafas lega bersama suami tercinta." bujuk Aina yang berupaya menenangkan hati Nayla.
Di bawah sana para tamu mulai berdatangan, tidak terkecuali dengan ayah dan ibu sambung Nayla. Ada adiknya juga yang bernama Kayla.
Sejenak gadis itu memandangi kediaman Airlangga penuh kekaguman, tak menyangka kakak tirinya yang hanya seorang penyanyi cafe akan menikah dengan pria yang begitu kaya.
Sepengetahuan keluarga Nayla, gadis itu akan menikah dengan putra si empunya rumah. Tak ada yang tau kalau Hendru hanyalah anak angkat yang diasuh dan dianggap layaknya keluarga sendiri, putra kedua dari pasangan Airlangga dan Leona.
"Bu, beruntung sekali si Nayla itu. Pelet apa yang dia pakai sehingga bisa menikahi pria kaya seperti Hendru?" bisik Kayla kepada sang ibu.
"Entahlah Nak, Ibu juga gak tau. Setidaknya ini akan menguntungkan bagi kita, Ibu akan berbesan dengan keluarga kaya raya. Kau juga akan jadi adik ipar Hendru, kita bisa memanfaatkan situasi ini. Kau tidak ingin ikut menikmati semua ini?" jawab Mina dengan suara pelan agar tak di dengar suaminya.
"Tentu saja aku ingin, aku sudah bosan hidup melarat terus. Aku juga ingin memakai pakaian bagus dan mahal, makan makanan enak dan berbelanja sesuka hati." sambung Kayla dengan senyuman licik. Dia sebenarnya tak rela melihat Nayla bahagia, tapi mau gimana lagi. Jika menguntungkan baginya kenapa tidak.
"Kalau begitu diam saja, jangan banyak bicara!" timpal Mina yang berusaha terlihat santai di depan semua orang.
Hendru baru saja keluar dari kamar didampingi Arhan. Karena pria itu tak mempunyai keluarga satupun, jadi keluarga Arhan lah yang menjadi pendampingnya. Airlangga bahkan tak sungkan memberikan namanya untuk Hendru karena memang Hendru sudah merupakan bagian terpenting di hidupnya.
Dari kejauhan, mata Hendru tiba-tiba menangkap kedatangan calon mertuanya. Setelah mengatakannya pada Arhan, keduanya menyusul untuk menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Pak, Bu." sapa Hendru dengan ramah. Dia mengulurkan tangan menyalami keduanya dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
"Terima kasih Nak Hendru, Nayla mana?" tanya Pak Basir sembari mengusap kepala Hendru.
"Nayla masih di atas Pak, sebentar lagi juga turun." Wajah Hendru sedikit menegang mengingat sebentar lagi akan berjabat tangan lagi dengan Basir, tentunya dalam keadaan yang berbeda.
"Oh ya, kenalkan Pak. Ini Arhan, bo-"
"Arhan, kakaknya Hendru." Belum selesai Hendru bicara, Arhan sudah mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya sebagai kakak Hendru. Seketika mata Hendru membulat sempurna dengan kening sedikit mengkerut.
__ADS_1
Setelah Arhan menyalami ketiganya, Hendru menarik lengan Arhan hingga mendekat.
"Apaan sih?" bisik Hendru geram.
"Diam saja!" bisik Arhan sembari menyeringai.
"Oh, jadi kalian berdua kakak beradik. Hehehe, sama-sama tampan. Apa kamu sudah menikah?" tanya Mina cengengesan.
"Bu, tolong jaga sikapmu! Untuk apa menanyakan itu?" Basir menatap istrinya dengan tajam.
"Maaf ya Nak Arhan, Ibunya Nayla memang agak sedikit pecicilan." ucap Basir tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Pak, santai saja!" jawab Arhan dengan senyumnya yang menawan.
"Kalau begitu silahkan masuk Pak, Bu, di dalam sudah ada tempat untuk kalian." timpal Hendru mengajak ketiganya masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mereka.
Setelah ketiganya duduk, Hendru juga ikut duduk di altar pernikahan. Kini wajahnya terlihat semakin gelisah, gugup memikirkan ijab yang sebentar lagi akan dilangsungkan. Berharap dia bisa mengucap ijab dalam satu tarikan nafas.
Berhubung semua sudah berkumpul, Airlangga meminta Leona menjemput Nayla di kamarnya. Bapak penghulu juga sudah standby di sana, tak ada lagi yang menghalangi jalannya acara.
"Iya Pa, Mama ke atas dulu ya." Leona meninggalkan tempat duduknya dan melangkah menuju anak tangga.
Setibanya di atas, Leona mendorong pintu yang sudah terbuka sebelumnya, lalu melenggang masuk sembari tersenyum kecil.
"Anak Mama cantik sekali. Tak salah Hendru memilihmu, kalian berdua sangat serasi." sanjung Leona memuji kecantikan Nayla, lalu mencubit pipi Nayla gemas.
"Ah, Mama jangan berlebihan gitu! Semua ini karena make up Ma," sahut Nayla tersipu malu, pipi yang tadinya sudah merah semakin memerah mendengar sanjungan Leona.
"Jangan merendah mulu! Yang dikatakan Mama memang benar, kamu sangat cantik. Beruntung Hendru menjadi suamimu," timpal Aina yang membuat wajah Nayla semakin mengerucut menahan malu.
Seketika, gemuruh gelak tawa menggelegar di kamar pengantin Nayla. Ketiga wanita cantik itu tak kuasa menahan diri, setidaknya meredakan kecanggungan yang bersarang di hati Nayla saat ini.
"Sudah, sudah, tertawanya dilanjutkan nanti saja! Ayo turun, semua sudah menunggu!"
Nayla bangkit dari duduknya, penampilan gadis itu sungguh membuat pangling mata memandang. Kebaya putih panjang dengan taburan swarovski yang berkilauan membuat tampilan ratu sehari itu semakin anggun mempesona. Ditambah make up flawless yang membuat kecantikannya kian terpancar, rambut yang disanggul dengan sedikit gelombang di sisi telinga, lalu mahkota kecil yang menghias di ujung kepala. Sungguh memancarkan aura indah yang tak pernah terlihat sebelumnya.
__ADS_1
"Ayo cepat! Mama yakin Hendru bisa mati berdiri melihat calon istrinya secantik ini." Lagi-lagi sanjungan itu melompat begitu saja dari mulut Leona.
Sesampainya di bawah tangga, semua mata menoleh ke arah Nayla. Tak terkecuali dengan Hendru, matanya seakan tak mau berkedip menyaksikan kecantikan calon istrinya yang memukau. Tak menyangka ternyata Nayla lebih cantik dari yang dia lihat selama ini. Seketika, tenggorokan Hendru menjadi kering usai meneguk ludahnya berkali-kali.
"Sabar, nanti juga bisa menikmati istrimu sepenuhnya." goda Arhan sembari tersenyum kecil. Ingin sekali dia tertawa lantang melihat raut wajah Hendru yang membagongkan, namun tak mungkin mengingat banyaknya orang diantara mereka. Bisa-bisa wibawa Arhan turun di depan semua orang.
Kini Nayla sudah duduk di samping Hendru. Keduanya saling menatap untuk sesaat, sedetik kemudian saling membuang pandangan dan fokus pada penghulu dan Basir yang sudah duduk di hadapan mereka.
"Bagaimana semuanya? Apa ijab ini bisa dimulai?" tanya Pak penghulu yang menuntun pernikahan tersebut.
"Ya," jawab semua orang bersamaan.
Hendru meneguk ludahnya sembari mengusap wajah dengan kasar. Wajahnya mulai memerah, namun dia berusaha keras menahan diri agar tetap tenang di hadapan semua orang. Saat Basir mengulurkan tangan, Hendru pun menyambutnya dengan punggung berdiri tegak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Syafira binti Basir Waluyo dengan mas kawin tersebut, tunaiiiiii!"
"Sah...!"
"Sah...!"
"Sah...!" Kata sah bergemuruh memenuhi ruangan tersebut, semua orang tersenyum bahagia mendengar ucapan Hendru yang hanya satu kali tarikan nafas. Hendru pun menghela nafas lega sembari mengusap wajahnya.
Setelah penghulu melantunkan doa, keduanya diminta menandatangani surat nikah. Setelah itu Hendru memasangkan cincin di jari manis Nayla, begitupun sebaliknya. Nayla menjabat tangan Hendru dan menciumnya sebagai tanda baktinya kepada pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Hendru pun mencium kening Nayla sebagai bentuk rasa sayangnya.
Ruangan tersebut kembali menggelegar, kali ini karena suara tepuk tangan yang bergemuruh dari semua orang.
"Selamat ya, kalian sudah resmi menjadi suami istri." Setelah mengatakan itu, penghulu undur diri dan berpamitan meninggalkan acara.
"Selamat Nayla, akhirnya...," Aina memeluk Nayla erat, bahagia karena kini Nayla sudah melepas masa lajangnya.
"Selamat Hendru, jaga sahabatku dengan baik. Awas aja kalau berani menyakitinya!" celetuk Aina yang membuat semua orang tertawa.
"Bagaimana cara menyakitinya? Kita kan tinggal di rumah yang sama, kecuali kalau Papa mengijinkan kami pindah ke apartemen." sahut Hendru sembari menatap ke arah Airlangga.
"No, no, no! Enak saja mau pindah, kau pikir rumahku ini tempat persinggahan? Dasar anak durhaka!" seloroh Airlangga dengan wajah seriusnya, kemudian tertawa lepas diiringi semua orang.
__ADS_1