Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)

Gadis Bayaran Tuan Duren (Duda Keren)
GBTD BAB 138.


__ADS_3

Hari terus berganti, tak terasa sudah enam tahun waktu berlalu. Kini Aksa sudah duduk di bangku kelas tiga SMP dan baru saja selesai menghadapi ujian akhir sekolah.


Sore itu Aksa dan temannya baru saja pulang dari rumah guru mereka. Saat menunggu Baron di persimpangan jalan, tiba-tiba mereka dihadang oleh dua orang preman yang tidak dikenal.


Awalnya Aksa dan dua orang temannya berhasil memberontak, namun tanpa diduga salah seorang temannya ditikam menggunakan belati saat menyelamatkannya. Hal itu membuat temannya yang bernama Rido terkapar bersimbah darah. Seketika mata Aksa memerah dibakar api kemarahan yang memuncak.


Kevin yang merupakan salah satu diantara mereka langsung berlari membantu Rido, tapi tidak dengan Aksa. Dia mengeratkan rahang, percikan api berkobar-kobar di area matanya seperti monster yang siap menghancurkan musuh dalam sekejap.


Tanpa berpikir, Aksa langsung saja menghantam salah seorang preman yang masih memegang belati di tangannya. Dia mengeluarkan kemampuan bela diri yang didapat dari Baron dan Tobi. Saat preman itu terjatuh, Aksa dengan cepat merampas belati tersebut dan mencabik-cabik tubuh preman itu tanpa ampun.


Percikan darah menyembur bak pipa bocor dan memantik wajah Aksa, namun hal itu belum serta merta membuat Aksa puas. Dia kembali menikam pria yang sudah tak berdaya itu sampai akhirnya meregang nyawa di tangannya.


Melihat keberingasan Aksa yang seperti binatang buas, preman lainnya langsung berlari menyelamatkan diri. Sayangnya Aksa tidak akan semudah itu membiarkannya lepas begitu saja. Segera Aksa mengejarnya seperti cheetah yang tengah memburu mangsanya.


Di waktu yang bersamaan Baron datang bersama Tobi, mereka berdua terkejut melihat kerumunan orang yang sedang mengelilingi Rido dan preman yang sudah tak bernyawa itu.


"Permisi, tolong beri saya jalan!"


Baron yang memiliki tubuh tinggi besar berhasil menerobos masuk ke dalam kerumunan dan disusul oleh Tobi di belakangnya.


Sontak saja keduanya tercengang dengan mata membulat sempurna. Keduanya mengenali Rido dan Kevin, tapi tidak mengenal pria yang sudah terbujur kaku tak bernyawa itu.


"Kevin... Apa yang terjadi?" tanya Baron sambil berjongkok.


"Om Baron, tolong Rido dulu Om! Dia sudah kehabisan banyak darah." jawab Kevin dengan mata berkaca, bahkan suaranya terdengar bergetar saking takutnya terjadi apa-apa dengan Rido.


"Iya iya,"

__ADS_1


Sebelum Baron memberi perintah, Tobi sudah mengerti apa yang harus dia lakukan. Tobi membuka jaket yang dia kenakan dan melilitkannya di pinggang Rido lalu menggendongnya.


Baron dan Kevin langsung berdiri dan membukakan pintu mobil. Saat Kevin ingin masuk, Baron mencegat tangannya dan memintanya untuk tinggal.


"Kamu di sini saja sama Om," ucap Baron.


Kevin mengangguk dan urung memasuki mobil, lalu menutup pintu.


"Pergilah, nanti kabari aku kalau Rido sudah ditangani!" titah Baron kepada Tobi.


Segera Tobi menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah menghilang dari pandangan Baron dan Kevin.


Kevin tiba-tiba terperanjat saat mengingat Aksa yang tadi masih bermain kejar-kejaran dengan preman yang mengganggu mereka.


"Om Baron, Aksa Om." ucap Kevin cemas.


"Aksa masih mengejar preman itu. Di-Dia..." Kevin ragu-ragu melanjutkan ucapannya.


Baron semakin kebingungan melihat gelagat Kevin yang aneh, seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan tapi tidak berani mengatakannya.


"Om, ini semua perbuatan Aksa. Dia sangat marah saat Rido ditikam oleh pria ini. Dan sekarang Aksa mengejar preman lainnya. Aksa mungkin saja melenyapkannya seperti pria ini." bisik Kevin agar tak seorang pun mendengarnya. Kebetulan saat kejadian tadi tidak ada yang melihat. Hanya saja Kevin takut jika ada CCTV di kawasan itu.


Baron menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa pikir, dia langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi anak buahnya lalu meminta mereka untuk datang ke lokasi.


Usai menelepon, Baron menatap orang-orang yang masih berkumpul di sana dan berkata. "Kalian semua lebih baik membubarkan diri. Jika polisi datang, kalian bisa dijadikan saksi bahkan tersangka untuk kasus ini. Apa kalian mau masuk penjara?"


Baron sengaja menakut-nakuti mereka agar menjauh dari lokasi. Jika tidak begitu, sulit bagi Baron untuk bertindak. Untung saja ucapan Baron bisa mempengaruhi mereka hingga satu persatu mulai pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Saat orang-orang itu membubarkan diri, Baron dengan cepat memperhatikan CCTV yang berserakan di mana-mana. Dan saat anak buahnya berdatangan, Baron menginstruksikan mereka untuk menghapus semua rekaman yang ada di kawasan tersebut. Baron juga memerintahkan mereka untuk menyelesaikan mayat tersebut sebelum polisi datang.


Semua anak buah Baron yang berjumlah lebih kurang 15 orang itu mulai bergerak melakukan tugas mereka masing-masing. Beruntung tidak ada yang ngeh dengan apa yang mereka lakukan. CCTV berhasil diamankan, mayat pun berhasil disingkirkan dan noda darah yang berserakan di jalanan juga berhasil dibersihkan.


Tak jauh dari tempat itu, Aksa berhasil melumpuhkan seorang preman yang dia buru tadi. Namun sebelum mengantarkan pria itu ke neraka, Aksa mengulitinya dengan berbagai macam pertanyaan.


Tentu saja Aksa tidak sebodoh yang pria itu pikirkan, dia tidak akan membiarkan dalang dari kejadian ini berkeliaran bebas di luar sana.


Dari awal Aksa sudah tau kalau keselamatan keluarganya selalu terancam, apalagi Aina yang terus saja menjadi sasaran empuk mantan istri Arhan. Aksa sudah mendengar cerita itu dari Baron dan Hendru.


Sebagai seorang anak, Aksa tidak mungkin membiarkan sang mama menderita lagi. Aina adalah cintanya, wanita pertama yang ada di hidupnya. Aksa bahkan rela menukar nyawanya sendiri demi kebahagiaan dan keselamatan Aina.


Sesuai perkiraan Aksa, preman itu mengakui kalau penyerangan tadi adalah perintah dari seseorang. Seorang wanita yang selalu menutup wajahnya dengan masker, yang terlihat hanya mata dan bekas luka di alisnya saja.


Saat Aksa hendak menikam pria tersebut, suara Baron tiba-tiba mengalihkan perhatiannya. "Jangan Aksa!"


Aksa urung melakukan aksinya dan menoleh ke arah sumber suara. "Kenapa jangan? Dia pantas mati karena sudah melukai temanku!" Tatapan binatang buas Aksa membuat Baron menelan liurnya dengan susah payah.


Baron berusaha meredam emosi Aksa yang sudah sampai di langit ke tujuh. Sulit memang jika Aksa sudah tiba di ambang batas kesabarannya, tapi Baron tidak mau menyerah untuk meyakinkan putra sahabatnya itu.


"Aksa, jangan kotori tanganmu lagi Nak! Serahkan dia pada Kak Baron, biar Kak Baron yang mengurusnya!"


Suara Baron yang lunak tiba-tiba meluluhkan hati Aksa, selama ini Baron memang sudah seperti ayah baginya. Baron mengajarinya banyak hal yang tidak bisa dia dapatkan dari Arhan.


Arhan berusaha keras membentuk otak Aksa agar menjadi pria yang cerdas, disiplin dan bisa merajai dunia bisnis seperti dirinya. Sedangkan Baron melatih fisik Aksa agar bermental baja, kuat dan tak tertandingi.


Kedua pembelajaran itu diserap dengan sangat baik oleh Aksa. Meski baru menginjak usia lima belas tahun, tapi otak dan fisiknya sudah terlatih dengan sempurna.

__ADS_1


__ADS_2